Soppeng, Kabartujuhsatu.news, Ungkapan yang disampaikan oleh Sahar belakangan menjadi bahan diskusi di tengah masyarakat. Kalimat sederhana yang berbunyi “Mendingan diam daripada banyak bicara menampakkan kebodohan” dinilai sebagian kalangan bukan sekadar ungkapan spontan, melainkan refleksi sikap kehati-hatian dalam berkomunikasi di ruang publik. Minggu (17/5/2026).
Di tengah situasi sosial dan politik yang semakin dinamis, pernyataan tersebut kemudian dipahami dari berbagai sudut pandang. Ada yang melihatnya sebagai nasihat moral, ada pula yang menganggapnya sebagai pengingat tentang pentingnya mengendalikan diri dalam menyampaikan pendapat, terutama di ruang yang sensitif seperti organisasi dan politik.
Dalam kehidupan sosial, tidak semua hal perlu direspons secara terbuka. Diam sering kali diposisikan sebagai strategi untuk menjaga ketenangan dan menghindari kesalahpahaman. Dalam konteks organisasi, sikap ini juga kerap dikaitkan dengan upaya menjaga independensi dan netralitas.
Terlalu cepat berkomentar atau terburu-buru menyampaikan penilaian dapat menimbulkan tafsir yang berbeda di tengah publik. Karena itu, sebagian pihak menilai ungkapan Sahar sebagai ajakan untuk lebih selektif dalam berbicara, terutama bagi mereka yang memiliki posisi atau pengaruh dalam suatu kelompok.
Dalam ranah politik, setiap ucapan memiliki bobot dan dampak yang besar. Dinamika politik yang penuh strategi membuat kehati-hatian menjadi hal yang sangat penting. Tidak jarang, satu pernyataan saja dapat berubah menjadi isu yang meluas dan memicu berbagai interpretasi.
Karena itu, kemampuan membaca situasi dan memilih waktu yang tepat untuk berbicara menjadi bagian dari kecerdasan politik. Dalam konteks ini, diam tidak selalu dimaknai sebagai kelemahan, melainkan sebagai bentuk kontrol diri dan strategi komunikasi.
Salah satu nitizen menyampaikan bahwa pandangan serupa sebenarnya sudah lama hidup dalam nilai-nilai budaya Bugis. Dalam tradisi tersebut, kebijaksanaan seseorang tidak diukur dari banyaknya kata yang diucapkan, melainkan dari kemampuan menjaga lisan dan memahami kapan harus berbicara.
“Orang bijak itu bukan yang paling banyak bicara, tetapi yang paling mampu menjaga kata-katanya,” demikian kutipan yang menggambarkan nilai tersebut.
Pandangan ini memperkuat bahwa filosofi diam bukanlah sesuatu yang baru, melainkan telah lama menjadi bagian dari kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Meski demikian, banyak pihak menegaskan bahwa diam tidak selalu berarti tidak peduli atau tidak memahami situasi. Dalam banyak kasus, diam justru mencerminkan kemampuan seseorang untuk menahan diri agar tidak memperkeruh keadaan.
Sikap ini juga dipandang sebagai bentuk kedewasaan emosional, terutama dalam menghadapi situasi yang penuh tekanan atau konflik kepentingan.
Di tengah derasnya arus informasi dan meningkatnya intensitas percakapan publik, ungkapan Sahar kembali mengingatkan pentingnya keseimbangan antara berbicara dan mendengar, antara menyampaikan pendapat dan menahan diri.
Bagi sebagian masyarakat, pesan tersebut bukan untuk menyudutkan pihak tertentu, melainkan sebagai refleksi umum tentang bagaimana menjaga ketenangan di tengah situasi yang penuh dinamika.
Pada akhirnya, sebagaimana yang sering disimpulkan dalam berbagai nilai kebijaksanaan lokal, tidak semua yang diam berarti lemah. Justru dalam diam, sering kali terdapat pemahaman yang lebih dalam terhadap keadaan yang sedang berlangsung.
(Red)
