Dr Nurmal Idrus Ingatkan Bahaya Budaya Menjatuhkan Orang Lain : Kehormatan Tidak Dibangun dari Kerusakan Reputasi Sesama

Dr Nurmal Idrus Ingatkan Bahaya Budaya Menjatuhkan Orang Lain : Kehormatan Tidak Dibangun dari Kerusakan Reputasi Sesama


Soppeng, Kabartujuhsatu.news, Di tengah derasnya arus informasi dan semakin terbukanya ruang publik untuk berbagai bentuk ekspresi, fenomena saling serang, fitnah, dan pembunuhan karakter menjadi persoalan yang semakin sering mendapat sorotan.

Dalam situasi tersebut, Sosok akademisi dan pengamat politik Dr. Nurmal Idrus menyampaikan pesan moral yang mengundang perhatian luas karena dinilai relevan dengan kondisi sosial yang terjadi saat ini.

Menurutnya, seseorang tidak perlu merusak nama baik orang lain hanya untuk terlihat lebih unggul di hadapan publik. Ia menegaskan bahwa kehormatan dan nilai seseorang tidak akan meningkat hanya karena berhasil menjatuhkan pihak lain.

“Jangan kotori nama orang lain untuk menunjukkan bahwa dirimu lebih baik. Sebab kehormatanmu tidak akan naik dengan menjatuhkan orang lain,” ujarnya dalam sebuah kalimat yang terpantau media ini  Jum'at (12/6/2026).

Pernyataan tersebut dengan cepat mendapat respons dari berbagai kalangan. Banyak yang menilai pesan itu sebagai pengingat penting bahwa persaingan, perbedaan pandangan, maupun konflik kepentingan tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghalalkan berbagai cara demi meraih simpati masyarakat.

Dalam pandangannya, orang yang benar-benar memiliki kualitas tidak perlu sibuk mencari kelemahan orang lain untuk dibesar-besarkan. Prestasi, karya, dan kontribusi nyata akan berbicara dengan sendirinya tanpa harus disertai upaya merendahkan pihak lain.

Belakangan ini, ruang publik sering kali dipenuhi perdebatan yang tidak lagi berfokus pada substansi. Yang seharusnya bertukar gagasan atau menawarkan solusi, sebagian pihak justru lebih memilih menyerang pribadi lawan, mengungkit hal-hal yang tidak relevan, atau menyebarkan prasangka yang belum tentu berdasarkan fakta.

Fenomena tersebut dinilai dapat menciptakan iklim sosial yang tidak sehat. Ketika serangan pribadi lebih dominan daripada argumentasi, masyarakat berisiko kehilangan kesempatan untuk memperoleh informasi yang objektif dan konstruktif.

Dr. Nurmal Idrus yang juga Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Soppeng mengingatkan bahwa ukuran kematangan seseorang tidak hanya terlihat dari keberhasilannya meraih pencapaian tertentu, tetapi juga dari kemampuannya menjaga sikap ketika menghadapi perbedaan pendapat maupun kritik.

“Yang benar-benar tinggi nilainya bukan yang paling keras berbicara, tapi yang tetap diam menjaga akhlaknya meski punya alasan untuk membalas,” ungkapnya.

Pesan tersebut dianggap memiliki makna yang mendalam. Dalam banyak situasi, seseorang mungkin memiliki kesempatan untuk membalas tuduhan, sindiran, atau perlakuan yang tidak menyenangkan. Namun, kemampuan menahan diri dan tetap menjaga etika sering kali menunjukkan kualitas karakter yang lebih kuat dibandingkan sekadar memenangkan perdebatan.

Di era digital saat ini, tantangan tersebut menjadi semakin kompleks. Informasi dapat menyebar hanya dalam hitungan detik, sementara klarifikasi atau fakta sering kali membutuhkan waktu yang lebih lama untuk diterima publik. Akibatnya, berbagai tuduhan atau narasi negatif dapat dengan mudah membentuk opini sebelum kebenarannya benar-benar teruji.

Karena itu, masyarakat diharapkan semakin bijak dalam menyikapi informasi yang beredar. Tidak semua tuduhan harus langsung dipercaya, dan tidak semua kritik dapat disamakan dengan fitnah. Diperlukan sikap kritis, kehati-hatian, serta kemauan untuk memeriksa fakta sebelum mengambil kesimpulan.

Lebih jauh, Dr. Nurmal Idrus menilai bahwa membangun reputasi seharusnya dilakukan melalui kerja nyata, integritas, dan konsistensi dalam berbuat baik. Nama baik yang dibangun melalui proses panjang akan memiliki fondasi yang jauh lebih kuat dibandingkan popularitas yang diperoleh dari menciptakan kontroversi atau menyerang pihak lain.

Menurutnya, seseorang tidak akan tampak lebih tinggi hanya karena berhasil membuat orang lain terlihat lebih rendah. Sebaliknya, tindakan semacam itu justru sering kali memperlihatkan kelemahan yang berusaha disembunyikan.

Pesan tersebut menjadi refleksi penting bagi siapa pun yang aktif di ruang publik, baik sebagai tokoh masyarakat, profesional, maupun pengguna media sosial. Di tengah meningkatnya budaya sensasi dan pencarian perhatian, menjaga etika, menghormati sesama, serta mengedepankan fakta menjadi nilai yang semakin penting untuk dipertahankan.

Pada akhirnya, masyarakat memiliki kemampuan untuk menilai. Mereka dapat membedakan mana kritik yang disampaikan demi perbaikan, dan mana serangan yang lahir dari kepentingan pribadi. Karena itu, menjaga kehormatan diri dengan tetap menghormati kehormatan orang lain merupakan prinsip yang tidak pernah kehilangan relevansinya, kapan pun dan di manapun.

(Red)

Lebih baru Lebih lama
Premium By Raushan Design With Shroff Templates