Oleh:
Hamdan Juhannis
Rektor UIN Alauddin
Ceritanya seperti ini. Seorang pria menahan sepeda penjual sayur dan buah. Penjual yang sudah renta itu berhenti dengan perasaan senang. Pria itu ingin membeli pepaya dan menanyakan harganya. Penjual itu menjawab, 10 ribu perbuah. Pria itu membeli dua buah pepaya yang masih mengkal.
Pria yang bersama anak perempuan kecilnya yang seumuran SD kelas 4, memberikannya 100 ribu kepada penjual dan meminta sisanya disimpan saja untuk dirinya. Setelah penjual itu pergi, anaknya bertanya mengapa harus membeli pepaya, bukankah masih ada pepaya di rumah yang dibeli di pasar kemarin. Ayahnya menjawab bahwa itu untuk persediaan, lagian masih mengkal juga.
Lalu ayahnya mengatakan kepada anaknya bahwa "stocking" bukanlah hal yang utama. Dia jelaskan, tujuan utamanya adalah menderma kepada penjual itu. Supaya tidak merasa bahwa dia disikapi sebagai "peminta-minta," dia membeli jualannya. Supaya penjual itu tidak merasa dikasihani, tetapi itu adalah rezeki dari pembeli yang dermawan. Itulah yang disebutnya sebagai memberi dengan bungkusan harga diri.
Cara yang dilakukan oleh pria itu sebagai salah satu contoh ekstrim perilaku yang lahir dari itikad baik. Perilaku seperti itu adalah memberi dengan tidak merendahkan. Memberi sambil menjaga kesetaraan. Memberi tanpa menistakan. Memberi tanpa membutuhkan terima kasih berlebihan.
Perilaku menderma seperti itu adalah cara mengaburkan pemberian untuk menjauhi ekses dari kedermawanan, merasa lebih berjaya, tapi membuat penerima menjadi tidak berdaya di hadapannya.
Pemberian dengan bungkusan harga diri adalah cara untuk menghargai pekerjaan rendahan seperti penjual sayur itu. Membeli jualannya adalah pesan bahwa jualannya laku dan dia akan tetap mengayuh sepeda jualannya tiap hari. Dengan cara membeli jualannya, penjual itu tidak akan berubah profesi menjadi pengemis, karena ternyata dia masih bisa hidup dengan bekerja sebagai penjual sayur. Dia pasti akan masih menjual, karena dia masih memiliki harga diri sebagai tempat sandaran keluarganya.
Pertanyaan reflektif saya, mengapa begitu banyak memilih menjadi pengemis di sekitar kita. Menjawabnya karena ruang harga diri mereka sudah tercabik. Nilai kemandirian hidupnya berada di titik terendah. Salah satu penyebabnya adalah kita, anda, dan saya. Kita lebih suka mensimplifikasi kedermawanan, yang tak lain adalah kelemahan kita.
Kita sering tidak berpikir bahwa memberi tanpa bungkusan kemandirian, akan membuat mereka selamanya berada di titik terendah. Kita tidak berdaya dalam keberdayaan. Kita ternyata kalah dalam kemenangan. Sedih juga yah menulis ini, sedih mengingat anak-anak itu, terutama saat berada di lampu merah perempatan.



