Menelusuri Sejarah Ganda, Hari Jadi Soppeng dan Kabupaten Soppeng -->
  • Jelajahi

    Copyright © kabartujuhsatu.news
    Best Viral Premium Blogger Templates

     


    Daftar Blog Saya

    Menelusuri Sejarah Ganda, Hari Jadi Soppeng dan Kabupaten Soppeng

    Kabartujuhsatu
    Rabu, 25 Maret 2026, Maret 25, 2026 WIB Last Updated 2026-03-25T10:33:04Z
    masukkan script iklan disini


    Soppeng, Kabartujuhsatu.news, Di tengah semarak peringatan usia ke-69 Kabupaten Soppeng pada 13 Maret 2026 dan Hari Jadi Soppeng ke 765 tahun pada 23 Meet 2026, diskursus mengenai sejarah dan identitas daerah kembali mencuat.


    Perdebatan ini bukan sekadar soal tanggal, melainkan menyangkut pemaknaan sejarah antara “Hari Jadi Soppeng” dan “Hari Jadi Kabupaten Soppeng” yang memiliki latar belakang berbeda.


    Hari Jadi Kabupaten Soppeng secara resmi diperingati setiap tanggal 13 Maret, merujuk pada momentum pelantikan YM Datu H. Andi Wana sebagai bupati pertama pada tahun 1957.


    Pelantikan tersebut sekaligus menandai transformasi sistem pemerintahan tradisional menuju struktur administratif modern, di mana Soppeng resmi berstatus sebagai kabupaten.


    Namun, berbeda dengan itu, Hari Jadi Soppeng memiliki akar yang jauh lebih dalam, yakni pada masa kerajaan.


    Hari bersejarah ini dikaitkan dengan penobatan La Temmamala Manurungenge ri Sekkanyili sebagai raja pertama Soppeng.


    Berdasarkan hasil kajian historis, tanggal yang disepakati adalah 23 Maret 1261, yang pada tahun 2026 menandai usia Soppeng mencapai 765 tahun.


    Penetapan Hari Jadi Soppeng tidak lahir begitu saja. Pada masa pemerintahan Bupati HA Paeruddin Saisal, wacana ini mulai dibahas secara serius. Tokoh-tokoh muda yang tergabung dalam Sanggar Merah Putih Soppeng (SMPS) menjadi motor penggerak kajian sejarah tersebut.


    Beberapa nama yang terlibat aktif antara lain Andi Dedi Made Ali, A. Agus PH Rauf, Husain Djunaid dan Muhlis Yasin.


    Mereka melakukan studi banding ke lima daerah yakni Gowa, Luwu, Sinjai, Bone, Wajo untuk memperkaya referensi penetapan hari jadi.


    Selanjutnya, Agus Iskandar Toaha berperan penting dalam meramu dan menyusun data historis yang kemudian diserahkan secara resmi kepada Pemerintah Kabupaten Soppeng pada tahun 2001.


    Saat itu, pemerintahan dipimpin oleh Bupati: HA Paeruddin Saisal dan Ketua DPRD: HA Mappajanci dan diseminarkan di masa pemerintahan HA Harta Sanjaya.. 


    Meski proses kajian melibatkan berbagai pihak, terdapat dinamika dalam penetapan akhir Hari Jadi Soppeng.


    Beberapa pihak dari Sanggar Merah Putih tidak lagi dilibatkan dalam tahap finalisasi keputusan maupun seminar. Namun demikian, hasil kajian tetap menjadi dasar penting dalam penetapan tanggal 23 Maret 1261 sebagai Hari Jadi Soppeng.


    Perbedaan penyebutan antara Hari Jadi Soppeng dan Hari Jadi Kabupaten Soppeng mencerminkan dua fase penting dalam perjalanan daerah:


    Fase tradisional (kerajaan), identitas budaya dan sejarah panjang.


    Fase modern (kabupaten), sistem pemerintahan administratif.


    Keduanya tidak saling bertentangan, melainkan saling melengkapi sebagai bagian dari identitas kolektif masyarakat Soppeng.


    Di usia yang ke-765 tahun secara historis dan 69 tahun sebagai kabupaten, Soppeng tidak hanya merayakan waktu, tetapi juga perjalanan panjang peradaban.


    Dari kerajaan hingga pemerintahan modern, sejarah ini menjadi fondasi penting dalam membangun masa depan daerah.


    Perdebatan yang ada justru menjadi ruang refleksi agar generasi muda semakin memahami akar sejarahnya, sekaligus menjaga nilai-nilai yang diwariskan dari masa ke masa.


    Kerajaan Soppeng di Sulawesi Selatan dipimpin oleh raja bergelar Datu Soppeng atau Arung. Raja pertama yang legendaris adalah La Temmamala (Manurungnge ri Sekkanyili) sekitar abad ke-12/13.


    Raja-raja terkenal lainnya termasuk La Maracinna dan We Tekkawanua, Datu Lamatesso Pong Lipue. 


    Berikut adalah beberapa nama raja yang pernah memerintah di Soppeng:


    La Temmamala (Manurungnge ri Sekkanyili): Raja pertama (Mitologis/Abad XIV).


    La Maracinna (1350–1358): Raja kedua.


    La Bang (Lamba) Datu Soppeng Riaja (1358–1408): Raja ketiga.


    We Tekkawanua (1408–1438): Datu Soppeng Riaja.


    Datu Lamatesso Pong Lipue Raja ke-11 yang menyatukan Soppeng Riaja dan Soppeng Rilau.


    La Tenribali (1659–1660): Salah satu penguasa dalam masa kesultanan.


    Andi Wana (1940–1959): Raja terakhir sebelum integrasi ke RI.


    Kerajaan Soppeng awalnya terbagi menjadi dua, Soppeng Riaja dan Soppeng Rilau, sebelum akhirnya bersatu. Sistem pemerintahan di Soppeng berlandaskan pada adat dan kekerabatan.


    Berikut Nama Kepala Daerah/ Bupati /Wakil Bupati Tahun Menjabat :


    1 H. Andi Wana 1957 - 1960 .


    2 H. Andi Machmud 1960 - 1964.



    3 H. Andi Made Ali 1965 - 1979 .



    4 Djamaluddin M. 1979 - 1984 .


    5 Drs. H. Umar Lakunnu 1984 - 1990 .


    6 - H. Abbas Sabbi, SH 1990 - 1995 .


    7 Drs. H. Andi Paeruddin Saisal 1996 - 2000 Drs. H. M. Arsyad Kale M.Si.


    8 Drs. H. Andi Harta Sanjaya 2000 - 2005, Wakil Drs. H. Syarifuddin Raif M.Si .


    9 Drs. H. Andi Soetomo M.Si 2005 - 2010 , Wakil Drs H. Andi Sarimin Saransi M.Si.


    10 Drs. H. Andi Soetomo M.Si 2010 - 2015, Wakil H. Aris Muhammadia.


    10 - Drs. H. Tautoto Tana Ranggina Sarongallo M.Si. 17 Oktober 2015 - 17 Februari 2016 (PLt).



    11 H. A. Kaswadi Razak, SE 2016 - 2021, Wakil Supriansa, SH, MH .


    12 H. A. Kaswadi Razak, SE 2021 - 2024, Wakil Ir. H. Lutfi Halide, MP .


    13 H. Suwardi Haseng, SE 2025 - 2030, Wakil Ir. Selle KS Dalle.


    (Red)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini