Soppeng, Kabartujuhsatu.news, Memasuki hampir tiga bulan musim kemarau, masyarakat Desa Baringeng, Kecamatan Lilirilau, Kabupaten Soppeng, mulai mengeluhkan kondisi lahan pertanian dan perkebunan yang semakin membutuhkan pasokan air.
Di tengah ancaman kekeringan, kebutuhan listrik untuk menunjang pengairan sawah, perkebunan, hingga sumber-sumber mata air dinilai menjadi persoalan mendesak yang perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah.
Aspirasi tersebut disampaikan Edil Rauf, salah satu tokoh pemuda Desa Baringeng yang juga merupakan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Baringeng.
Menurut Edil, pembangunan infrastruktur memang penting, tetapi pembangunan tidak boleh mengabaikan kebutuhan dasar masyarakat, khususnya petani yang menggantungkan kehidupan dari hasil pertanian.
“Buat apa bangunan di mana-mana kalau masyarakat miskin semakin miskin. Apalagi sekarang musim kemarau, petani terancam gagal panen. Yang kami butuhkan sekarang adalah perhatian pemerintah dan terobosan untuk menghidupkan kembali tanaman para petani,” tegas Edil. Sabtu (29/8/2026).
Ia mengatakan, persoalan kekeringan bukan hanya menyangkut kondisi lahan yang kering, tetapi juga menyangkut keberlangsungan ekonomi keluarga petani.
Jika tanaman tidak mendapatkan pasokan air yang cukup, maka risiko gagal panen semakin besar. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat berdampak langsung terhadap pendapatan dan kebutuhan sehari-hari masyarakat.
Edil berharap pemerintah tidak hanya melihat pembangunan dari sisi fisik, tetapi juga menghadirkan solusi yang benar-benar dirasakan masyarakat di sektor pertanian.
“Kami berharap pemerintah bisa melihat kondisi masyarakat di lapangan. Petani sekarang membutuhkan air, membutuhkan listrik untuk masuk ke sawah dan perkebunan, serta membutuhkan solusi agar tanaman mereka tidak mati karena kekeringan,” ujarnya.
Ia juga meminta para wakil rakyat, mulai dari tingkat daerah hingga tingkat yang lebih tinggi, agar benar-benar menyuarakan kebutuhan masyarakat pedesaan.
Menurutnya, aspirasi petani Baringeng seharusnya tidak berhenti di tingkat Desa atau kabupaten, tetapi perlu diperjuangkan hingga menjadi perhatian pemerintah pusat.
“Kami berharap parlemen daerah sampai ke tingkat selanjutnya dapat menyuarakan kebutuhan dan jeritan petani hingga sampai ke telinga Presiden,” kata Edil.
Ia menilai pembangunan gedung dan infrastruktur harus berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Buat apa bangunan gedung di mana-mana, ditatap seakan indah. Berkendara di atas aspal bagus, tetapi terasa berlubang apabila kantong kering dan dompet tidak berduit. Petani gagal panen di lahannya sendiri,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan keresahan masyarakat Baringeng yang kini menghadapi musim kemarau panjang. Bagi petani, persoalan air bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan menyangkut keberlangsungan hidup dan sumber penghasilan keluarga.
Edil menegaskan, pemerintah perlu segera mencari langkah konkret sebelum dampak kekeringan semakin meluas dan ancaman gagal panen benar-benar terjadi.
“Harapan kami, jangan menunggu sampai tanaman mati dan petani gagal panen baru bergerak. Sekaranglah waktunya pemerintah hadir dan mencari solusi,” pungkasnya.
(Red)
