Makassar, Kabartujuhsatu.news, Menjelang pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) XX Partai Golkar Sulawesi Selatan, dinamika politik internal partai berlambang pohon beringin itu semakin menyita perhatian publik. Konsolidasi yang digelar di berbagai daerah bukan hanya menjadi ajang penguatan struktur partai, tetapi juga memunculkan spekulasi kuat soal sosok yang disebut-sebut bakal memimpin Golkar Sulsel ke depan.
Konsolidasi terakhir yang dipusatkan di Soppeng, Sabtu (16/5/2026), menjadi penutup rangkaian safari politik Plt Ketua Golkar Sulsel, Muhiddin M Said di tiga daerah pemilihan Sulawesi Selatan.
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Lapatau itu dihadiri kader, pengurus daerah, hingga para pemilik suara yang nantinya akan menentukan arah kepemimpinan Golkar Sulsel dalam Musda mendatang.
Dalam sambutannya, Muhiddin mengungkapkan bahwa hingga saat ini hanya Sulawesi Selatan dan Sumatra yang belum melaksanakan Musda Partai Golkar.
Pernyataan tersebut langsung memantik perhatian peserta konsolidasi karena dianggap menjadi sinyal penting bahwa momentum penentuan Ketua Golkar Sulsel semakin dekat.
Muhiddin juga berharap seluruh kader tetap menjaga soliditas partai dan mengedepankan persatuan politik menjelang Musda.
“Kita berharap Musda Golkar Sulsel nantinya berjalan lancar dan bisa melahirkan keputusan terbaik untuk partai,” ujarnya.
Namun, yang paling menyita perhatian adalah harapannya agar Musda Golkar Sulsel dapat berlangsung secara aklamasi. Pernyataan itu memunculkan tafsir luas di kalangan kader dan pengamat politik bahwa arah dukungan elite partai kemungkinan mulai mengerucut pada satu figur tertentu.
Pengamat politik sekaligus Direktur Nurani Strategic, Nurmal Idrus bahkan menilai dinamika yang terjadi saat ini bukan sekadar proses internal biasa, melainkan bagian dari strategi komunikasi politik tingkat tinggi yang sengaja dirawat.
Menurutnya, isu Musda Golkar Sulsel terus dimainkan secara terukur agar partai tetap menjadi pusat perhatian publik di tengah situasi politik nasional yang relatif tenang.
“Isu Musda ini dikelola dengan sangat cerdas untuk menjaga political engagement dan memastikan Golkar tetap menjadi episentrum perbincangan publik,” kata Nurmal, Minggu (17/5/2026).
Ia bahkan menyebut adanya indikasi kuat bahwa keputusan mengenai figur Ketua Golkar Sulsel sebenarnya telah mengarah pada satu nama yang mendapat restu dari pusat.
“Saya melihat Jakarta sebenarnya sudah mengunci figur 01 Golkar Sulsel. Dinamika yang sengaja dirawat saat ini adalah strategi untuk mendominasi panggung opini di saat partai politik lain tengah berada dalam fase ‘hibernasi’ politik,” tandasnya.
Pernyataan tersebut langsung memunculkan spekulasi baru di kalangan internal Golkar Sulsel. Sejumlah kader mulai membaca arah politik elite pusat yang dinilai ingin memastikan Musda berlangsung aman tanpa gejolak berarti.
Di sisi lain, konsolidasi yang dilakukan Muhiddin di berbagai dapil juga dianggap sebagai langkah strategis untuk memastikan kekuatan mesin partai tetap solid menghadapi agenda politik ke depan, termasuk Pemilu 2029.
Situasi ini membuat Musda Golkar Sulsel bukan lagi sekadar agenda pergantian ketua daerah, tetapi telah berkembang menjadi pertarungan gengsi politik yang mendapat perhatian serius dari elite nasional.
Dengan semakin menguatnya isu aklamasi dan munculnya sinyal dukungan dari Jakarta, publik kini menunggu siapa sosok yang akan resmi menjadi nahkoda baru Golkar Sulawesi Selatan.
(Red)
