Luwu Timur, Kabartujuhsatu.news,– Langkah mengejutkan datang dari Pemerintah Kabupaten Luwu Timur Provinsi Sulawesi Selatan. Di tengah tantangan sektor perikanan budidaya yang sempat melambat, pemerintah daerah secara resmi meluncurkan program besar-besaran penyaluran pupuk bersubsidi kepada 1.163 pembudidaya ikan.
Program ini digadang-gadang menjadi “game changer” yang akan mengangkat kembali produktivitas tambak masyarakat pesisir.
Peluncuran yang berlangsung di Desa Lakawali Pantai, Kecamatan Malili, Sabtu (25/04/2026), menjadi momentum penting kebangkitan sektor perikanan budidaya.
Sekretaris Daerah Luwu Timur, Dr. Ramadhan Pirade, menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin sektor perikanan daerah berjalan stagnan.
Menurutnya, pupuk bukan sekadar bantuan, tetapi katalis utama untuk mendorong pertumbuhan plankton alami yang menjadi sumber pakan ikan di tambak.
Jika distribusi berjalan tepat sasaran, produksi komoditas unggulan seperti bandeng diproyeksikan melonjak signifikan dalam beberapa bulan ke depan.
“Pemerintah daerah tidak hanya menyalurkan, tetapi memastikan distribusi tepat sasaran. Saya instruksikan Dinas Perikanan dan seluruh penyuluh mengawal ketat hingga ke level petani,” tegasnya.
Distribusi tahap pertama menyasar empat kecamatan pesisir dengan jumlah penerima yang tidak sedikit. Kecamatan Malili menjadi wilayah dengan penerima terbanyak, disusul Angkona, Wotu, dan Burau.
Pemerintah daerah menilai wilayah tersebut memiliki potensi tambak yang luas namun membutuhkan dukungan nutrisi untuk meningkatkan produktivitas.
Yang membuat program ini semakin mencuri perhatian adalah jumlah pupuk yang disalurkan. Pemerintah menyiapkan alokasi dalam skala besar yang disebut-sebut sebagai salah satu distribusi terbesar untuk sektor perikanan budidaya di daerah.
Total pupuk yang disiapkan meliputi:
Urea mencapai 1.414.200 kilogram
SP-36 sebanyak 472.800 kilogram
Pupuk organik sebesar 2.351.600 kilogram
Jumlah tersebut diperkirakan mampu menghidupkan kembali ribuan hektare tambak yang sebelumnya kurang produktif. Dengan nutrisi yang cukup, kualitas air tambak diharapkan meningkat dan mendukung pertumbuhan ikan secara optimal.
Tidak hanya itu, pemerintah juga menargetkan swasembada komoditas perikanan unggulan, khususnya bandeng yang selama ini menjadi andalan Luwu Timur. Jika program berjalan sesuai rencana, daerah ini berpotensi menjadi salah satu sentra produksi bandeng terbesar di kawasan timur Indonesia.
Pihak PT. Pupuk Indonesia turut menyatakan komitmennya dalam mendukung program ini. Melalui sosialisasi mekanisme penebusan yang transparan, diharapkan tidak ada hambatan bagi pembudidaya dalam memperoleh pupuk bersubsidi.
Launching program yang dipusatkan di Kios Pupuk Rury tersebut turut dihadiri berbagai unsur penting, mulai dari Kepala Dinas Perikanan, pemerintah desa, penyuluh perikanan, pengecer pupuk hingga kelompok pembudidaya ikan.
Para pembudidaya menyambut program ini dengan antusias. Mereka berharap bantuan pupuk bersubsidi dapat menekan biaya produksi yang selama ini menjadi kendala utama.
Dengan biaya lebih ringan dan hasil panen meningkat, kesejahteraan masyarakat pesisir diyakini ikut terdongkrak.
Program ini sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa sektor perikanan budidaya kembali menjadi prioritas pembangunan daerah.
Jika konsisten dijalankan, bukan tidak mungkin Luwu Timur akan menjadi contoh nasional dalam revitalisasi tambak berbasis dukungan pupuk bersubsidi.
Kini, perhatian publik tertuju pada realisasi di lapangan. Akankah program ini benar-benar memicu lonjakan produksi bandeng? Atau justru menghadapi tantangan distribusi? Semua mata kini tertuju pada Luwu Timur.
(Red)







