Soppeng, Kabartujuhsatu.news, Jauh sebelum berbagai bentuk hiburan modern berkembang, masyarakat Bugis telah memiliki kesenian tradisional yang tidak hanya berfungsi sebagai tontonan, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sosial dan budaya. Salah satunya adalah Tari Pajoge Djaba-djaba, yang dikenal dalam lingkungan masyarakat Bugis, termasuk di wilayah Kabupaten Soppeng sekitar tahun 1900.
Tari Pajoge merupakan salah satu kesenian tari tradisional masyarakat Suku Bugis. Istilah Pajoge berasal dari kata Bugis joge, yang berarti menari.
Dalam perkembangannya, Tari Pajoge dikenal dalam dua bentuk, yakni Pajoge Makkunrai, yang dibawakan oleh penari perempuan, serta Pajoge Angkong, yang dibawakan oleh penari waria atau calabai.
Kesenian ini berkembang dalam lingkungan kerajaan-kerajaan Bugis, salah satunya Kerajaan Bone, kemudian menyebar ke sejumlah wilayah Bugis lainnya, termasuk Soppeng, Wajo dan Barru.
Dari Hiburan Istana hingga Pesta Rakyat
Pada masa lalu, Pajoge tidak sekadar menjadi pertunjukan seni. Tari ini memiliki kedudukan penting dalam kehidupan sosial masyarakat.
Di lingkungan istana, Pajoge menjadi salah satu bentuk hiburan bagi raja atau datu. Namun, pertunjukan tersebut kemudian juga berkembang sebagai hiburan dalam pesta rakyat dan berbagai kegiatan masyarakat.
Pajoge juga memiliki fungsi sosial sebagai media yang mempertemukan kalangan bangsawan dengan masyarakat. Melalui pertunjukan tersebut, jarak sosial antara penguasa dan rakyat dapat menjadi lebih cair.
Penonton Bisa Diajak Menari
Salah satu keunikan pertunjukan Pajoge terletak pada interaksi langsung antara penari dan penonton.
Penari biasanya tampil dalam jumlah genap, misalnya empat atau delapan orang. Mereka tidak hanya menari, tetapi juga menyanyikan syair atau lantunan tertentu selama pertunjukan berlangsung.
Dalam bagian tertentu, penari akan memilih seorang laki-laki dari kalangan penonton untuk diajak berpartisipasi. Penari kemudian memberikan daun sirih kepada pria yang dipilih sebagai tanda ajakan untuk maju ke arena pertunjukan.
Pria tersebut selanjutnya ikut menari bersama penari Pajoge.
Interaksi inilah yang membuat Pajoge berbeda dari pertunjukan tari yang hanya menempatkan penonton sebagai pihak yang menyaksikan. Dalam Pajoge, penonton dapat menjadi bagian dari pertunjukan itu sendiri.
Jejak Sejarah di Soppeng
Keberadaan Pajoge Djaba-djaba di Soppeng sekitar awal 1900-an menjadi bagian dari jejak panjang perkembangan seni pertunjukan masyarakat Bugis di daerah ini.
Soppeng, yang memiliki sejarah panjang sebagai salah satu wilayah kerajaan Bugis, turut menjadi ruang berkembangnya berbagai tradisi dan kesenian masyarakat.
Pajoge menjadi salah satu gambaran bagaimana seni pada masa lalu tidak hanya digunakan untuk menghibur, tetapi juga menjadi sarana membangun hubungan sosial, menyampaikan pesan, serta mempertemukan berbagai lapisan masyarakat.
Kini, keberadaan kesenian tradisional seperti Pajoge menjadi pengingat bahwa Soppeng memiliki kekayaan budaya yang telah diwariskan lintas generasi.
Pajoge bukan sekadar tari. Di dalamnya terdapat sejarah, interaksi sosial, tradisi dan identitas masyarakat Bugis yang patut terus dikenang dan dilestarikan.
#SukuBugis #TariPajoge #PajogeDjabaDjaba #BudayaBugis #Soppeng #SejarahSoppeng #WarisanBudaya
Sumber : Kahar
