Soppeng, Kabartujuhsatu.news, Media sosial kembali menjadi arena panas perbincangan politik daerah. Kali ini, pernyataan Agus Setiawan PH Rauf soal dugaan praktik “politik belah bambu” mendadak viral dan memicu gelombang reaksi publik di Facebook.
Ungkapan yang menyebut pola “mengangkat yang satu, menginjak yang lain” langsung menyentuh perhatian masyarakat.
Dalam waktu singkat, potongan pernyataan tersebut menyebar luas di berbagai akun dan grup Facebook lokal, memancing komentar tajam dari warganet.
Banyak masyarakat menilai kalimat itu bukan sekadar sindiran biasa. Publik melihatnya sebagai kritik terbuka terhadap dinamika kekuasaan yang dianggap mulai menunjukkan adanya perlakuan berbeda di tengah lingkaran politik dan birokrasi.
Kolom komentar pun dipenuhi beragam pandangan. Sebagian warga mengaku sudah lama merasakan adanya kelompok tertentu yang dianggap lebih dekat dengan kekuasaan, sementara pihak lain mulai tersisih perlahan.
“Kalau benar ada politik pilih kasih, tentu rakyat bisa menilai sendiri,” tulis salah satu akun Facebook yang ikut ramai berkomentar yang terpantau Media ini, Sabtu (16/5/2026).
Tak sedikit pula yang menyebut istilah “belah bambu” sangat relevan dengan kondisi politik saat ini. Dalam istilah politik lokal, pola tersebut sering dimaknai sebagai strategi mempertahankan kelompok tertentu sambil melemahkan pihak lain secara perlahan tanpa konfrontasi terbuka.
Situasi ini kemudian berkembang menjadi pembahasan yang lebih luas. Publik mulai mengaitkan isu tersebut dengan mutasi jabatan, distribusi posisi strategis, hingga arah dukungan politik menjelang momentum-momentum penting di daerah.
Pengamat sosial-politik menilai fenomena ini tidak boleh dianggap remeh. Media sosial saat ini bukan lagi sekadar tempat berbagi opini, melainkan ruang pembentukan persepsi publik yang sangat kuat pengaruhnya terhadap stabilitas politik daerah.
“Ketika masyarakat mulai merasa ada ketidakadilan perlakuan, maka reaksi emosional akan mudah terbentuk. Apalagi jika komunikasi politik elit tidak mampu menjelaskan situasi secara terbuka,” ujar salah satu pengamat lokal yang ikut menyoroti polemik tersebut.
Di sisi lain, sebagian masyarakat meminta agar semua pihak tetap menjaga situasi tetap kondusif dan tidak menjadikan perbedaan pandangan sebagai pemicu konflik baru di tengah masyarakat.
Meski demikian, derasnya komentar yang terus bermunculan menunjukkan satu hal penting: publik kini semakin berani membaca arah permainan politik dan tidak lagi hanya menjadi penonton pasif.
Bola panas “politik belah bambu” kini telanjur bergulir liar di media sosial. Dan hingga saat ini, perdebatan di Facebook masih terus berlangsung tanpa tanda-tanda mereda.
(Red)
