Soppeng, Kabartujuhsatu.news,– Lolosnya Timnas Argentina ke babak semifinal Piala Dunia 2026 usai menundukkan Swiss dengan skor 3-1 terus menjadi bahan pembicaraan di kalangan pecinta sepak bola dunia. Di balik keberhasilan tim Tango melangkah ke empat besar, sorotan publik tak hanya tertuju pada kualitas permainan kedua tim, tetapi juga pada sejumlah keputusan wasit yang kembali memunculkan perdebatan.
Salah satu tanggapan datang dari pemerhati sepak bola, Dr. Nurmal Idrus, MM, yang juga pernah menjadi pengurus PSM Makassar. Menurutnya, selama ini ia tidak pernah sepenuhnya mempercayai anggapan bahwa Argentina merupakan "anak emas" FIFA. Namun, jalannya pertandingan melawan Swiss membuatnya mulai mempertanyakan pandangan tersebut.
"Saya tak pernah benar-benar percaya pada anggapan bahwa Argentina adalah 'anak emas' FIFA. Sampai satu momen membuat keyakinan itu goyah, ketika Breel Embolo diusir keluar pada menit ke-72. Sejak saat itu, Swiss seperti dipaksa bertanding dengan satu sayap yang patah," ujarnya, Ahad (12/7/2026).
Menurut Nurmal, kartu merah tersebut menjadi titik balik pertandingan. Kehilangan satu pemain memaksa Swiss mengubah pendekatan permainan secara drastis, dari yang sebelumnya berani meladeni permainan terbuka menjadi lebih fokus mempertahankan wilayah sendiri.
Meski bermain dengan 10 orang, Nurmal menilai Swiss tetap menunjukkan mental bertanding yang luar biasa. Bahkan, ia menganggap perjuangan tim tersebut layak mendapatkan apresiasi karena masih mampu membawa pertandingan hingga babak tambahan waktu.
"Lucunya, meski hanya bermain dengan 10 orang, Swiss masih sanggup menyeret Argentina ke babak tambahan. Seolah yang benar-benar kehabisan akal bukan tim yang kekurangan pemain," katanya.
Bagi Nurmal, fakta bahwa Swiss tetap mampu memberikan perlawanan sengit meski kalah jumlah pemain menjadi bukti bahwa pertandingan berlangsung sangat ketat. Namun, ia mengakui keunggulan jumlah pemain pada akhirnya memberikan keuntungan bagi Argentina ketika laga memasuki babak tambahan.
Dalam pertandingan tersebut, Argentina memastikan kemenangan melalui gol Julián Álvarez pada menit ke-112 dan Lautaro Martínez pada menit ke-120+1 sehingga memastikan langkah ke semifinal.
Meski demikian, Nurmal menegaskan bahwa dirinya tidak pernah meragukan kualitas Argentina sebagai salah satu kekuatan terbesar sepak bola dunia. Ia hanya menilai terdapat beberapa momen yang menurutnya pantas menjadi bahan diskusi publik.
"Mungkin Argentina memang hebat. Hanya saja, sesekali jalannya terasa terlalu mulus untuk disebut sekadar kebetulan," tandasnya.
Pandangan senada juga disampaikan Manajer Sepak Bola Sewo Junior, Amrayadi Arafah, SH, MH. Menurutnya, keluarnya Breel Embolo justru mengubah wajah permainan Swiss secara keseluruhan.
"Kehilangan satu pemain mengubah pola permainan Swiss. Perubahan ini justru merepotkan lini serang Argentina karena rapatnya barisan pertahanan Swiss," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa setelah kartu merah diberikan, pelatih Swiss Murat Yakin langsung mengambil langkah pragmatis dengan mengubah struktur permainan menjadi sangat defensif.
Menurut Amrayadi, Swiss kemudian menerapkan blok pertahanan rendah (low block) dengan menempatkan hampir seluruh pemain di area pertahanan sendiri. Strategi tersebut menutup ruang gerak Argentina di lini tengah sekaligus memaksa mereka lebih banyak menyerang melalui sisi lapangan.
Akibatnya, kreativitas para pemain Argentina, termasuk Lionel Messi dan Alexis Mac Allister, dinilai tidak mudah menembus pertahanan Swiss. Meskipun akhirnya kalah, permainan disiplin yang diperlihatkan Swiss disebut menjadi salah satu alasan pertandingan berlangsung hingga babak tambahan waktu.
Laga tersebut memunculkan beragam reaksi di media sosial maupun forum-forum sepak bola. Selain kartu merah yang diterima Embolo, sejumlah keputusan wasit juga menjadi bahan diskusi para pendukung kedua tim.
Hingga berita ini ditulis, belum terdapat pernyataan resmi dari FIFA ataupun bukti yang menunjukkan adanya perlakuan khusus terhadap Argentina. Karena itu, berbagai penilaian mengenai keputusan wasit maupun jalannya pertandingan masih merupakan opini dan perdebatan yang lazim terjadi dalam sepak bola.
Sementara itu, hasil pertandingan tetap menjadi keputusan resmi penyelenggara kompetisi.
(Red)
