Soppeng, Kabartujuhsatu.news,– Harapan warga Desa Watu Kecamatan Marioriwawo untuk memiliki sistem keamanan berbasis teknologi justru berubah menjadi kekecewaan.
Proyek pengadaan kamera pengawas (CCTV) yang menelan anggaran Desa kini menjadi sorotan publik setelah diketahui tidak berfungsi sejak dipasang.
Alih-alih meningkatkan keamanan, fasilitas tersebut dinilai hanya menjadi simbol proyek tanpa manfaat nyata.
Hasil pantauan di lokasi, Jum'at (10/4//2026) menunjukkan bahwa unit CCTV yang terpasang di area jembatan utama masih dalam kondisi fisik baik.
Perangkat bahkan dilengkapi panel surya sebagai sumber energi mandiri, sebuah fitur yang seharusnya menjamin operasional tanpa bergantung pada listrik PLN.
Namun, kondisi di lapangan berkata lain, Warga mengungkapkan bahwa kamera tersebut tidak aktif dan tidak pernah menghasilkan rekaman yang bisa digunakan, bahkan saat terjadi insiden di sekitar lokasi.
“Kami kira ini untuk keamanan. Tapi saat dibutuhkan, tidak ada rekaman sama sekali. Berarti dari awal tidak berfungsi,” ujar seorang warga.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar, apakah sistem tersebut memang tidak pernah diaktifkan, atau ada kegagalan teknis yang dibiarkan berlarut-larut?
Jembatan utama Desa Watu merupakan salah satu titik strategis dengan mobilitas tinggi.
Selain menjadi akses penghubung antar wilayah, area ini juga rawan terhadap Tindak kriminalitas, Pembuangan sampah ilegal dan Aktivitas yang mencurigakan di malam hari
Tanpa fungsi CCTV, potensi risiko tersebut tidak dapat dimonitor secara optimal.
Ironisnya, keberadaan perangkat justru memberi kesan seolah-olah pengawasan sudah berjalan.
Kondisi CCTV yang tidak berfungsi memunculkan dugaan adanya pemborosan anggaran Desa.
Proyek yang semestinya memberikan manfaat jangka panjang kini justru dipertanyakan efektivitasnya.
Sejumlah warga mulai mempertanyakan Berapa total anggaran yang digunakan?Siapa pihak penyedia dan pelaksana proyek?, Apakah ada uji fungsi sebelum serah terima? dan Mengapa tidak ada perawatan atau perbaikan?
Minimnya informasi dari pihak terkait memperkuat kesan kurangnya transparansi dalam pengelolaan proyek ini.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi dari Pemerintah Desa Watu terkait kondisi CCTV tersebut.
Ketidakjelasan ini berpotensi menggerus kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan Dana Desa, terutama untuk proyek yang menyangkut kepentingan publik.
“Kalau memang rusak, kenapa tidak diperbaiki? Kalau belum pernah berfungsi, berarti ada yang tidak beres dari awal,” tambah warga lainnya.
Masyarakat mendesak pemerintah Desa untuk segera Memberikan klarifikasi terbuka kepada publik, Mengungkap rincian anggaran proyek, Melakukan audit terhadap pengadaan CCTV serta Segera memperbaiki atau mengaktifkan kembali sistem.
Warga juga berharap adanya pengawasan dari pihak yang lebih tinggi agar kasus serupa tidak terulang.
Kasus ini bukan sekadar soal kamera yang mati. Ini menyangkut Akuntabilitas penggunaan dana publik, Kualitas perencanaan proyek Desa dan Komitmen terhadap keamanan masyarakat
Jika dibiarkan, proyek seperti ini berpotensi menjadi preseden buruk bagi pembangunan Desa ke depan.
CCTV di Desa Watu kini berdiri sebagai simbol ironi,.teknologi modern yang gagal menjalankan fungsi dasarnya.
Pertanyaannya kini bukan lagi sekadar mengapa CCTV tidak berfungsi, tetapi siapa yang bertanggung jawab dan bagaimana memastikan hal ini tidak terulang?
(Red/RE)










