Terobosan Besar di Soppeng! Bupati Suwardi Haseng Turun Langsung Cari Sumber Air, Targetkan Sawah Tak Lagi Bergantung Hujan

Soppeng, Kabartujuhsatu.news,– Upaya besar Pemerintah Kabupaten Soppeng dalam memperkuat sektor pertanian kembali menarik perhatian publik. Bupati Soppeng, Suwardi Haseng, turun langsung ke lapangan bersama tim teknis untuk melakukan survei pencarian titik sumber air tanah dalam yang akan dijadikan lokasi pembangunan sumur bor dalam.

Kegiatan ini tidak sekadar kunjungan seremonial. Dalam satu hari, tim gabungan menyusuri sedikitnya 10 titik lokasi yang tersebar di tiga kecamatan, yakni Ganra, Lilirilau, dan Liliriaja.

Setiap lokasi diperiksa secara detail, mulai dari kondisi struktur tanah, kontur lahan, hingga indikasi potensi air bawah tanah.

Langkah ini menjadi bagian dari program strategis daerah yang dikenal dengan “listrik masuk sawah”, sebuah inovasi yang dirancang untuk menjawab persoalan klasik pertanian tadah hujan yang selama ini menjadi tantangan utama para petani di Soppeng.

Dalam keterangannya, Bupati Suwardi Haseng menegaskan bahwa setiap titik sumur bor tanah dalam yang berhasil dikembangkan nantinya diharapkan mampu mengairi lahan pertanian yang cukup luas.

“Setiap sumur bor tanah dalam bisa mengairi sekitar 50 hektare sawah. Kedalamannya bisa mencapai 200 meter. Tapi sebelum itu, kita pastikan dulu melalui survei geolistrik agar benar-benar akurat,” jelasnya. Selasa (5/5/2026). 

Metode geolistrik digunakan untuk membaca kondisi bawah permukaan tanah, sehingga titik pengeboran yang dipilih memiliki peluang besar menghasilkan debit air yang stabil dan mencukupi kebutuhan irigasi.

Selama bertahun-tahun, petani di Kabupaten Soppeng masih bergantung pada curah hujan. Kondisi ini menyebabkan pola tanam tidak menentu, bahkan sering kali gagal panen ketika musim kemarau berkepanjangan atau hujan datang tidak sesuai musim.

Dengan adanya program sumur bor tanah dalam ini, pemerintah daerah berharap terjadi perubahan besar dalam pola pertanian.

Sistem irigasi berbasis pompa listrik memungkinkan air tersedia sepanjang tahun tanpa bergantung pada cuaca.

Tidak hanya itu, pemanfaatan energi listrik, termasuk potensi energi surya, juga dipertimbangkan untuk menekan biaya operasional agar lebih efisien dan ramah lingkungan.

Program “listrik masuk sawah” bukan hanya proyek pengairan biasa. Lebih jauh, ini merupakan integrasi antara infrastruktur energi dan sektor pertanian.

Air dari sumur tanah dalam nantinya akan dipompa menggunakan energi listrik menuju jaringan irigasi yang langsung mengaliri sawah petani.

Dengan sistem ini, intensitas tanam dapat meningkat dari satu kali menjadi dua hingga tiga kali dalam setahun.

Kehadiran langsung Bupati Soppeng di lokasi survei menjadi sinyal kuat bahwa program ini masuk dalam prioritas utama pembangunan daerah.

Tidak hanya memberikan arahan dari balik meja, tetapi juga memastikan langsung kesiapan teknis di lapangan.

Langkah ini juga mempercepat proses penentuan titik-titik sumur bor yang benar-benar layak untuk tahap pengeboran berikutnya.

Dengan hadirnya sistem irigasi modern berbasis sumur bor tanah dalam, pemerintah daerah menargetkan tidak hanya peningkatan produksi pertanian, tetapi juga stabilitas ekonomi petani.

Di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin tidak menentu, program ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang agar sektor pertanian tetap kuat, produktif, dan berkelanjutan.

“Ini bukan hanya soal air, tapi soal masa depan pertanian kita,” menjadi pesan yang tersirat dari langkah besar ini.

(Red)

Lebih baru Lebih lama
Premium By Raushan Design With Shroff Templates