Soppeng, Kabartujuhsatu.news, Camat Ganra, Muhammad Lutfi, SE, MM menyampaikan bahwa keberangkatan jamaah saat ini mencakup dua kloter sekaligus, yakni Kloter 41 sebanyak 235 orang dan Kloter 43 sebanyak 7 orang, sehingga total keberangkatan gabungan mencapai 242 jamaah.
“Untuk tahun ini keberangkatan jamaah Kloter 41 dan 43 diberangkatkan secara bersamaan. Totalnya 235 ditambah 7 orang,” ujarnya saat ditemui di warkop Camidu usai mamantau para CJH asal Ganra, Selasa Subuh (19/5/2026).
Ia menegaskan bahwa seluruh jamaah telah melalui proses administrasi dan pemeriksaan kesehatan sesuai ketentuan, sehingga siap diberangkatkan menuju Embarkasi Makassar.
Lebih lanjut, Camat Lutfi menjelaskan bahwa setelah bertolak dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, para jamaah tidak lagi transit di Madinah seperti pola keberangkatan sebelumnya.
“Setelah dari Makassar, jamaah langsung menuju Makkah tanpa singgah di Madinah terlebih dahulu,” jelasnya.
Skema ini merupakan bagian dari pola perjalanan haji gelombang tertentu yang menyesuaikan dengan jadwal penerbangan dan pengaturan kepadatan di Arab Saudi.
Berdasarkan data rekapitulasi Kloter 41, jumlah jamaah menunjukkan dominasi signifikan dari kalangan perempuan.
Laki-laki: 64 orang
Perempuan: 171 orang
Dengan demikian, jumlah jamaah perempuan hampir tiga kali lipat dibandingkan laki-laki. Kondisi ini menunjukkan tingginya partisipasi perempuan dalam pelaksanaan ibadah haji tahun ini.
Dari sisi usia, jamaah Kloter 41 memiliki rentang yang cukup luas, mencerminkan keberagaman latar belakang peserta.
Jemaah tertua: Akkabe Sulle (85 tahun) – asal Ganra.
Jemaah termuda: Fitriani H. Lamosi (27 tahun) – asal Ganra
Rentang usia ini menunjukkan bahwa keberangkatan haji diikuti oleh berbagai kelompok usia, mulai dari usia muda hingga lanjut usia yang memerlukan perhatian dan pendampingan khusus selama perjalanan.
Jemaah yang tergabung dalam Kloter 41 dan 43 berasal dari sejumlah kecamatan di Kabupaten Soppeng dengan distribusi sebagai berikut:
Marioriwawo: 102 orang (terbanyak)
Ganra: 54 orang
Donri-Donri: 40 orang
Lalabata: 15 orang
Lilirilau: 17 orang
Marioriawa: 3 orang
Citta: 2 orang
Liliriaja: 2 orang
Dari data tersebut, Kecamatan Marioriwawo menjadi penyumbang jamaah terbesar, sementara beberapa kecamatan lain hanya mengirimkan dalam jumlah kecil.
Selain jamaah reguler, terdapat juga kategori khusus dalam keberangkatan ini, yaitu:
Mutasi lokal: 5 orang
Mutasi provinsi: 5 orang
Pendamping/penggabungan: 25 orang
Kategori ini menunjukkan adanya fleksibilitas dalam sistem keberangkatan, terutama bagi jamaah yang berpindah wilayah administrasi maupun yang berangkat bersama keluarga sebagai pendamping.
Secara keseluruhan, keberangkatan Kloter 41 dan 43 dari Soppeng menunjukkan dinamika sosial dan administratif yang cukup kompleks namun tetap terorganisir.
Beberapa poin penting yang dapat dicatat antara lain:
Keberangkatan gabungan kloter memperlihatkan efisiensi pengaturan jamaah.
Dominasi jamaah perempuan menjadi karakter utama dalam kloter ini.
Marioriwawo sebagai penyumbang terbesar menunjukkan konsentrasi jamaah dari wilayah tertentu.
Rentang usia yang luas menegaskan bahwa ibadah haji diikuti oleh berbagai kelompok usia.
Skema perjalanan langsung ke Makkah menjadi perubahan penting dalam pola keberangkatan tahun ini.
Keberangkatan jamaah calon haji Kloter 41 dan 43 ini menjadi momentum penting bagi masyarakat Kabupaten Soppeng. Selain menjadi perjalanan spiritual, kegiatan ini juga mencerminkan kesiapan pemerintah daerah dan panitia dalam mengelola keberangkatan jamaah secara tertib dan terstruktur.
Dengan dukungan berbagai pihak, diharapkan seluruh jamaah dapat menjalankan ibadah haji dengan lancar, sehat, dan kembali ke tanah air sebagai haji yang mabrur.
(Red)
