Kenalilah Andi Abdullah Bau Massepe -->
  • Jelajahi

    Copyright © kabartujuhsatu.news
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Daftar Blog Saya

    Kenalilah Andi Abdullah Bau Massepe

    Kabartujuhsatu
    Rabu, 11 Maret 2026, Maret 11, 2026 WIB Last Updated 2026-03-11T07:14:17Z
    masukkan script iklan disini


    Oleh: HA. Ahmad Saransi


    Saratus Delepan Belas silam tepatnya pada tahun 1918, lahir seorang anak laki-laki yang kelak dikenang sebagai salah satu putra terbaik Sulawesi Selatan, Andi Abdullah Bau Massepe.


    Ia lahir dari rahim seorang perempuan bangsawan Bugis bernama Besse Bulo, putri dari La Sadapotto Addatuang Sidenreng, yang menikah dengan Baeda, bangsawan dari keluarga Addatuang Sawitto. Darah kepemimpinan dan tradisi kerajaan mengalir kuat dari garis ibunya.


    Ayahnya adalah Andi Mappanyukki, seorang bangsawan Bugis- Makassar yang kelak menjadi Raja Bone. Nama Andi Mappanyukki dikenal luas bukan hanya sebagai pemimpin kerajaan, tetapi juga sebagai tokoh yang menolak tunduk kepada kekuasaan kolonial. Dalam dirinya mengalir semangat perlawanan yang kelak diwariskan kepada anak-anaknya.


    Sejak kecil, Bau Massepe tumbuh di tengah keluarga besar bangsawan Bugis yang memiliki peranan penting dalam sejarah Sulawesi Selatan. Ia tidak sendiri. Ia memiliki saudara kandung, di antaranya Andi Rukiah Karaeng Balla’ Tinggi dan Andi Passulo yang dikenal pula dengan nama Bau Mappasullo Petta Deng Bulaeng. Dari perkawinan lain ayahnya, ia juga memiliki saudara-saudara lain, salah satunya Andi Pangerang Petta Rani, yang kemudian turut memainkan peranan penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.


    Sejak usia enam tahun, ia telah diperkenalkan pada dunia pendidikan modern. Ia pertama kali dimasukkan ke Sekolah Rakyat, sebagaimana anak-anak lain pada masa itu. Akan tetapi, setahun kemudian ayahnya memindahkannya ke sekolah Belanda, Hollands Inlander School (HIS), sebuah sekolah yang pada masa kolonial hanya dapat diakses oleh kalangan tertentu.


    Di sekolah inilah Bau Massepe mulai mengenal dunia yang lebih luas. Ia belajar membaca, menulis, dan memahami bahasa Belanda. Ia menyaksikan bagaimana sistem kolonial bekerja. Dan tanpa ia sadari, pengalaman-pengalaman itu perlahan membentuk cara pandangnya terhadap dunia. Ia menamatkan pendidikan di HIS pada tahun 1932.


    Setelah menyelesaikan pendidikan formalnya, Bau Massepe mendapat didikan langsung dari lingkungan keluarganya. Ia diajarkan adat, tata pemerintahan, dan tanggung jawab seorang pemimpin.


    Setelah ibunya, Besse Bulo, meninggal dunia, Bau Massepe diasuh di Jongaya, salah satu pusat kediaman bangsawan Bugis di Makassar. Di tempat inilah ia tumbuh menjadi pemuda yang mengenal kehidupan istana sekaligus dinamika masyarakat yang lebih luas.


    Pada tahun 1931 itu ayahnya, Andi Mappanyukki, diangkat menjadi Raja Bone. Sebagai putra seorang raja, Bau Massepe ikut mendampingi ayahnya ke Bone. Di sana ia semakin dekat dengan kehidupan pemerintahan kerajaan dan belajar memahami tanggung jawab seorang pemimpin terhadap rakyatnya.


    Namun yang menarik, Bau Massepe tidak tumbuh menjadi bangsawan yang berjarak dengan rakyat..Sebaliknya, ia dikenal sebagai pribadi yang sederhana dan mudah bergaul. Ia tidak memamerkan kebangsawanannya. Ia lebih sering terlihat berbicara dengan rakyat biasa, mendengarkan cerita mereka, dan duduk bersama tanpa sekat. Karena itulah ia dicintai oleh rakyat.


    Dalam kehidupan pribadinya, Bau Massepe menjalani kehidupan keluarga sebagaimana manusia lainnya. Ia menikah beberapa kali. Namun kehidupan keluarga bukanlah satu-satunya yang membentuk dirinya.


    Sejarah keluarganya adalah sejarah perlawanan. Dalam silsilah keluarganya tercatat nama I Makkulau Sultan Husain, Raja Gowa ke-34, yang pada tahun 1906 memimpin perang melawan Belanda. Dalam pertempuran itu, dua putranya—La Pangoriseng Aru Alitta dan La Mappanyukki—turut memimpin pasukan kerajaan Gowa.


    Ayah Bau Massepe sendiri pernah bertugas mempertahankan benteng pertahanan di Gunungsari. Namun karena persenjataan Belanda jauh lebih kuat, pasukan kerajaan terpaksa mundur untuk melanjutkan perlawanan secara gerilya.


    Perlawanan itu tidak berhenti di situ. Mereka bergerak hingga ke Alitta, terus melawan dengan segala keterbatasan yang ada.


    Dari garis ibunya, semangat perjuangan juga sama kuatnya. Kakeknya dari pihak ibu, La Sadapotto Addatuang Sidenreng, serta keluarga Addatuang Sawitto, juga pernah terlibat dalam berbagai konflik dan perlawanan terhadap kekuasaan kolonial.


    Maka tidak mengherankan jika dalam diri Bau Massepe, keberanian dan semangat perlawanan tumbuh sejak dini. Nilai-nilai itu tidak diajarkan melalui pidato panjang.


    Ia melihatnya langsung dalam kehidupan keluarganya. Ia menyaksikan bagaimana para bangsawan Bugis memilih kehilangan tahta daripada kehilangan harga diri. Ia melihat bagaimana ayahnya menolak tunduk kepada Belanda. Ia melihat bagaimana para pemimpin kerajaan lebih memilih hidup sederhana bersama rakyat daripada bersekutu dengan penjajah.


    Semua itu tertanam dalam ingatan seorang anak.


    Dan kelak, ketika sejarah memanggil, nilai-nilai itulah yang akan membentuk pilihan hidup Andi Abdullah Bau Massepe.


    Pilihan untuk berdiri di sisi rakyat, pilihan untuk melawan penjajahan, dan pilihan yang pada akhirnya menuntunnya menuju jalan perjuangan, jalan yang tidak selalu berakhir dengan kemenangan, tetapi selalu dimuliakan oleh sejarah. Dan sejarah pun menuliskan namanya sebagai salah satu pejuang kemerdekaan Indonesia berdasarkan SK Presiden RI Nomor 085/TK/Tahun 2006.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini