Soppeng, Kabartujuhsatu.news,– Sebuah pertemuan sederhana di salah satu warung kopi di Kabupaten Soppeng mendadak berubah menjadi ajang nostalgia yang penuh cerita dan kenangan. Sejumlah tokoh yang pernah aktif dalam organisasi kepemudaan terkenal pada era 1980-an berkumpul kembali setelah puluhan tahun berpisah. Kamis (18/6/2026).
Pertemuan tersebut mempertemukan para mantan anggota Young People Family (YPF) dan Forty Two (42), dua organisasi anak muda yang pernah berjaya dan menjadi bagian dari dinamika kehidupan generasi muda Soppeng pada masanya.
YPF dikenal bermarkas di Kota Watansoppeng, sementara Forty Two (42) berpusat di Cabenge, Kecamatan Lili Rilau. Pada era itu, kedua organisasi tersebut cukup dikenal di kalangan anak muda dan menjadi wadah berkumpul, berkreasi, serta menyalurkan berbagai aktivitas sosial maupun kepemudaan.
Dalam reuni penuh keakraban tersebut hadir sejumlah senior YPF, di antaranya Didu, Andi Abd Haris Dr. Andi Zainal, Herul Saleh, Muli Samadina,Nyompa dan Agus Gundel. Sementara dari Forty Two (42), hadir Deng Rustam yang juga dikenal sebagai salah satu tokoh yang aktif pada masa kejayaan organisasi tersebut.
Yang paling menarik perhatian dalam pertemuan itu adalah pengakuan Andi Haris yang mengungkapkan bahwa dirinya baru kembali bertemu dengan Didu setelah sekitar empat dekade berpisah.
“Kurang lebih 40 tahun saya baru bertemu kembali dengan Deng Didu,” ungkap Andi Haris sambil mengenang masa-masa muda mereka.
Pernyataan tersebut langsung mengundang perhatian peserta reuni lainnya. Pasalnya, perjalanan waktu selama empat puluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Banyak perubahan yang telah terjadi dalam kehidupan masing-masing, mulai dari karier, keluarga hingga tempat tinggal.
Hal senada juga disampaikan oleh Dr. Andi Zainal yang saat ini mengabdi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia.
Menurutnya, pertemuan seperti ini memiliki makna yang sangat penting karena menjadi sarana mempererat kembali hubungan persahabatan yang pernah terjalin erat pada masa muda.
Suasana pertemuan semakin hangat ketika para peserta mulai saling mengingat berbagai peristiwa yang pernah mereka alami bersama. Tawa dan canda silih berganti mengiringi cerita-cerita lama yang kembali diungkit setelah puluhan tahun tersimpan dalam ingatan.
Salah satu cerita yang paling banyak mengundang gelak tawa datang dari Deng Rustam. Ia mengenang kehidupan remaja pada era 1980-an yang menurutnya penuh warna dan dinamika.
“Kalau dikenang sekarang memang lucu. Dulu banyak kenakalan remaja yang kami lakukan. Mulai dari tawuran hingga perselisihan antar kelompok atau klub. Tapi itu semua adalah bagian dari perjalanan hidup anak muda pada zamannya,” ujar Rustam.
Meski demikian, Rustam menegaskan bahwa pengalaman tersebut cukup menjadi kenangan dan pelajaran hidup yang berharga.
“Tidak perlu terulang lagi. Zaman sudah berubah. Yang baik kita ambil sebagai pelajaran, yang kurang baik cukup menjadi bagian dari sejarah kehidupan kita,” katanya.
Perbincangan kemudian berkembang membahas bagaimana perubahan kehidupan sosial generasi muda dari masa ke masa. Jika pada era 1980-an anak-anak muda lebih banyak berinteraksi secara langsung melalui organisasi dan kegiatan lapangan, saat ini pola pergaulan telah banyak berubah dengan hadirnya teknologi digital dan media sosial.
Para peserta reuni sepakat bahwa organisasi kepemudaan pada masa lalu memiliki peran besar dalam membentuk karakter, solidaritas, dan jiwa kepemimpinan para anggotanya.
Dari organisasi itulah mereka belajar tentang kebersamaan, tanggung jawab, serta pentingnya menjaga hubungan sosial dalam masyarakat.
Meskipun telah puluhan tahun berlalu, semangat persaudaraan yang pernah dibangun melalui organisasi tersebut ternyata tetap terjaga hingga hari ini. Hal itu terlihat dari keakraban yang terjalin selama pertemuan berlangsung.
Bagi mereka, reuni bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga menjadi momentum untuk mensyukuri perjalanan hidup yang telah dilalui. Sebagian telah memasuki masa pensiun, sebagian lainnya masih aktif berkarier, namun semuanya sepakat bahwa persahabatan yang terjalin sejak muda merupakan aset berharga yang tidak ternilai.
Pertemuan sederhana yang ditemani secangkir kopi itu akhirnya menjadi saksi bahwa waktu boleh berlalu, usia boleh bertambah, tetapi kenangan dan persahabatan sejati tetap hidup dalam ingatan.
Empat puluh tahun berpisah tidak mampu menghapus kedekatan yang pernah terjalin. Sebaliknya, reuni tersebut justru menjadi bukti bahwa tali silaturahmi akan selalu menemukan jalannya untuk kembali menyatukan mereka yang pernah tumbuh dan berjuang bersama pada zamannya.
“Kami mungkin sudah tidak muda lagi, tetapi persahabatan ini tetap muda,” ujar salah seorang peserta reuni yang disambut senyum dan tawa para sahabat lamanya.
(Red)


