Oleh: H. A. Ahmad Saransi
Menengok jauh ke belakang melalui dokumen Memorie van Overgave Controleur Soppeng tahun 1935, kita akan menemukan potret pertumbuhan intelektual masyarakat Soppeng yang cukup signifikan pada masanya.
Laporan resmi pejabat Belanda tersebut mencatat kehadiran 24 buah Volksschool (Sekolah Rakyat) yang tersebar di wilayah Soppeng, dengan jumlah murid mencapai 1.385 orang. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan bukti tingginya animo masyarakat lokal untuk memeluk dunia pendidikan modern.
Namun, sejarah pendidikan di Soppeng tidak hanya ditulis oleh tangan pemerintah kolonial. Di balik sekolah-sekolah formal tersebut, bersemi semangat kemandirian umat melalui jalur pendidikan Islam. Tercatat, gerakan Muhammadiyah telah memancarkan cahayanya di tiga titik strategis: pusat kota Soppeng, Lajoa, hingga jauh ke Bolamalimpong, Marioriawa.
Selain itu, di pusat kota Watansoppeng, sebuah sekolah berdiri kokoh di bawah naungan masjid, menjaga nilai-nilai spiritual tetap seiring dengan pengajaran ilmu pengetahuan.
Satu permata bersejarah yang tak boleh dilupakan adalah Madrasah Annajahiyah di Maccini Pattojo. Inilah sekolah agama swasta tertua di Soppeng, sebuah institusi yang lahir dari rahim keikhlasan dan dedikasi.
Sekolah ini tidak berdiri sendiri; ia dibina langsung oleh Datu Pattojo dan diasuh dengan penuh ketekunan oleh dua sosok pendidik tangguh, Andi Muhammad Tahir Makka dan Andi Rasyid Makka.
Eksistensi Madrasah Annajahiyah dan sekolah-sekolah swasta lainnya di tahun 1935 menunjukkan bahwa masyarakat Soppeng sejak dahulu adalah masyarakat yang religius sekaligus haus akan ilmu.
Kehadiran tokoh-tokoh lokal dalam mengelola pendidikan agama di tengah kepungan sistem kolonial menjadi bukti nyata bahwa kesadaran akan identitas dan intelektualitas telah lama tertanam di Bumi Latemmamala.
Potret tahun 1935 ini adalah fondasi yang nantinya melahirkan tokoh-tokoh penting seperti La Side Daeng Tapala, Prof. Zainuddin Thaha, Prof. Faharuddin Ambo Enre, Prof. Dr. Ibrahim Manwan dan masih banyak lagi, membuktikan bahwa Soppeng memang "rahim" bagi para cendekiawan Sulawesi Selatan.
Publisher (Her/5/5/2026)
