Makassar, Musda Golkar Sulsel kali ini sebenarnya tidak perlu dibaca seperti sinetron yang selalu mencari tokoh antagonis. Tidak setiap pergantian ketua harus melahirkan kubu yang patah hati. Kadang, yang dibutuhkan partai justru pembagian peran yang masuk akal.
Memilih Ilham Arief Sirajuddin (IAS) sebagai ketua bukan berarti Golkar sedang bernostalgia. Ini lebih mirip orang memilih sopir bus antarkota yang sudah hafal semua jalan tikus di Sulawesi Selatan. Kalau tujuannya konsolidasi, ya pilih yang memang sejak lama dikenal punya daya jelajah politik yang luas.
IAS bukan hanya punya nomor telepon banyak orang. Ia punya hubungan yang sudah teruji oleh waktu. Dalam politik, jaringan itu seperti sinyal internet. Semua orang mengaku punya, tapi baru terasa nilainya saat dibutuhkan. IAS selama bertahun-tahun membangun jejaring lintas daerah, lintas generasi, dan lintas kepentingan.
Kalau bicara elektoral, rekam jejaknya juga bukan hasil polling grup WhatsApp. Ia pernah bertarung di Pilgub Sulsel 2014 dan mengumpulkan sekitar 1,8 juta suara. Itu bukan angka kecil. Di Makassar, IAS juga pernah dua kali memenangkan pemilihan wali kota. Artinya, ia sudah pernah merasakan bagaimana membangun mesin politik dari tingkat lorong sampai kabupaten.
Lalu bagaimana dengan Munafri Arifuddin?
Nah, di sinilah sering kali publik terlalu gemar membuat drama. Seolah-olah politik itu pertandingan final yang hanya menyisakan satu pemenang. Padahal partai politik bukan acara eliminasi bakat.
Justru Golkar membutuhkan Appi tetap berada di dalam rumah besar partai. Masa depan politiknya masih sangat panjang. Sebagai Wali Kota Makassar, ia punya kesempatan membangun rekam jejak pemerintahan yang baik dengan dukungan penuh Golkar. Posisi itu jauh lebih strategis daripada sekadar memenangkan satu kontestasi internal.
Ada lagi keuntungan yang sering luput diperhatikan. Jika Appi tetap menjadi figur utama Golkar di Makassar, otomatis ruang bagi kader Golkar lain untuk mulai ancang-ancang menjadi calon wali kota berikutnya menjadi jauh lebih sempit. Politik selalu menyukai ruang kosong. Jangan beri ruang itu terlalu cepat.
Apalagi Pilwali Makassar 2031 akan berbeda. Saat itu Munafri bukan lagi petahana. Status "mantan wali kota" tidak otomatis membuat jalan mulus. Justru pada fase itulah biasanya bermunculan tokoh-tokoh baru yang merasa sudah waktunya mengganti pemain lama. Politik tidak pernah kekurangan orang yang percaya diri.
Karena itu, menjaga Appi tetap kuat di Golkar hari ini sebenarnya adalah investasi untuk pertarungan lima tahun ke depan. Daripada sibuk mencari pelabuhan baru, lebih baik memperbesar kapal yang sudah ada.
Kalau dianalogikan sebagai sepak bola, IAS mungkin cocok menjadi pelatih yang paham ruang ganti dan tahu cara menyatukan pemain. Sementara Appi adalah striker muda yang masih punya banyak musim untuk mencetak gol. Tim yang cerdas tidak menjual strikernya hanya karena sedang mengganti pelatih.
Pada akhirnya, kemenangan partai tidak lahir karena siapa paling sering menjadi trending topic. Ia lahir dari kemampuan menyusun peran. IAS mengonsolidasikan Sulawesi Selatan, Appi memperkuat Makassar. Yang satu memperluas jangkauan, yang satu menjaga benteng.
Jadi, mungkin inilah saatnya berhenti bertanya, "Siapa yang menang?" dan mulai bertanya, "Bagaimana Golkar bisa menang lebih lama?"
Sebab partai besar bukan yang paling sering bertepuk tangan setelah Musda. Partai besar adalah yang masih bisa tersenyum ketika pemilu berikutnya tiba.
#NurmalMIND
