Soppeng, Kabartujuhsatu.news, Di sudut lapangan Petta Langkanangnge Sewo yang sederhana di Kelurahan Bila Kecamatan Lalabata Kabupaten Soppeng, suara tawa dan semangat anak-anak yang mengejar bola menjadi saksi lahirnya mimpi-mimpi besar.
Di tempat itulah, seorang pelatih penuh dedikasi, Baharuddin yang akrab disapa Ambas, menanamkan lebih dari sekadar teknik bermain sepak bola, ia menanamkan harapan.
Melalui akun media sosial milik putranya, Silva Aulia, pada Minggu (5/4/2026), Ambas menyampaikan ajakan yang menyentuh hati kepada anak-anak binaannya yang akan segera menamatkan Sekolah Dasar.
Ia mengajak mereka untuk melanjutkan pendidikan ke SMP Muhammadiyah Watansoppeng yang terletak di Jalan Bila Selatan.
Namun ajakan itu bukan sekadar soal memilih sekolah. Lebih dari itu, ini adalah panggilan untuk terus bermimpi.
“Saya selaku pelatih Sewo Junior mengajak anak-anak yang akan tamat Sekolah Dasar untuk melanjutkan ke SMP Muhammadiyah Watansoppeng, terutama yang suka bermain bola. Insya Allah saya akan selalu mendampingi jika ada turnamen,” ungkapnya dengan penuh ketulusan.
Bagi Ambas, sepak bola bukan hanya permainan. Ini adalah jalan untuk membentuk karakter, disiplin, dan keberanian menghadapi masa depan.
Selama bertahun-tahun, ia telah membina ratusan anak usia dini, menyaksikan sendiri bagaimana lapangan tanah bisa menjadi tempat tumbuhnya semangat juang dan kerja keras.
Di balik ajakan tersebut, tersimpan alasan yang kuat dan personal. Ambas adalah alumni dari SMP Muhammadiyah Watansoppeng.
Ia mengenal betul lingkungan sekolah itu, tempat di mana pendidikan dan pembinaan karakter berjalan beriringan.
Ia percaya, dengan pendidikan yang tepat dan bimbingan yang konsisten, anak-anak ini tidak hanya bisa menjadi pemain sepak bola yang hebat, tetapi juga pribadi yang siap menghadapi kehidupan.
“Sepak bola bisa membawa mereka jauh, tapi pendidikan akan menentukan arah mereka,” seolah menjadi pesan tersirat dari setiap kata yang ia sampaikan.
Ambas tidak hanya berbicara, ia juga berjanji untuk tetap berada di sisi anak-anak didiknya. Dalam setiap latihan, setiap pertandingan, hingga turnamen-turnamen yang akan mereka hadapi ke depan, ia ingin menjadi bagian dari perjalanan mereka.
Di tengah tantangan zaman dan berbagai distraksi yang mengancam generasi muda, kehadiran sosok seperti Ambas menjadi cahaya harapan.
Ia tidak hanya melatih kaki untuk menendang bola, tetapi juga melatih hati untuk tetap berani bermimpi.
Kini, pilihan ada di tangan anak-anak itu, melanjutkan langkah ke jenjang pendidikan berikutnya sambil terus mengejar passion mereka di dunia sepak bola.
Dan mungkin, dari lapangan sederhana di Soppeng, akan lahir pemain-pemain hebat masa depan Indonesia.
(Red)









