Makassar Jadi Rujukan Kota Ramah Air, Proyek Rise Solusi Atasi Banjir Air Bersih dan Sanitasi
  • Jelajahi

    Copyright © kabartujuhsatu.news
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Layanan Publikasi Media Online : Iklan, Berita, Banner

    Layanan Publikasi Media Online : Iklan, Berita, Banner
    Klik Gambar Inaproc Kabartujuhsatu di Kolom Pencarian

    Daftar Blog Saya

    Makassar Jadi Rujukan Kota Ramah Air, Proyek Rise Solusi Atasi Banjir Air Bersih dan Sanitasi

    Kabartujuhsatu
    Senin, 12 Januari 2026, Januari 12, 2026 WIB Last Updated 2026-01-13T07:26:30Z
    masukkan script iklan disini


    Makassar, Kabartujuhsatu.news, Pemerintah Kota Makassar terus memperkuat komitmennya dalam mengatasi persoalan banjir, akses air bersih, dan sanitasi lingkungan perkotaan melalui berbagai program strategis. Salah satu yang menjadi sorotan adalah Proyek RISE (Revitalizing Informal Settlements and Their Environment) yang dinilai berhasil menghadirkan solusi berkelanjutan di kawasan permukiman informal.


    Komitmen tersebut disampaikan langsung oleh Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, saat memaparkan strategi penanganan banjir, air minum, dan sanitasi dalam wawancara singkat bersama World Resources Institute (WRI) Ruan dan tim Program Penelitian RISE Indonesia, yang dipimpin Diego Rivera dari Monash University, di Kantor Balai Kota Makassar.


    Munafri Arifuddin menyampaikan bahwa persoalan banjir, air bersih, dan sanitasi merupakan tantangan klasik yang hingga kini masih menjadi pekerjaan besar bagi Pemerintah Kota Makassar. Masalah tersebut tidak hanya berdampak pada kualitas lingkungan, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap kesehatan, pendidikan, serta kesejahteraan masyarakat.


    “Banjir, akses air minum, air bersih, dan sanitasi adalah persoalan mendasar yang harus kita selesaikan bersama. Makassar adalah kota yang terus tumbuh, tetapi memiliki keterbatasan ruang dan tantangan besar sebagai kota yang inklusif dan aman,” ujar Munafri, Selasa (13/1/2026).


    Ia menjelaskan, tantangan tersebut telah dirumuskan dalam tujuh visi pembangunan Kota Makassar, di mana salah satu fokus utamanya adalah penanganan persoalan perkotaan, khususnya banjir dan sanitasi.


    Menurut Munafri, sistem penanganan banjir di Kota Makassar hingga saat ini belum sepenuhnya stabil dan tidak mungkin diselesaikan secara mandiri oleh pemerintah kota. Hal ini karena persoalan banjir memiliki keterkaitan erat dengan wilayah penyangga di sekitar Makassar.


    “Kita semua tahu bahwa sistem penanganan banjir di Makassar belum sepenuhnya stabil. Ini bukan persoalan yang bisa diselesaikan sendiri, karena berkaitan dengan daerah-daerah sekitar Makassar,” jelasnya di hadapan tim peneliti internasional.


    Karena itu, Pemkot Makassar terus mendorong kolaborasi lintas daerah serta pendekatan berbasis riset dan lingkungan untuk memperkuat ketahanan kota terhadap banjir.


    Di sektor air minum dan air bersih, Pemerintah Kota Makassar memaksimalkan peran Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) agar mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat secara merata. Upaya ini dilakukan sebagai bagian dari pelayanan dasar yang adil, inklusif, dan berkelanjutan.


    Sementara itu, persoalan sanitasi dinilai sebagai isu yang sangat krusial karena berdampak langsung pada kesehatan masyarakat. Sanitasi yang tidak terkelola dengan baik berpotensi memicu berbagai penyakit serta menurunkan kualitas hidup warga.


    “Sanitasi ini sangat penting. Jika tidak ditata secara benar dan teratur, dampaknya langsung dirasakan masyarakat, terutama dari sisi kesehatan,” tegas Munafri.


    Sebagai solusi, pembangunan sanitasi komunal menjadi kebutuhan mendesak, khususnya di kawasan permukiman informal. Menurut Munafri, sanitasi komunal dapat memastikan layanan dasar di bidang kesehatan dan pendidikan diakses secara merata oleh seluruh warga kota.


    Langkah ini sejalan dengan misi pembangunan infrastruktur Kota Makassar yang menjangkau seluruh wilayah, termasuk kawasan permukiman informal, guna meningkatkan kualitas hidup dan derajat kesehatan masyarakat.


    Dalam forum tersebut, Munafri Arifuddin secara khusus menyoroti Proyek RISE sebagai salah satu program yang dinilai sangat luar biasa. Program ini dikembangkan melalui riset mendalam di kawasan permukiman informal Kota Makassar dengan melibatkan masyarakat secara inklusif dan mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kota Makassar.


    “Hasil penelitian RISE membuktikan bahwa intervensi infrastruktur hijau di kawasan permukiman informal mampu meningkatkan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat secara signifikan,” ungkapnya.


    Ia menilai pendekatan RISE tidak hanya layak diterapkan di wilayah penelitian, tetapi juga dapat direplikasi ke seluruh wilayah Kota Makassar karena dampaknya yang sangat positif.



    Proyek RISE tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga mentransformasi komunitas dan meningkatkan kualitas hunian masyarakat. Melalui sistem sanitasi terkontrol dan terintegrasi, warga menjadi lebih teredukasi tentang pola hidup bersih dan sehat, sehingga terjadi perubahan perilaku yang berkelanjutan.


    “Tatanan hidup sehat ini tidak hanya dibangun, tetapi juga dijalankan dan dijaga oleh masyarakat sendiri. Kesadaran hidup bertetangga dan gotong royong tumbuh melalui sistem sanitasi komunal berbasis klaster,” ujar Munafri.


    Semangat gotong royong menjadi kunci utama dalam merawat dan mengoperasikan sistem RISE yang telah dibangun. Kolaborasi antara Pemkot Makassar dan Proyek RISE pun menunjukkan hasil nyata berupa peningkatan kesejahteraan dan produktivitas masyarakat.


    Lingkungan permukiman yang lebih sehat turut berkontribusi terhadap pencapaian Kota Makassar sebagai Kota Sehat Nasional dan Kota Sehat Asia Tenggara yang diberikan oleh World Health Organization (WHO) pada tahun 2025. Lokasi implementasi RISE menjadi salah satu indikator penting dalam penilaian tersebut.


    Selain itu, Proyek RISE menghadirkan wajah baru kawasan permukiman informal melalui pembangunan rawa buatan dengan tanaman lokal di tengah permukiman padat. Ruang hijau ini berfungsi sebagai sanitasi komunal, pengelolaan air hujan, sekaligus ruang publik bagi warga.


    Keberadaan ruang hijau tersebut juga membuka peluang pengembangan pertanian lahan sempit dan pembentukan kelompok tani masyarakat, serta berpotensi dikembangkan sebagai destinasi wisata edukasi lingkungan di Kota Makassar.


    “Kehadiran RISE menjadikan Makassar sebagai rujukan studi pembelajaran dalam penyelesaian persoalan sanitasi permukiman. Banyak kota dan perguruan tinggi, baik dari dalam maupun luar negeri, datang untuk mempelajari implementasi program ini,” ungkap Munafri.


    Bahkan pada tahun 2025, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi berkunjung langsung ke lokasi RISE atas arahan Presiden Republik Indonesia untuk melihat potensi pengembangan kota-kota ramah air di Indonesia.


    Munafri menegaskan, Pemerintah Kota Makassar berkomitmen menjalankan pembangunan kota yang inklusif dan berkelanjutan. Dengan pertumbuhan penduduk yang terus meningkat, Makassar dituntut mampu menyediakan pelayanan dasar yang adil dan merata bagi seluruh warganya.


    “Dengan adanya program RISE, kami berharap Makassar tidak hanya menjadi kota yang ramah air, tetapi juga menjadi referensi global. Program ini diharapkan tidak hanya bermanfaat bagi Makassar, tetapi juga menjadi kontribusi nyata Kota Makassar untuk dunia,” pungkasnya.


    (Red) 

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini