Menyusuri Jejak Watansoppeng dari Masa ke Masa, dari Konfederasi Wanua hingga Kota Kalong

Menyusuri Jejak Watansoppeng dari Masa ke Masa, dari Konfederasi Wanua hingga Kota Kalong


Soppeng, Kabartujuhsatu.news, Sebuah foto lawas yang dibagikan Juliaman di media sosial dan terpantau media ini, Selasa (1/9/2026), menampilkan suasana kawasan Watansoppeng, ibu kota Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan.

Foto tersebut kembali mengingatkan publik pada perjalanan panjang sebuah kota yang tumbuh dari tradisi masyarakat, pemerintahan adat, masa kolonial, hingga berkembang menjadi pusat pemerintahan modern.

Dalam foto terlihat plang bertuliskan “WATANSOPPENG” yang berdiri di atas sebuah tugu atau gapura penanda wilayah. Di sekitar lokasi tampak warga dan aparat, sementara sebuah mobil pikap terlihat membawa atribut atau replika Vespa.

Meski tahun pengambilan foto belum dapat dipastikan, suasana visualnya diperkirakan berasal dari sekitar era 1980-an hingga 1990-an. Foto itu menjadi salah satu potongan sejarah visual yang memperlihatkan perubahan wajah Watansoppeng dari masa ke masa.

Berawal dari Wanua dan Konfederasi Lipu Soppeng

Jauh sebelum mengenal bentuk pemerintahan modern, wilayah Soppeng pada masa awal terdiri atas sejumlah wanua, yakni wilayah permukiman yang masing-masing memiliki pemimpin atau tetua adat bergelar Matoa.

Wanua-wanua tersebut kemudian terikat dalam sebuah konfederasi yang dikenal sebagai Lipu Soppeng atau Tanah Soppeng.

Dalam tradisi sejarah lokal, sejumlah pemuka masyarakat disebut bersepakat membangun tatanan bersama untuk menghadapi masa kekacauan dan kelaparan yang dikenal dengan ungkapan sianre bale taue.

Ungkapan dalam tradisi Bugis tersebut menggambarkan keadaan ketika kehidupan masyarakat berada dalam situasi kacau, sehingga manusia digambarkan saling memangsa seperti ikan.

Pembentukan tatanan bersama itu menjadi bagian penting dari perjalanan awal terbentuknya pemerintahan dan kehidupan sosial masyarakat Soppeng.

Munculnya Kedatuan Soppeng

Dalam perkembangan berikutnya, muncul sosok To Manurung ri Sekkanyili, La Temmamala, yang kemudian diangkat sebagai Datu atau raja pertama Soppeng.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah pemerintahan Soppeng.

Sistem pemerintahan adat yang sebelumnya tersebar di sejumlah wanua kemudian berkembang menjadi kedatuan dengan struktur kekuasaan yang lebih terorganisasi.

Jejak masa tersebut masih dapat ditemukan melalui sejumlah situs dan peninggalan budaya yang tersebar di wilayah Soppeng, antara lain kawasan bekas pusat pemerintahan kerajaan, rumah adat Bola Ridie, menhir Latammapole, serta kompleks makam raja-raja Soppeng yang dikenal sebagai Jera Lompoe.

Jejak Kolonial di Watansoppeng

Memasuki awal abad ke-20, wajah Watansoppeng kembali mengalami perubahan seiring semakin kuatnya pengaruh pemerintahan kolonial Belanda di Sulawesi Selatan.

Salah satu peninggalan paling ikonik dari periode tersebut adalah Villa Yuliana, sebuah bangunan bergaya arsitektur Indis yang pembangunannya berlangsung pada awal abad ke-20.

Bangunan tersebut menjadi salah satu penanda sejarah perkembangan Watansoppeng sekaligus memperlihatkan pertemuan antara unsur arsitektur Eropa dan budaya lokal.

Kini, bangunan bersejarah tersebut dikenal sebagai Museum Latemmamala, dan menjadi salah satu tempat yang menyimpan berbagai jejak sejarah Soppeng.

Pada periode itu pula, kawasan pusat kota dan aktivitas perdagangan mengalami perkembangan. Pasar Watansoppeng tempo dulu menjadi bagian penting dari kehidupan ekonomi masyarakat.

Seiring perubahan zaman, kawasan tersebut mengalami perubahan fungsi dan wajah. Di era modern, salah satu kawasan pusat kota kemudian dikenal sebagai Taman Kalong, ruang publik yang menjadi salah satu ikon Watansoppeng.

Dari Swapraja Menuju Kabupaten Soppeng

Setelah Indonesia merdeka, sistem pemerintahan tradisional dan swapraja mengalami perubahan besar seiring proses integrasi berbagai daerah ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Soppeng kemudian memasuki fase pemerintahan daerah dalam sistem Republik Indonesia dan berkembang menjadi salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan.

Perubahan tersebut menandai pergeseran dari pemerintahan berbasis wanua dan kedatuan menuju sistem pemerintahan kabupaten dengan Watansoppeng sebagai pusat pemerintahan.

Watansoppeng dan Identitas Kota Kalong

Kini, Watansoppeng telah berubah jauh dibandingkan suasana kota yang terekam dalam foto lawas tersebut.

Gedung pemerintahan, fasilitas pendidikan, jalan, pusat perdagangan hingga ruang publik terus berkembang mengikuti pertumbuhan masyarakat dan kebutuhan zaman.

Namun, di tengah modernisasi tersebut, Watansoppeng tetap memiliki identitas yang khas.

Salah satu yang paling menonjol adalah keberadaan kalong, sebutan masyarakat setempat untuk kelelawar berukuran besar yang hidup dan bergelantungan di pepohonan tua di kawasan pusat kota.

Keberadaan satwa tersebut kemudian melahirkan julukan “Kota Kalong”, identitas yang hingga kini melekat kuat pada Soppeng.

Kalong bukan sekadar bagian dari pemandangan pusat kota. Keberadaannya juga menjadi bagian dari cerita dan daya tarik wisata Watansoppeng yang membedakannya dari daerah lain.

Foto Lawas, Cerita yang Tak Pernah Usai

Perjalanan Watansoppeng pada akhirnya bukan hanya cerita tentang perubahan bangunan, jalan maupun pusat pemerintahan.

Di balik wajah kota modern, tersimpan jejak panjang masyarakat Soppeng yang bermula dari wanua-wanua yang dipimpin Matoa, berkembang dalam konfederasi Lipu Soppeng, memasuki era kedatuan, melewati masa kolonial, kemudian bertransformasi menjadi bagian dari pemerintahan Indonesia.

Foto lawas dengan tulisan “WATANSOPPENG” itu seolah menjadi jendela kecil menuju masa lalu.

Sebuah gambar yang mungkin sederhana, tetapi menyimpan cerita tentang sebuah kota yang terus berubah mengikuti zaman, sementara sejarah, budaya dan identitasnya tetap menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Soppeng.

(Red)

Lebih baru Lebih lama
Premium By Raushan Design With Shroff Templates