Rumiah Kartoredjo, Pendobrak “Langit-langit Kaca” dalam Sejarah Polwan Indonesia -->
  • Jelajahi

    Copyright © kabartujuhsatu.news
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Daftar Blog Saya

    Rumiah Kartoredjo, Pendobrak “Langit-langit Kaca” dalam Sejarah Polwan Indonesia

    Kabartujuhsatu
    Sabtu, 07 Maret 2026, Maret 07, 2026 WIB Last Updated 2026-03-07T23:43:06Z
    masukkan script iklan disini


    Jakarta, Kabartujuhsatu.news, Dalam catatan sejarah Kepolisian Republik Indonesia (Polri), nama Brigadir Jenderal Polisi (Purn.) Rumiah Kartoredjo menempati posisi yang sangat istimewa.


    Lahir di Tulungagung pada 19 Maret 1952, Rumiah adalah sosok yang membuktikan bahwa dedikasi, disiplin, dan keberanian dapat menembus batas tradisi gender, membawa seorang perempuan ke puncak kepemimpinan kepolisian di Indonesia.


    Rumiah tumbuh dalam keluarga sederhana sebagai anak keempat dari delapan bersaudara.


    Ayahnya, H. Kartoredjo, mantan polisi era Belanda yang bekerja di Pabrik Gula Mojoagung, awalnya ingin anak-anaknya menjadi guru.


    Dengan nilai-nilai agama dan disiplin waktu yang ketat, Rumiah muda sempat menaruh harapan pada profesi guru. Namun, takdir membawa Rumiah ke jalur yang berbeda, dunia olahraga dan kemudian kepolisian.


    Sejak SMP, Rumiah aktif di olahraga dan menunjukkan bakat luar biasa. Ketekunan dan semangat juangnya membawa dia menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Olahraga (IKIP) Surabaya, kini Universitas Negeri Surabaya, dan memperkuat tim nasional softball Indonesia.


    Puncak karier atletiknya ditandai dengan keberhasilan meraih medali emas SEA Games, sebuah prestasi yang menjadi awal dari perjalanan panjangnya dalam dunia kepolisian.


    Menembus Dunia Kepolisian
    Sebelum lulus kuliah, Rumiah memutuskan masuk Sekolah Perwira Militer Sukarelawan (Sepa Milsukwan) ABRI pada 1978.


    Kariernya kemudian menanjak dari posisi Komandan Peleton (Danton) Seba Polwan hingga dipercaya menjadi Kepala Sekolah Polwan pada 1999.


    Di setiap jenjang karier, Rumiah menunjukkan dedikasi tinggi, disiplin, dan kemampuan kepemimpinan yang kuat, menjadikannya panutan bagi rekan-rekan sejawat.


    Januari 2008 menjadi momen monumental bagi Polri. Kapolri Jenderal Polisi Sutanto melantik Rumiah sebagai Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Banten, menjadikannya polwan pertama yang memimpin di tingkat provinsi.


    Penunjukan ini tak hanya simbol terobosan gender, tetapi juga strategi sinergi kepemimpinan, karena Gubernur Banten saat itu, Ratu Atut Chosiyah, juga seorang perempuan.



    “Menjadi Kapolda adalah tantangan besar, namun saya bangga bisa mewakili Polwan di posisi ini,” ujar Rumiah dalam sebuah wawancara resmi, dikutip Kabartujuhsatu.news, Minggu (8/3/2026).


    Selama menjabat, ia dikenal sebagai pemimpin yang tegas namun humanis, mampu menyeimbangkan disiplin kepolisian dengan pendekatan yang bersahabat terhadap masyarakat.


    Rumiah selalu menekankan pentingnya pendidikan dan pengembangan diri. Ia menempuh pendidikan tinggi di berbagai lembaga: Selapa Polri (1990), Seskoad (1995), hingga Sespati Polri (2003).


    Dengan bekal pendidikan ini, ia mampu menghadapi tantangan di berbagai bidang kepolisian, termasuk pengembangan sumber daya manusia dan sinergi dengan pemerintah daerah.


    Sebelum purnatugas, Rumiah menyerahkan jabatan Kapolda Banten kepada Brigjen Pol Agus Kusnadi dalam upacara sertijab di Rupatama Mabes Polri.


    Meski telah pensiun, pengaruh dan teladan Rumiah tetap terasa bagi ribuan polwan di seluruh Indonesia.


    Jejak Rumiah Kartoredjo bukan hanya catatan prestasi. Ia adalah simbol terobosan bagi perempuan dalam profesi yang sebelumnya didominasi laki-laki.


    Dari seorang atlet nasional yang bercita-cita menjadi guru, Rumiah membuktikan bahwa kerja keras, disiplin, dan keberanian mampu mengubah sejarah.


    Saat ini, kisahnya menjadi inspirasi bagi generasi baru polwan yang bercita-cita memimpin dan membawa perubahan.


    ia adalah sosok pendobrak "langit-langit kaca" yang membuktikan bahwa dedikasi dan disiplin mampu membawa seorang perempuan ke puncak kepemimpinan korps Bhayangkara.


    (Red)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini