“Saya Pilih Ambil Risiko!” Pengakuan Mengejutkan Bima Arya soal Tekanan Saat Jadi Pemimpin

“Saya Pilih Ambil Risiko!” Pengakuan Mengejutkan Bima Arya soal Tekanan Saat Jadi Pemimpin


Semarang, Kabartujuhsatu.news, Pernyataan tegas disampaikan Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto saat menghadiri kegiatan bedah buku Babad Alas di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro, Selasa (12/5/2026).

Di hadapan ratusan mahasiswa, dosen, dan tamu undangan, Bima secara terbuka mengungkap bahwa menjadi pemimpin bukan soal mencari kenyamanan, melainkan keberanian mengambil keputusan penuh risiko demi kepentingan masyarakat.

“Pemimpin itu sering dihadapkan pada pilihan sulit. Mau aman atau ambil risiko. Dan saya memilih mengambil risiko ketika yakin itu untuk keberpihakan kepada masyarakat,” ujarnya yang langsung disambut tepuk tangan peserta.

Pernyataan tersebut sontak menarik perhatian publik karena Bima juga membongkar bagaimana tekanan dari berbagai kelompok pernah datang kepadanya selama memimpin Bogor selama hampir satu dekade.

Dalam forum itu, Bima mengungkap salah satu kebijakan paling kontroversial yang pernah diambilnya, yakni membatasi izin penjualan alkohol di tempat hiburan malam.

Menurutnya, keputusan tersebut bukan langkah populer, bahkan memicu tekanan dari sejumlah pihak.
Namun ia menegaskan, kebijakan itu diambil demi melindungi generasi muda dari dampak negatif lingkungan hiburan yang tidak terkendali.

“Kalau pemimpin hanya ingin aman, maka banyak keputusan penting tidak akan pernah diambil,” katanya.

Pernyataan tersebut langsung menjadi sorotan karena dinilai menunjukkan keberanian seorang pejabat dalam menghadapi tekanan politik maupun ekonomi.

Tak hanya soal hiburan malam, Bima juga membahas pengalaman menyelesaikan konflik pendirian rumah ibadah yang sempat berlangsung bertahun-tahun.

Ia menyebut prinsip inklusivitas menjadi kunci utama dalam menyelesaikan persoalan sensitif tersebut.

Menurutnya, seorang pemimpin harus mampu berdiri di atas semua kelompok tanpa kehilangan keberpihakan terhadap keadilan.

“Kalau tidak punya pegangan nilai yang kuat, pemimpin mudah sekali terbawa tekanan kelompok tertentu,” tegasnya.

Pernyataan lain yang tak kalah menyita perhatian adalah saat Bima membahas cara memilih pejabat di lingkungan birokrasi.

Berbeda dari anggapan umum yang mengutamakan kemampuan teknis, Bima justru menempatkan karakter dan adab sebagai faktor paling penting.

“Karakter itu nomor satu. Adab nomor satu. Setelah itu baru kompetensi,” ucapnya.

Ia mengaku lebih memilih orang yang loyal, berintegritas, dan punya militansi dibanding hanya pintar secara teknis namun tidak memiliki nilai moral yang kuat.

Dalam sesi diskusi yang berlangsung hangat, Bima juga menyinggung pentingnya menjaga integritas di tengah godaan kekuasaan.

Ia mengungkap bahwa keluarga menjadi pengingat utama agar dirinya tidak tergelincir dalam praktik penyimpangan, termasuk gratifikasi.

Menurutnya, kritik dari keluarga justru menjadi benteng moral paling efektif bagi seorang pemimpin.

“Lingkungan keluarga yang kritis itu penting supaya kita tetap waras saat punya kekuasaan,” katanya.

Menutup pemaparannya, Bima memberi pesan khusus kepada mahasiswa agar mulai menyiapkan diri menjadi pemimpin masa depan sejak sekarang.

Ia mengingatkan bahwa masa jabatan dan kesempatan memimpin akan terasa sangat singkat jika tidak dimanfaatkan dengan maksimal.

“Jangan sia-siakan momen ketika kalian jadi pemimpin nanti. Karena 10 tahun itu cepat sekali. Lakukan dengan passion,” tandasnya.

Acara tersebut turut dihadiri Teguh Yuwono, Hernowo Budi Luhur, serta civitas akademika FISIP Undip.

(Red)

Lebih baru Lebih lama
Premium By Raushan Design With Shroff Templates