Soppeng, Kabartujuhsatu.news,– Pertemuan dua tokoh dari daerah berbeda di Sulawesi menarik perhatian publik. A. Akbar, Presidium KAHMI Soppeng, dan Aris Prasetyo, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Kolaka Timur dari Partai Gerindra, bertemu dalam suasana santai di Malaka Cafe, Watansoppeng, Kamis (11/6).
Meski berlangsung sederhana dan penuh keakraban, pertemuan tersebut membahas berbagai isu strategis yang dinilai memiliki dampak besar terhadap masa depan pembangunan kawasan Indonesia Timur. Mulai dari penguatan sumber daya manusia, pembangunan daerah, ekonomi kerakyatan, hingga pentingnya membangun jejaring antardaerah menjadi topik utama dalam diskusi keduanya.
Kehadiran dua figur yang aktif dalam bidang organisasi dan pemerintahan itu menjadi gambaran bahwa komunikasi lintas wilayah masih menjadi salah satu instrumen penting dalam membangun sinergi pembangunan. Di tengah tantangan daerah yang semakin kompleks, pertukaran pengalaman dan gagasan dinilai mampu melahirkan solusi yang lebih efektif dan berkelanjutan.
A. Akbar mengatakan bahwa kemajuan suatu daerah tidak bisa lagi dibangun dengan pendekatan yang berjalan sendiri-sendiri. Menurutnya, setiap daerah memiliki pengalaman, keunggulan, dan strategi yang dapat menjadi referensi bagi daerah lain untuk mempercepat pembangunan.
"Daerah-daerah di Indonesia Timur memiliki tantangan yang hampir serupa. Karena itu, komunikasi dan kolaborasi harus terus diperkuat agar lahir inovasi dan kebijakan yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa jejaring antardaerah merupakan modal penting dalam menciptakan ruang kerja sama yang lebih luas, baik dalam sektor pendidikan, ekonomi maupun pengembangan kepemimpinan generasi muda.
Dalam diskusi tersebut, A. Akbar juga menyoroti pentingnya membangun sumber daya manusia yang unggul sebagai fondasi utama pembangunan. Menurutnya, investasi terbesar yang harus dilakukan daerah saat ini adalah investasi pada kualitas manusia melalui pendidikan, pelatihan, dan pengembangan kapasitas generasi muda.
Sementara itu, Aris Prasetyo menegaskan bahwa pembangunan daerah membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Menurutnya, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan masyarakat, akademisi, organisasi kemasyarakatan, maupun kelompok intelektual yang memiliki kepedulian terhadap kemajuan daerah.
Ia menilai organisasi alumni seperti KAHMI memiliki posisi strategis dalam memberikan masukan dan gagasan konstruktif bagi pembangunan. Dengan jaringan yang luas dan sumber daya manusia yang beragam, organisasi alumni dapat menjadi mitra penting pemerintah dalam menyusun berbagai program pembangunan yang tepat sasaran.
"Kolaborasi antara tokoh masyarakat, akademisi, organisasi, dan pemangku kebijakan sangat penting. Ketika semua elemen bergerak bersama, pembangunan akan lebih cepat dan manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat," kata Aris.
Selain membahas isu pembangunan, keduanya juga berdiskusi mengenai potensi kerja sama dalam penguatan ekonomi kerakyatan. Mereka sepakat bahwa sektor usaha mikro, kecil, dan menengah harus mendapatkan perhatian serius karena menjadi salah satu tulang punggung perekonomian masyarakat di daerah.
Penguatan akses permodalan, peningkatan kualitas sumber daya pelaku usaha, serta pemanfaatan teknologi digital dinilai menjadi langkah penting untuk meningkatkan daya saing ekonomi masyarakat, khususnya di wilayah Indonesia Timur.
Tak hanya itu, isu kepemimpinan generasi muda juga menjadi perhatian dalam pertemuan tersebut. Keduanya berpandangan bahwa daerah membutuhkan lebih banyak pemimpin muda yang memiliki kapasitas, integritas, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Generasi muda dinilai memiliki peran penting dalam menghadapi tantangan global yang semakin dinamis. Karena itu, ruang-ruang pembinaan, pendidikan kepemimpinan, dan penguatan karakter harus terus diperluas agar lahir pemimpin masa depan yang mampu membawa daerah menuju kemajuan.
Pertemuan yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan itu menjadi bukti bahwa silaturahmi antartokoh daerah bukan sekadar agenda pertemuan biasa. Lebih dari itu, pertemuan tersebut menjadi ruang bertukar gagasan dan membangun komitmen bersama untuk memperkuat kerja sama demi kemajuan kawasan.
Di tengah berbagai tantangan pembangunan yang dihadapi daerah saat ini, komunikasi yang terbuka dan kolaboratif menjadi salah satu kunci untuk menemukan solusi yang lebih efektif. Karena itu, pertemuan seperti yang dilakukan A. Akbar dan Aris Prasetyo dinilai penting untuk terus diperkuat.
"Kolaborasi adalah kunci. Daerah akan maju ketika para pemimpinnya membuka ruang dialog, berbagi pengalaman, dan membangun jejaring untuk kepentingan masyarakat yang lebih luas," tegas A. Akbar.
Pertemuan di Malaka Cafe Watansoppeng tersebut pada akhirnya menjadi simbol lahirnya semangat bersama dari dua daerah yang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama: mendorong percepatan pembangunan, memperkuat kualitas sumber daya manusia, dan mewujudkan Indonesia Timur yang lebih maju, berdaya saing, dan sejahtera.
(Red)
