Makassar, Kabartujuhsatu.news, Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat keunggulan pendidikan tinggi keagamaan Islam di Indonesia Timur.
Dalam Rapat Kerja (Raker) Tahun 2026, Staf Khusus Menteri Agama RI Bidang Komunikasi dan Kebijakan Publik, Dr. Drs. Ismail Cawidu, M.Si., menyebut UIN Alauddin Makassar sebagai “Raksasa Intelektual dari Timur Indonesia.”
Pernyataan tersebut disampaikan Ismail saat menjadi narasumber utama Raker UIN Alauddin Makassar yang berlangsung di Hotel Sultan Alauddin, Makassar, pada Rabu, 20-21 Januari 2026 di Sultan Alauddin Hotel & Convention.
Dalam forum strategis tersebut, Ismail membawakan materi bertajuk “Penguatan Strategi Komunikasi Publik UIN Alauddin Makassar di Era Digital.”
Menariknya, julukan “raksasa intelektual” yang disematkan kepada UIN Alauddin Makassar tidak lahir dari klaim internal institusi.
Ismail mengungkapkan, sebutan itu muncul dari hasil pembacaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) terhadap jejak digital dan data terbuka yang tersedia di ruang publik.
“Saya bertanya secara terbuka kepada ChatGPT tentang bagaimana posisi UIN Alauddin Makassar di tingkat nasional.
"Jawaban yang muncul adalah kampus ini disebut sebagai raksasa intelektual dari Timur Indonesia,” ujar Ismail di hadapan peserta raker.
Menurutnya, AI bekerja dengan merangkum data objektif, mulai dari kinerja akademik, produktivitas riset, tata kelola kelembagaan, hingga rekam jejak digital institusi. “AI tidak bisa disogok dan tidak punya kepentingan. Ia membaca apa yang benar-benar tercatat di ruang publik,” tegasnya.
Dalam paparannya, Ismail menjelaskan bahwa UIN Alauddin Makassar dinilai memiliki pengaruh dan dominasi regional yang kuat di kawasan Indonesia Timur, mencakup Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Kampus ini kerap menjadi rujukan bagi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) lain, baik dalam pengembangan akademik, tata kelola kelembagaan, maupun penguatan moderasi beragama.
Keunggulan tersebut, kata Ismail, tidak lepas dari konsistensi UIN Alauddin dalam menjaga kualitas institusi dan memperluas dampak keilmuannya di tingkat regional dan nasional.
Faktor lain yang memperkuat posisi UIN Alauddin Makassar adalah produktivitas riset dosen dan peneliti. Capaian publikasi ilmiah, baik di jurnal nasional terakreditasi maupun jurnal internasional bereputasi, menjadi indikator penting yang terbaca oleh sistem AI.
Selain itu, integrasi keilmuan antara studi keislaman, sains, dan ilmu kesehatan juga menjadi kekuatan utama. Pengelolaan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan di lingkungan PTKIN, sembari tetap mempertahankan tradisi kuat studi Islam klasik, dinilai sebagai bukti kapasitas institusional yang tidak dimiliki banyak kampus sejenis.
“Tidak semua PTKIN mampu mengelola ilmu keislaman, sains, dan kedokteran secara bersamaan. Ini menunjukkan skala dan kekuatan intelektual yang besar,” kata Ismail.
Ismail juga menyoroti posisi Makassar sebagai wilayah strategis secara sosial, budaya, dan geopolitik.
Dalam konteks tersebut, UIN Alauddin Makassar dipandang memiliki peran penting sebagai benteng moderasi beragama di kawasan timur Indonesia.
Melalui pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat, UIN Alauddin dinilai berkontribusi dalam menjaga stabilitas sosial sekaligus mengembangkan pemikiran Islam yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada kemajuan.
Predikat Badan Publik Informatif yang diraih UIN Alauddin Makassar turut disebut sebagai indikator sehatnya tata kelola kampus. Menurut Ismail, keterbukaan informasi publik menjadi fondasi utama dalam membangun kepercayaan masyarakat di era digital.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa status sebagai “raksasa intelektual” harus diiringi dengan strategi komunikasi publik yang adaptif dan jujur. Di era kecerdasan buatan, reputasi institusi tidak hanya dinilai oleh manusia, tetapi juga oleh mesin.
“Sekarang bukan hanya manusia yang menilai institusi, tetapi juga AI. Karena itu, kecerdasan digital menjadi kebutuhan agar publik mampu membedakan informasi yang autentik dan yang menyesatkan,” ujarnya.
Rapat Kerja 2026 ini menjadi momentum refleksi bagi UIN Alauddin Makassar untuk menyelaraskan capaian akademik, tata kelola kelembagaan, dan strategi komunikasi publik.
Dengan penguatan tersebut, UIN Alauddin diharapkan mampu terus memperkokoh posisinya sebagai pusat keunggulan pendidikan Islam dan keilmuan integratif di Indonesia Timur, sekaligus berdaya saing di tingkat nasional dan global.
(Red)



