Soppeng, Kabartujuhsatu.news, Kontestasi Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Citta mulai memunculkan figur yang membawa warna berbeda. Irfan, mantan Ketua Panwaslu Kecamatan Citta, menyatakan kesiapan maju dalam pertarungan kepemimpinan Desa Citta dengan satu pesan utama: “Membangun Citta dengan Cinta.”
Bagi Irfan, menjadi kepala Desa bukan sekadar mengejar jabatan. Kursi kepemimpinan desa adalah amanah yang menuntut keberanian mengambil keputusan, kemampuan mendengar suara masyarakat, serta kesanggupan membuktikan setiap gagasan melalui kerja nyata.
Visi “Membangun Citta dengan Cinta” menjadi fondasi yang ia tawarkan kepada masyarakat. CINTA ia maknai sebagai Cerdas, Inovatif, Nyata, Tanggap dan Amanah.
Lima nilai itu bukan sekadar rangkaian kata untuk menghiasi slogan kampanye. Irfan ingin menjadikannya sebagai arah kepemimpinan apabila mendapat kepercayaan masyarakat.
Cerdas dalam membaca persoalan dan menentukan kebijakan.
Inovatif dalam mencari terobosan pembangunan.
Nyata dalam menghadirkan program yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.
Tanggap terhadap keluhan dan kebutuhan warga.
Dan Amanah dalam menjaga kepercayaan yang diberikan masyarakat.
Pengalaman sebagai mantan Ketua Panwaslu Kecamatan Citta menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan Irfan.
Dunia pengawasan pemilu membuatnya bersentuhan langsung dengan dinamika masyarakat, berbagai karakter warga, serta persoalan sosial yang berkembang di tengah masyarakat.
Kini, pengalaman itu ingin ia bawa ke ruang pengabdian yang berbeda.
Jika sebelumnya ia berada di posisi mengawasi jalannya proses demokrasi, kini Irfan memilih tampil sebagai bagian dari kontestasi demokrasi itu sendiri dengan menawarkan diri memimpin Desa Citta.
Baginya, pengalaman tersebut menjadi modal untuk membangun pemerintahan desa yang menjunjung tinggi integritas, keterbukaan dan tanggung jawab.
Irfan menempatkan kata “Nyata” sebagai salah satu pesan terpenting dalam visi yang ia usung.
Menurutnya, masyarakat tidak cukup hanya diberikan janji pembangunan. Warga membutuhkan program yang jelas, pelayanan yang mudah dan hasil pembangunan yang benar-benar dapat dirasakan.
“Membangun Desa tidak cukup hanya dengan menyampaikan rencana. Masyarakat membutuhkan bukti. Karena itu, apa yang kita gagas harus bisa diwujudkan menjadi kerja nyata yang manfaatnya kembali kepada masyarakat,” ujar Irfan. Sabtu (29/8/2026).
Ia berharap ke depan masyarakat Citta dapat memiliki pemerintahan Desa yang lebih terbuka, responsif dan mampu melihat potensi desa sebagai kekuatan untuk meningkatkan kesejahteraan warga.
Menurutnya, perubahan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Perubahan bisa dimulai dari cara pemerintah Desa mendengar masyarakat, memberikan pelayanan dan menyelesaikan persoalan warga.
Selain pembangunan, persoalan pelayanan masyarakat juga menjadi perhatian Irfan.
Ia menilai pemerintah Desa harus hadir ketika masyarakat membutuhkan. Jangan sampai warga merasa harus menunggu terlalu lama hanya untuk mendapatkan pelayanan atau menyampaikan persoalan.
Tanggap, menurutnya, berarti pemerintah Desa harus mampu mendengar, memahami dan merespons kebutuhan masyarakat secara cepat dan tepat.
Sementara Amanah menjadi nilai yang tidak bisa ditawar.
Sebab, jabatan kepala Desa pada akhirnya bukan milik pribadi seorang Kepala Desa. Jabatan tersebut merupakan kepercayaan masyarakat yang harus dipertanggungjawabkan.
Irfan merupakan anak pertama dari empat bersaudara, putra dari Ismail Hakim.
Dalam kehidupan keluarga, Irfan didampingi sang istri, Indarwati, S.Pd.
Kini, langkah Irfan memasuki babak baru. Dari pengalaman di dunia pengawasan pemilu, ia mencoba membawa pengalaman tersebut ke panggung politik Desa dengan menawarkan diri sebagai bakal calon Kepala Desa Citta.
Ia datang bukan hanya membawa nama, tetapi juga membawa gagasan yang dirangkum dalam satu kalimat sederhana:
“Membangun Citta dengan Cinta.”
Cinta terhadap Desa.
Cinta terhadap masyarakat.
Dan cinta terhadap amanah untuk membangun kampung halaman.
Pilkades Citta nantinya bukan sekadar tentang siapa yang memperoleh suara terbanyak. Lebih dari itu, masyarakat akan menentukan siapa yang dianggap paling mampu membawa Desa Citta menghadapi tantangan dan kebutuhan ke depan.
Pertanyaan akhirnya kembali kepada masyarakat Citta:
Apakah Citta akan berjalan seperti biasa, atau memilih membuka ruang bagi gagasan baru, pelayanan yang lebih tanggap dan pembangunan yang benar-benar nyata?
Bagi Irfan, jawabannya sederhana.
"Citta harus dibangun dengan cinta. Tetapi cinta kepada Desa tidak cukup diucapkan. Cinta harus dibuktikan dengan kerja, tandasnya.
(Red)
