Dibekukan di Detik Terakhir! SMA Muhammadiyah Ulul Albab Soppeng Gagal Berdiri, Alumni Kecewa Berat -->
  • Jelajahi

    Copyright © kabartujuhsatu.news
    Best Viral Premium Blogger Templates

     


    Daftar Blog Saya

    Dibekukan di Detik Terakhir! SMA Muhammadiyah Ulul Albab Soppeng Gagal Berdiri, Alumni Kecewa Berat

    Kabartujuhsatu
    Senin, 13 April 2026, April 13, 2026 WIB Last Updated 2026-04-13T07:41:24Z
    masukkan script iklan disini


    Soppeng, Kabartujuhsatu.news, Keputusan mengejutkan datang dari Dewan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Soppeng. Di saat seluruh persiapan telah matang, bahkan menjelang penerimaan siswa baru tahun ajaran 2026–2027, rencana pendirian SMA Muhammadiyah Ulul Albab justru resmi ditangguhkan.


    Sekolah yang digadang-gadang hadir dengan konsep modern berbasis Al-Qur’an ini sebelumnya menjadi harapan baru dunia pendidikan di Soppeng.


    Mengusung tiga pilar utama, Tahfidz, Sains, dan Digital, program ini disebut sebagai langkah progresif Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Muhammadiyah Soppeng. Namun harapan itu kini harus tertunda.


    Ketua Majelis Dikdasmen Muhammadiyah Soppeng, Drs. Misran Efendy, SH, M.Si, mengungkapkan bahwa seluruh tahapan persiapan sebenarnya telah berjalan optimal.


    Mulai dari administrasi, konsep kurikulum, hingga pembentukan panitia penerimaan siswa baru telah dilakukan.


    Bahkan, dukungan kuat juga datang dari ribuan alumni yang tergabung dalam Ikatan Alumni SMA Muhammadiyah Soppeng.


    “Semua sudah siap, dukungan juga luar biasa. Tapi keputusan tetap ada di Dewan Pimpinan Daerah,” ungkapnya. 


    Keputusan penangguhan ini diambil dalam rapat resmi yang digelar pada Sabtu, 11 April 2026, di gedung kompleks eks SMA Muhammadiyah Soppeng.


    Rapat tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Dewan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Soppeng, Drs. Arsyad Makmur, dan dihadiri oleh sejumlah pimpinan majelis lainnya. Hasilnya, pendirian SMA Muhammadiyah Ulul Albab diputuskan untuk ditangguhkan.


    Keputusan ini sontak menjadi pukulan telak bagi Dikdasmen dan para alumni.


    Padahal, banyak pihak menilai momentum pendirian sekolah ini sangat strategis. Hingga saat ini, belum ada sekolah umum di Kabupaten Soppeng yang menggabungkan konsep pendidikan Tahfidz, Sains, dan Digital dalam satu sistem terpadu.


    Muhammadiyah yang dikenal sebagai pelopor pendidikan modern berbasis nilai keislaman, dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi pionir dalam model pendidikan tersebut.


    Namun, tradisi pengambilan keputusan yang bersifat kolektif dan kolegial di tubuh Muhammadiyah menjadi faktor penentu yang tidak bisa dihindari.


    Kekecewaan mendalam datang dari para alumni. Ketua Ikatan Alumni SMA Muhammadiyah Soppeng, Firdaus secara terbuka menyayangkan keputusan tersebut.


    Menurutnya, dukungan alumni bukan hanya sebatas moral, tetapi juga kesiapan untuk berkontribusi dalam pengembangan sekolah.


    Para alumni bahkan berharap agar Dewan Pimpinan Muhammadiyah Soppeng dapat kembali membuka ruang pertimbangan terhadap program ini.


    Lebih jauh, isu yang tak kalah penting adalah keberadaan aset Muhammadiyah yang bernilai miliaran rupiah di lokasi eks SMA Muhammadiyah Soppeng.


    Aset tersebut merupakan hasil perjuangan dan kontribusi generasi sebelumnya. Jika tidak segera dimanfaatkan, dikhawatirkan akan terbengkalai dan kehilangan nilai manfaatnya.


    “Ini bukan sekadar soal sekolah, tapi bagaimana kita menjaga dan memanfaatkan amanah besar dari para pendahulu,” tegas Misran Efendy. Senin (13/4/2026). 


    Penangguhan ini bukan hanya menunda sebuah program pendidikan, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran akan hilangnya peluang besar untuk menghadirkan pendidikan berkualitas berbasis Qur’ani di Soppeng.


    Banyak pihak berharap keputusan ini bukanlah akhir, melainkan jeda untuk pertimbangan yang lebih matang.


    Karena jika tidak, bukan tidak mungkin kesempatan emas ini akan berubah menjadi catatan sejarah yang disesali di kemudian hari.


    (Red)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini