Soppeng, Kabartujuhsatu.news, Open house Wakil Bupati Soppeng tahun ini menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat. Sejak pagi hari, rumah jabatan sudah dipadati warga dari berbagai kalangan yang datang silih berganti untuk bersilaturahmi dan menikmati suasana penuh keakraban bersama pemimpin daerah mereka.
Kepadatan kendaraan terlihat di sejumlah ruas jalan sekitar rumah jabatan. Warga datang bersama keluarga, kerabat, hingga sahabat mereka. Namun, yang paling terasa bukan sekadar ramainya acara, melainkan suasana hangat yang dipenuhi tawa, salaman, dan obrolan khas masyarakat Bugis yang sarat nilai kekeluargaan.
Banyak warga mengaku hadir bukan hanya untuk menghadiri kegiatan seremonial ataupun menikmati hidangan yang disiapkan.
Kehadiran mereka disebut sebagai bentuk kedekatan emosional dengan sosok pemimpin yang selama ini dianggap dekat dengan masyarakat dan mudah ditemui kapan saja.
“Beliau memang sering turun langsung melihat kondisi masyarakat. Jadi masyarakat juga merasa dekat,” ujar salah satu warga yang hadir di lokasi, Jumat (29/5/2026).
Suasana semakin terasa istimewa karena tidak terlihat adanya sekat sosial di tengah masyarakat yang hadir. Warga duduk bersama tanpa membedakan latar belakang, usia, maupun status sosial. Nilai budaya Bugis seperti sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge tampak begitu hidup sepanjang kegiatan berlangsung.
Masyarakat menilai suasana tersebut menjadi gambaran bahwa budaya kebersamaan masyarakat Soppeng masih terjaga kuat di tengah perkembangan zaman dan dinamika politik yang kerap memunculkan perbedaan.
Ketua Markas Cabang Laskar Merah Putih Soppeng, Sahar, turut memberikan tanggapan terkait antusiasme masyarakat yang memadati open house Wakil Bupati tersebut.
“Begini memang karakter masyarakat Soppeng. Narekko ada pemimpin taue riolo ri rakyatna, rakyat to polei mappoji. Tapi narekko pemimpinna masseddi siri’na ri masyarakat, masyarakat to mappoji toi,” ujarnya.
Menurut Sahar, kedekatan antara pemimpin dan rakyat menjadi faktor utama yang membuat masyarakat datang dengan sukarela tanpa ada paksaan ataupun mobilisasi tertentu.
“Rakyat Soppeng itu sederhana. Mereka hanya ingin dihargai dan dianggap bagian dari keluarga besar daerah ini. Kalau pemimpin mau menyapa, mau duduk bersama, dan mau mendengar masyarakat, itu sudah lebih dari cukup,” katanya.
Ia menilai suasana open house kali ini menghadirkan nuansa yang mulai jarang ditemukan di berbagai daerah, yakni hubungan yang benar-benar cair antara pemimpin dan masyarakatnya.
“Orang datang bukan karena takut atau diarahkan. Mereka datang karena memang ingin hadir. Itu menandakan adanya rasa hormat dan rasa memiliki terhadap pemimpinnya,” terang Sahar.
Di tengah situasi politik yang sering diwarnai perbedaan pandangan dan saling sindir, suasana open house tersebut justru menghadirkan pemandangan yang menyejukkan.
Banyak warga berharap suasana seperti itu tetap dipertahankan karena menjadi modal penting dalam menjaga persatuan dan kekompakan masyarakat.
“Pemimpin bukan hanya soal jabatan atau kekuasaan. Tapi bagaimana masyarakat merasa nyaman ketika berada di dekatnya,” tutur seorang warga lainnya.
Kegiatan open house tersebut pun menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat Soppeng. Tidak sedikit warga yang menyebut acara itu sebagai simbol masih kuatnya budaya Bugis yang menjunjung tinggi penghormatan, kebersamaan, dan hubungan sosial antarmasyarakat.
Bagi masyarakat yang hadir, open house kali ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan ruang silaturahmi yang memperlihatkan bahwa hubungan antara pemimpin dan rakyat dapat terjalin dengan hangat tanpa batas dan sekat.

