Mandailing Natal, Kabartujuhsatu.news, Dampak black out besar-besaran yang melanda Pulau Sumatera akhirnya mulai memakan korban dari sektor usaha rakyat. Bukan hanya aktivitas warga yang lumpuh akibat padamnya listrik berjam-jam, para peternak ikan di daerah juga kini harus menelan kerugian fantastis.
Peristiwa memilukan itu terjadi di Kenzi Berkah Semesta Farm Madina yang berada di Jalan Stadion, Desa Sarak Matua, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal.
Ratusan kilogram ikan budidaya dilaporkan mati mendadak setelah sistem aerator di kolam berhenti total akibat listrik padam.
Kondisi kolam yang biasanya dipenuhi gelembung udara mendadak berubah mencekam. Tanpa oksigen dan tanpa sirkulasi air, ikan-ikan di dalam kolam mulai megap-megap hingga akhirnya mati massal.
“Begitu listrik mati, aerator langsung berhenti. Tidak lama kemudian ikan mulai lemas dan mengapung,” ujar Pak Lek, salah seorang pekerja tambak, Senin (25/05).
Menurutnya, kondisi terparah terjadi karena pemadaman tidak hanya sekali, tetapi berulang kali dalam beberapa hari terakhir. Akibatnya, ikan yang sudah masuk masa panen pun tidak bisa diselamatkan.
“Yang mati bukan cuma bibit kecil. Banyak ikan konsumsi yang sebenarnya tinggal dipanen,” katanya dengan nada sedih.
Sedikitnya 12 kolam budidaya terdampak dalam kejadian tersebut. Bangkai ikan terlihat memenuhi permukaan kolam terpal, sementara para pekerja hanya bisa mengevakuasi ikan-ikan mati satu per satu.
Kerugian yang dialami diperkirakan mencapai Rp80 juta. Nilai itu belum termasuk biaya pakan, perawatan kolam, hingga tenaga operasional yang sudah berjalan selama berbulan-bulan.
Black out yang sebelumnya dilaporkan melanda sejumlah wilayah di Sumatera seperti Sumatera Utara, Aceh, Sumatera Barat, Riau, Jambi hingga Lampung kini memunculkan keresahan baru di kalangan pelaku usaha kecil.
Pasalnya, banyak usaha modern saat ini bergantung penuh pada listrik nonstop selama 24 jam. Sekali saja aliran listrik terputus dalam waktu lama, maka seluruh sistem produksi bisa lumpuh total.
Bagi peternak ikan seperti di Madina, listrik bukan lagi sekadar penerangan, tetapi nyawa utama usaha mereka.
Kini, harapan panen yang sebelumnya ditunggu-tunggu berubah menjadi kerugian besar. Di balik padamnya lampu kota malam itu, ada usaha rakyat yang ikut tenggelam bersama matinya ikan-ikan di dasar kolam.
(Magrifatulloh)
