Mandailing Natal, Kabartujuhsatu.news, Pelaksanaan Musyawarah Desa (Musdes) di Desa Hutabangun Jae, Kecamatan Bukit Malintang, mendadak menjadi sorotan publik. Bukan tanpa alasan, forum penting yang seharusnya menjadi wadah aspirasi masyarakat itu disebut digelar secara tiba-tiba dengan pengumuman hanya berselang sekitar 30 menit sebelum kegiatan dimulai.
Situasi ini memicu kekecewaan warga yang merasa tidak mendapat kesempatan cukup untuk hadir dan menyampaikan pendapat. Apalagi, Musdes dilaksanakan pada Jumat pagi, waktu di mana sebagian besar masyarakat tengah beraktivitas di sawah dan kebun.
Informasi pelaksanaan Musdes disebut baru diumumkan melalui pengeras suara masjid sekitar pukul 08.30 WIB.
Sementara itu, kegiatan sudah dimulai pada pukul 09.00 WIB. Pola ini dinilai membuat banyak warga tidak sempat menghadiri forum yang membahas rencana penting Desa tersebut.
Seorang warga berinisial REN mengungkapkan bahwa pengumuman mendadak itu membuat masyarakat kesulitan untuk berpartisipasi.
Menurutnya, Musdes seharusnya diumumkan jauh-jauh hari agar warga dapat menyesuaikan waktu.
“Diumumkan setengah jam sebelum acara. Sementara hari Jumat banyak warga ke sawah dan kebun. Seharusnya diumumkan sejak malam dan diingatkan kembali pagi harinya. Dari dulu kepala desa sebelumnya pun seperti itu,” ungkapnya. Minggu (26/4).
Ia menilai Musdes seharusnya menjadi forum terbuka bagi masyarakat untuk ikut menentukan arah pembangunan desa. Namun dengan pola pengumuman yang mendadak, kualitas partisipasi publik dinilai berpotensi menurun.
Kondisi ini juga menimbulkan pertanyaan terkait kesiapan dan keterbukaan pemerintah desa dalam menjalankan proses perencanaan. Warga berharap forum strategis seperti Musdes dapat dilakukan secara transparan dan memberi ruang seluas-luasnya bagi masyarakat.
Di sisi lain, Badan Permusyawaratan Desa (BPD) disebut menyampaikan bahwa masih akan ada Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) lanjutan.
Meski demikian, sebagian warga menilai hal tersebut belum menjawab kekhawatiran terkait tahapan perencanaan yang dinilai kurang terbuka sejak awal.
Adapun hasil Musdes yang berhasil dihimpun meliputi beberapa poin, di antaranya perawatan lampu penerangan desa, penambahan titik lampu baru, serta penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT).
Selain itu, disebut ada satu poin tambahan lain, namun hingga kini belum dijelaskan secara rinci kepada publik.
Upaya konfirmasi kepada Kepala Desa Hutabangun Jae juga telah dilakukan berulang kali. Namun hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan resmi yang diberikan. Minimnya respons tersebut semakin memunculkan tanda tanya di kalangan masyarakat.
Warga berharap ke depan pemerintah desa dapat meningkatkan keterbukaan informasi dan memastikan setiap kegiatan Musdes diumumkan lebih awal. Pasalnya, Musdes merupakan ruang penting bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi dan memastikan kebijakan desa benar-benar lahir dari kebutuhan warga.
Kini, polemik Musdes mendadak ini masih menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Transparansi dan partisipasi publik pun kembali menjadi sorotan, seiring harapan agar proses pembangunan desa berjalan lebih terbuka dan inklusif.
(Magrifatulloh)






