Bali, Kabartujuhsatu.news,– Pemerintah Provinsi Bali kini benar-benar “tancap gas” dalam menangani krisis sampah yang selama ini menjadi perhatian serius.
Salah satu langkah besar yang tengah dipercepat adalah pembangunan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di kawasan TPA Suwung, Pesanggaran.
Proyek ambisius ini bukan proyek biasa. PSEL Suwung masuk dalam tujuh proyek prioritas nasional, yang dirancang untuk mengubah persoalan sampah perkotaan menjadi sumber energi bersih dan berkelanjutan.
Kerja sama strategis ini melibatkan Pemerintah Provinsi Bali bersama Pemerintah Kota Denpasar dan Kabupaten Badung.
Targetnya jelas, menghadirkan solusi permanen bagi permasalahan sampah yang terus meningkat setiap harinya.
Dukungan terhadap proyek ini juga datang dari kalangan pengusaha muda Bali. Salah satunya adalah Made Hiroki, pengusaha asal Gianyar yang dikenal aktif dalam pengembangan inovasi dan bisnis melalui Aksara Cristy Legal.
Saat ditemui awak media pada Rabu (15/04/2026), Hiroki menyampaikan dukungan penuh terhadap pembangunan infrastruktur PSEL di TPA Suwung.
“Kami sangat mendukung pembangunan infrastruktur Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik ini. Fasilitas di TPA Suwung dirancang mampu mengolah hingga 1.000 ton sampah per hari dari Denpasar dan Badung,” ungkapnya.
Tak hanya mendukung, Hiroki juga menghadirkan gebrakan baru. Ia berencana memperkenalkan sebuah teknologi pengolahan sampah modern bernama Propolis, yang diklaim menggunakan teknologi dari Jepang.
Yang menarik, teknologi ini disebut mampu mengolah sampah tanpa menghasilkan asap, sehingga lebih ramah lingkungan dan cocok untuk kawasan seperti Bali yang mengandalkan sektor pariwisata.
Dalam waktu dekat, Hiroki akan menggelar acara khusus untuk memperkenalkan teknologi tersebut kepada para pemangku kebijakan.
Acara ini rencananya akan dihadiri oleh Gubernur Bali, Wakil Gubernur Bali, Wali Kota Denpasar, Bupati Badung, serta pejabat daerah se-Bali.
Acara tersebut akan dilaksanakan di Pamela Restaurant, Renon, pada Jumat, pukul 13.00 WITA mendatang.
Tak tanggung-tanggung, pihaknya juga akan menghadirkan langsung ahli dari Jepang untuk memaparkan teknologi pengolahan sampah tersebut secara detail.
“Kami ingin memperkenalkan solusi nyata yang bisa diterapkan di Bali, dengan teknologi yang bersih dan modern,” tambah Hiroki.
Kehadiran proyek PSEL Suwung dan inovasi teknologi seperti Propolis menjadi angin segar bagi Bali dalam menghadapi persoalan sampah yang semakin kompleks.
Terobosan yang diinisiasi oleh generasi muda ini diharapkan mampu menjadi momentum perubahan menuju Bali yang lebih bersih, mandiri energi, dan berkelanjutan.
Apakah ini akan menjadi solusi akhir krisis sampah di Pulau Dewata?, Publik kini menanti realisasi nyata dari langkah besar ini.
(Megy)










