Soppeng, Kabartujuhsatu.news, Pelayanan di RSUD Latemmamala kembali menuai sorotan tajam. Kali ini datang dari Legislator Fraksi PDI Perjuangan Kabupaten Soppeng, Ardi Doma, yang mengaku geram setelah menerima laporan adanya pasien yang disebut pulang tanpa membawa obat usai menjalani pemeriksaan di IGD rumah sakit tersebut.
Kejadian itu langsung memantik perhatian publik setelah percakapan antara Ardi Doma dan salah satu pihak rumah sakit beredar dan menjadi bahan perbincangan.
Dalam keterangannya, Ardi menilai pelayanan kesehatan seharusnya tidak membuat masyarakat kecewa, apalagi pasien yang datang berobat harus mengeluarkan biaya cukup besar.
“Jangan sampai masyarakat datang berharap sembuh, tetapi malah pulang dengan tangan kosong tanpa obat. Ini harus menjadi perhatian serius,” tegas Ardi.
Menurut informasi yang diterima Ardi, pasien tersebut diketahui menjalani pelayanan rawat jalan di IGD. Namun pihak keluarga mengaku tidak pernah mendapatkan penyampaian bahwa obat pasien harus diambil sendiri di depo IGD.
Yang membuat Ardi semakin prihatin, pasien disebut telah membayar biaya pelayanan hampir mencapai Rp1 juta.
“Dia bayar hampir satu juta, tapi keluarga mengaku tidak pernah disampaikan kalau masih ada obat yang harus diambil. Ini tentu menjadi pertanyaan besar dalam pelayanan,” ujarnya. Selasa (26/5/2026).
Setelah dilakukan penelusuran internal, pihak rumah sakit menjelaskan bahwa obat pasien sebenarnya tersedia dan sudah disiapkan di depo IGD. Hanya saja, menurut pihak rumah sakit, keluarga pasien diduga lupa mengambil obat tersebut.
“Ternyata obatnya ada ji, mungkin lupa singgah ambil di depo IGD,” ujar salah satu pihak rumah sakit dalam percakapan tersebut.
Namun penjelasan itu belum sepenuhnya menjawab kegelisahan Ardi. Ia mempertanyakan apakah keluarga pasien benar-benar sudah diberikan informasi yang jelas terkait pengambilan obat.
“Lupa atau memang tidak pernah diingatkan? Karena dua orang keluarga pasien yang mendampingi sama-sama mengaku tidak ada penyampaian,” kata Ardi.
Ia bahkan menilai petugas rumah sakit seharusnya bisa memberikan pelayanan lebih maksimal, termasuk membantu memastikan obat pasien benar-benar diterima sebelum pasien meninggalkan rumah sakit.
“Harusnya petugas atau suster yang bantu arahkan atau bawakan. Itu baru pelayanan,” kritiknya.
Percakapan tersebut kemudian berlanjut dengan nada lebih terbuka. Pihak rumah sakit akhirnya menyampaikan permohonan maaf dan mengakui pelayanan memang perlu ditingkatkan.
“Mohon maaf, semoga ke depan lebih baik,” balas pihak rumah sakit.
Ardi pun mengaku kritik yang disampaikannya bukan untuk menjatuhkan siapa pun, melainkan bentuk kepedulian terhadap pelayanan masyarakat.
Ia menegaskan bahwa rumah sakit pemerintah harus menjadi tempat masyarakat mendapatkan rasa aman dan pelayanan terbaik, bukan justru menambah beban warga yang sedang sakit.
“Kadang ada orang melayani tidak sesuai hati. Padahal semua ucapan dan perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT,” tutur Ardi.
Politisi dapil Marioriwawo itu juga meminta manajemen RSUD Latemmamala segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelayanan pasien, khususnya terkait komunikasi petugas, mekanisme pengambilan obat, serta pelayanan rawat jalan di IGD.
Belakangan ini, pelayanan RSUD Latemmamala memang mulai ramai diperbincangkan masyarakat. Beberapa warga mengeluhkan antrean panjang hingga persoalan ketersediaan obat tertentu.
Karena itu, Ardi berharap kejadian seperti ini menjadi bahan evaluasi serius agar kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan rumah sakit pemerintah tetap terjaga.
“Terpaksa saya bicara di media karena saya ingin pelayanan kita semakin baik. Jangan sampai masyarakat kecewa terus,” tutupnya.
(Red)
