Petta CalabaE, Datu Soppeng yang Menghentikan Perang Belo

Petta CalabaE, Datu Soppeng yang Menghentikan Perang Belo


Soppeng, Kabartujuhsatu.news, Sejarah Kedatuan Soppeng menyimpan kisah tentang seorang penguasa yang berbeda dari gambaran umum seorang raja pada zamannya. Ia bukan sekadar dikenal karena kedudukannya sebagai Datu Soppeng, tetapi juga karena kisah kepemimpinannya yang lekat dengan tradisi, politik kerajaan, dan upaya mendamaikan konflik.

Tokoh itu adalah Abdul Gani Baso Batu Pute, yang dalam sejumlah catatan silsilah disebut sebagai Petta MatinroE ri Pakkasalo. Ia memerintah Kedatuan Soppeng pada 1865–1895, sebelum kemudian digantikan oleh Sitti Zaenab Arung Lapanjung.

Nama Abdul Gani juga tercatat dalam sejumlah sumber silsilah sebagai putra La Wana Datu Botto dan I Tungke’ Datu Mario ri Wawo. Sebelum menjadi Datu Soppeng, ia telah memiliki posisi penting dalam struktur pemerintahan kerajaan.

Namun, yang membuat sosok Abdul Gani menarik dalam sejarah lokal bukan hanya soal silsilah dan kekuasaannya.

Ia dikenang dengan gelar Petta CalabaE, sebuah gelar yang berkaitan dengan istilah calabai dalam kebudayaan Bugis. Kisah tersebut menunjukkan bahwa struktur kepemimpinan tradisional Bugis memiliki ruang yang kompleks bagi identitas sosial dan peran budaya yang tidak selalu sesuai dengan gambaran maskulinitas seorang raja dalam pengertian modern.

Salah satu kisah paling terkenal yang dikaitkan dengan masa pemerintahannya adalah Musu Belo atau Perang Belo.

Konflik tersebut disebut berkaitan dengan sengketa tanah Tana Abbolang antara pihak Arung Ganra dan Datu Mari-Mari. Sejumlah sumber lokal menyebut perang itu berlangsung sengit dan melibatkan kelompok-kelompok dari wilayah sekitar.

Catatan mengenai Musu Belo sendiri masih banyak bersumber dari tradisi lisan. Bahkan, terdapat perbedaan keterangan mengenai tahun, lama peperangan, serta detail pihak-pihak yang terlibat. Karena itu, kisah tersebut masih membutuhkan penelitian sejarah lebih mendalam.

Di tengah konflik yang semakin memanas, Arung Ganra kemudian menghadap kepada Datu Soppeng untuk meminta penyelesaian.

Abdul Gani dikisahkan memberikan pesan:

Lesangpi EssoE Baja Unoo Papajai Musu’E.”

Pesan tersebut secara umum dimaknai sebagai pernyataan bahwa setelah matahari bergeser ke barat pada keesokan harinya, sang Datu akan turun menghentikan peperangan.

Benar saja, Datu Soppeng kemudian datang ke lokasi dan menghentikan pertikaian kedua pihak.

Dari kisah inilah muncul legenda mengenai nama Pajalesang. Kata lesang yang berkaitan dengan pergeseran atau terbenamnya matahari kemudian dipercaya menjadi bagian dari asal-usul penamaan wilayah tersebut. Kisah ini masih hidup dalam ingatan sejarah masyarakat Soppeng.

Kisah Musu Belo memperlihatkan sisi lain dari kekuasaan seorang Datu.

Dalam tradisi kerajaan Bugis, seorang penguasa tidak hanya dituntut memiliki kewibawaan, tetapi juga kemampuan menjaga keseimbangan di antara para pemangku kepentingan dan kelompok-kelompok yang berada dalam wilayah kekuasaannya.

Abdul Gani dalam kisah tersebut justru tampil bukan sebagai panglima yang memimpin peperangan, melainkan sebagai penguasa yang datang untuk menghentikannya.

Itulah yang membuat kisah Petta CalabaE tetap menarik untuk dikenang.

Di tengah konflik yang melibatkan kepentingan keluarga dan wilayah kekuasaan, keputusan seorang Datu menjadi penentu berhentinya pertumpahan darah.

Musu Belo bukan hanya meninggalkan cerita tentang peperangan. Peristiwa itu juga melahirkan berbagai kisah mengenai asal-usul nama tempat, makam, serta tradisi lisan yang hingga kini masih diceritakan masyarakat.

Sejumlah penuturan lokal bahkan menyebut berbagai lokasi yang dikaitkan dengan jalannya peperangan dan kedatangan pasukan dari wilayah lain. Namun, karena sebagian besar informasi tersebut berasal dari cerita turun-temurun, diperlukan penelitian arsip dan kajian sejarah untuk membedakan antara fakta sejarah, memori kolektif, dan legenda masyarakat.

Abdul Gani Baso Batu Pute akhirnya wafat pada 1895. Dalam tradisi penamaan Bugis, ia dikenang dengan gelar anumerta Petta MatinroE ri Pakkasalo, merujuk pada tempat ia beristirahat untuk selamanya. Catatan sejarah kerajaan juga menempatkan masa pemerintahannya hingga 1895.

Kini, namanya mungkin tidak sepopuler raja-raja besar dalam buku sejarah nasional.

Namun di Soppeng, kisahnya tetap menjadi bagian dari ingatan tentang masa ketika seorang Datu berdiri di tengah konflik bukan untuk memperbesar peperangan, melainkan untuk mengakhirinya.

Petta CalabaE menjadi pengingat bahwa sejarah kerajaan tidak selalu berbicara tentang perang dan kemenangan. Kadang, kebesaran seorang pemimpin justru terlihat ketika ia mampu menghentikan perang.

Catatan: sejumlah detail mengenai Musu Belo dan asal-usul nama Pajalesang masih bersumber dari tradisi lisan dan tulisan sejarah lokal, sehingga perlu diperlakukan sebagai bagian dari historiografi lokal yang masih terbuka untuk penelitian lebih lanjut.

Sumber : Aliem M

Lebih baru Lebih lama
Premium By Raushan Design With Shroff Templates