Makam Mr X di Sidoarjo, Belasan Jenazah Terduga Teroris Dimakamkan Tanpa Peziarah

Makam Mr X di Sidoarjo, Belasan Jenazah Terduga Teroris Dimakamkan Tanpa Peziarah


Sidoarjo, Kabartujuhsatu.news, Di tepi jalan raya, di tengah permukiman warga Magersari, Kecamatan Pucang, Kabupaten Sidoarjo, terdapat sebuah pemakaman yang nyaris tak berbeda dengan tempat pemakaman umum lainnya.

Namun, pemakaman ini menyimpan cerita berbeda. Di lahan tersebut, jenazah tanpa identitas alias Mr X hingga mereka yang ditolak masyarakat karena keterlibatannya dalam aksi terorisme dikebumikan.

Sedikitnya terdapat sekitar seratus batu nisan di lokasi tersebut. Nisan-nisan itu berdiri rapat di lahan yang terbatas, nyaris tanpa jarak satu sama lain.

Pemakaman tersebut dikelola oleh Dinas Sosial Kabupaten Sidoarjo dan selama ini menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi orang-orang yang tidak diketahui identitas maupun keluarganya.

Mereka antara lain orang dengan gangguan kejiwaan, pasien rumah sakit, korban kecelakaan tanpa identitas, hingga penghuni lingkungan Pondok Sosial (Liponsos).

Liponsos sendiri menjadi tempat penampungan sementara sekaligus pembinaan bagi kelompok masyarakat rentan, seperti orang dengan gangguan kejiwaan, gelandangan dan pengemis (gepeng), pekerja seks komersial (PSK), serta lanjut usia terlantar.

Dalam proses pemakaman, Dinas Sosial menyediakan lahan, batu nisan, papan kayu hingga mudin. Namun, sebelum jenazah dimakamkan, dilakukan terlebih dahulu serangkaian proses identifikasi, khususnya untuk memastikan status serta kemungkinan keberadaan keluarga.

Belasan Jenazah Terduga Teroris Dimakamkan

Pemakaman Mr X tersebut ternyata tidak hanya diperuntukkan bagi orang tanpa identitas yang meninggal di wilayah Sidoarjo.

Dalam beberapa tahun terakhir, lokasi itu juga menjadi tempat peristirahatan sejumlah terduga teroris yang tewas dalam berbagai peristiwa penindakan maupun aksi teror.

Diperkirakan sekitar 17 jenazah yang berkaitan dengan jaringan terorisme telah dimakamkan di lokasi tersebut.

Salah satu alasan jenazah mereka dimakamkan di sana karena sejumlah pelaku sebelumnya tercatat pernah tinggal atau memiliki keterkaitan dengan wilayah Sidoarjo.

Di antara nama yang disebut pernah dimakamkan di lokasi tersebut adalah Anton Ferdiantono, Sari Puspitasari dan Harlita Auliya Rachman. Ketiganya tewas dalam ledakan di Rusun Wonocolo, Taman, Sidoarjo.

Ada pula Moh Dari Satria, putra pelaku bom di Polrestabes Surabaya Tri Murtiono.

Kemudian Fadhila Sari dan Famela Rizqita, anak dari Dita Supriyanto, pelaku bom bunuh diri di GKI Jalan Diponegoro Surabaya.

Nama lainnya yakni Puji Kuswati, istri Dita Supriyanto, serta Moh Dafa Amin, putra Tri Murtiono.

Tri Murtiono bersama istrinya, Tri Ernawati, juga tercatat tewas dalam aksi bom bunuh diri di Polrestabes Surabaya.

Selain itu terdapat Hari Sudarwanto, terduga teroris asal Singosari, Malang, yang tewas ditembak dalam penangkapan di kawasan Kwadengan, Kelurahan Lemahputro, Kecamatan Kota, Sidoarjo.

Nama lainnya adalah Budi Satrio, terduga teroris yang tewas ditembak dalam penindakan di Perum Puri Maharani, Sukodono, Sidoarjo.

Kemudian Ilham Fauzan, yang tewas ditembak ketika diduga mengantarkan bahan peledak ke kawasan Urangagung, Kecamatan Kota, Sidoarjo.

Ada pula Dedi Sulistiantono, terduga teroris yang tewas dalam penangkapan di Manukan, Surabaya.

Nyaris Tak Ada Peziarah

Pertanyaannya, apakah ada keluarga atau masyarakat yang datang berziarah ke makam-makam tersebut?

Kondisinya justru berbeda dengan pemakaman umum pada umumnya.

Sebagian makam tidak diketahui keluarganya. Sementara untuk jenazah yang identitasnya diketahui, makam tersebut berkaitan dengan mereka yang pernah terlibat atau memiliki hubungan dengan jaringan terorisme.

Pantauan di lokasi menunjukkan, makam Mr X sekilas tidak memiliki perbedaan mencolok dengan pemakaman umum lainnya.

Perbedaannya terlihat pada tulisan di batu nisan.

Jika makam pada umumnya mencantumkan nama lengkap, tempat dan tanggal lahir serta tanggal meninggal, sejumlah nisan di pemakaman tersebut justru hanya diberi penanda sederhana.

Tulisan “Mr X” disertai nomor tertentu menjadi identitas pada sebagian makam.

Tanpa nama keluarga, tanpa karangan bunga, dan nyaris tanpa aktivitas peziarah, makam tersebut menjadi saksi bisu dari orang-orang yang meninggal tanpa diketahui atau tanpa lagi diterima oleh lingkungan sosialnya.

(Redho Fitriyadi)

Lebih baru Lebih lama
Premium By Raushan Design With Shroff Templates