Aceh Timur, Kabartujuhsatu.news,– Di tengah luka yang belum sepenuhnya pulih akibat banjir yang melanda wilayah Aceh Timur, muncul peringatan keras yang kini viral di media sosial. Direktur Aceh Humam Foundation, Adi Maros, angkat bicara dengan nada tegas yang langsung menyita perhatian publik.
Pernyataannya bukan tanpa alasan. Di saat masyarakat sedang berjuang bangkit dari keterpurukan, justru gelombang informasi liar dan belum terverifikasi semakin membanjiri media sosial. Kondisi ini dinilai berbahaya dan berpotensi memecah belah masyarakat.
“Jangan mudah percaya, apalagi langsung membagikan informasi yang belum jelas. Ini bukan hanya soal etika, tapi bisa berdampak hukum!” tegas Adi Maros dalam pernyataannya yang kini ramai diperbincangkan.
Fenomena penyebaran hoaks di tengah bencana disebut sebagai “bencana kedua” yang tak kalah berbahaya. Banyak pihak tak bertanggung jawab diduga memanfaatkan situasi untuk menggiring opini, bahkan memicu konflik di tengah masyarakat.
Akibatnya? Fokus pemulihan terganggu. Solidaritas melemah. Dan yang paling parah, kepercayaan antar warga mulai terkikis.
Adi Maros menilai kondisi ini tidak bisa dianggap sepele. Ia bahkan mengingatkan bahwa jejak digital dapat menjadi bukti hukum yang sewaktu-waktu bisa menjerat pelakunya.
Bukan sekadar peringatan biasa, Adi menegaskan bahwa penyebaran fitnah dan informasi palsu bisa berujung pada proses hukum serius. Banyak kasus serupa yang telah terjadi di berbagai daerah di Indonesia.
“Sekali Anda menyebarkan informasi yang salah, dampaknya bisa panjang. Bukan hanya merugikan orang lain, tapi juga diri sendiri,” ujarnya.
Di tengah situasi sulit, Adi mengajak masyarakat untuk kembali pada nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong yang selama ini menjadi kekuatan utama masyarakat Aceh.
Menurutnya, energi masyarakat harus difokuskan pada pemulihan ekonomi, membantu korban terdampak, serta menjaga stabilitas sosial.
“Ini saatnya kita saling menguatkan, bukan justru terpecah karena informasi yang belum tentu benar,” katanya.
Adi juga menyoroti peran besar media sosial yang bisa menjadi dua sisi mata uang. Di satu sisi bisa menjadi alat edukasi dan solidaritas, namun di sisi lain juga bisa menjadi sumber konflik jika disalahgunakan.
Ia mengajak seluruh masyarakat untuk lebih cerdas dan bijak dalam bermedia sosial, serta meningkatkan literasi digital agar tidak mudah terjebak dalam arus informasi yang menyesatkan.
Pernyataan Adi Maros bukan sekadar imbauan biasa, melainkan peringatan serius bagi seluruh masyarakat Indonesia. Di era digital seperti sekarang, satu klik bisa berdampak besar.
Pertanyaannya sekarang, Apakah kita akan menjadi bagian dari solusi… atau justru memperkeruh keadaan?
(Red)
