Malintang, Kabartujuhsatu.news, Polemik berkepanjangan yang melanda MTs GUPPI Malintang kini menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Gelombang desakan agar Amir Mahmud mundur dari jabatannya sebagai Kepala MTs GUPPI Malintang terus menguat. Warga, wali murid, hingga sejumlah tokoh masyarakat mulai angkat suara menyoroti kondisi madrasah yang dinilai semakin memprihatinkan.
Sejumlah warga yang ditemui awak media, Selasa (20/05), mengaku kecewa dengan kondisi madrasah yang menurut mereka mengalami kemunduran sejak dipimpin Amir Mahmud. Mereka menilai kepemimpinan yang dijalankan saat ini tidak mampu membawa perubahan positif bagi perkembangan pendidikan di MTs GUPPI Malintang.
Bahkan, sebagian warga menilai suasana kekeluargaan yang selama ini menjadi ciri khas madrasah perlahan mulai hilang. Hubungan antara pihak madrasah dengan masyarakat disebut tidak lagi harmonis seperti sebelumnya.
“Kami sedih melihat kondisi madrasah sekarang. Dulu masyarakat merasa dekat dengan sekolah ini, tapi sekarang suasananya berbeda. Banyak warga merasa tidak dilibatkan,” ujar seorang wali murid.
Kekecewaan warga bermula dari proses pengangkatan Amir Mahmud sebagai Kepala MTs GUPPI Malintang pasca wafatnya H. Azhari Hasibuan yang sebelumnya menjabat kepala madrasah sekaligus ketua yayasan.
Menurut sejumlah warga, proses pengangkatan tersebut dinilai tidak dilakukan secara terbuka dan tidak melibatkan unsur-unsur penting seperti yayasan, dewan guru, komite madrasah, wali murid, pemerintah desa maupun tokoh masyarakat.
Salah seorang wali murid berinisial A. Lubis mengungkapkan bahwa sejak awal masyarakat sudah mempertanyakan legitimasi kepemimpinan Amir Mahmud.
“Yang disesalkan warga bukan hanya soal siapa yang memimpin, tetapi bagaimana prosesnya. Masyarakat berharap semua dilakukan secara transparan dan musyawarah,” katanya.
Ia menambahkan, madrasah sebagai lembaga pendidikan seharusnya menjadi contoh dalam penerapan nilai-nilai keterbukaan, akhlak, dan kebersamaan.
Sorotan warga tidak berhenti pada persoalan kepemimpinan. Mereka juga mengeluhkan kondisi fisik madrasah yang dinilai semakin memprihatinkan.
Beberapa fasilitas sekolah disebut mengalami kerusakan cukup berat. Mulai dari meja dan kursi belajar yang rusak, plafon bangunan yang mulai lapuk, hingga papan tulis yang masih menggunakan kapur.
Menurut warga, hingga kini belum terlihat adanya pembenahan signifikan terhadap sarana dan prasarana pendidikan di madrasah tersebut.
“Anak-anak belajar dengan fasilitas seadanya. Kami berharap ada perubahan dan perhatian serius terhadap kondisi sekolah,” ujar warga lainnya.
Tidak hanya itu, kebersihan lingkungan madrasah juga menjadi perhatian masyarakat. Kondisi halaman dan lingkungan sekolah disebut kurang tertata sehingga menimbulkan kesan kumuh.
Warga juga menyoroti kedisiplinan dan aktivitas pendidikan di lingkungan madrasah. Menurut mereka, kegiatan sekolah saat ini jauh berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Beberapa warga menyebut upacara bendera pada hari Senin jarang dilaksanakan. Selain itu, kegiatan ekstrakurikuler yang sebelumnya aktif kini disebut nyaris tidak berjalan.
Akibatnya, prestasi siswa dinilai mengalami penurunan dan minat masyarakat untuk menyekolahkan anak ke MTs GUPPI Malintang juga disebut ikut menurun.
“Sekolah butuh pemimpin yang aktif hadir, membina guru dan siswa, serta mampu membangun semangat bersama,” kata seorang warga.
Di tengah polemik tersebut, pengelolaan Dana BOS juga mulai menjadi perhatian masyarakat.
Sejumlah warga menduga pengelolaan anggaran belum dilakukan secara terbuka dan meminta adanya transparansi penggunaan dana.
Seorang warga bermarga Hasibuan menyebut masyarakat saat ini tengah mengumpulkan berbagai informasi dan data terkait pengelolaan anggaran madrasah.
“Kami ingin semuanya jelas dan terbuka. Dana pendidikan harus benar-benar digunakan untuk kepentingan siswa dan kemajuan sekolah,” ujarnya.
Ia juga mengatakan masyarakat tidak menutup kemungkinan akan membawa persoalan tersebut ke jalur hukum apabila ditemukan adanya pelanggaran dalam pengelolaan anggaran.
Masyarakat berharap polemik yang terjadi tidak terus berlarut-larut karena dikhawatirkan akan berdampak buruk terhadap proses pendidikan siswa.
Karena itu, warga meminta Kantor Kementerian Agama Kabupaten Mandailing Natal bersama pihak kecamatan, pemerintah desa, yayasan, dewan guru, komite sekolah, tokoh agama, tokoh masyarakat dan wali murid segera menggelar musyawarah terbuka.
Warga berharap pertemuan tersebut dapat menghasilkan solusi terbaik demi menyelamatkan masa depan MTs GUPPI Malintang.
“Yang kami perjuangkan bukan kepentingan pribadi. Kami hanya ingin madrasah ini maju kembali dan benar-benar menjadi tempat pendidikan yang membanggakan masyarakat,” ujar seorang tokoh warga.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Amir Mahmud belum memberikan keterangan resmi terkait berbagai tudingan dan kritik yang disampaikan warga.
(Magrifatulloh)
