Soppeng, Kabartujuhsatu.news,— Pemerintah Kabupaten terus menunjukkan keseriusannya dalam memperkuat sektor pertanian sebagai tulang punggung ekonomi daerah. Langkah besar itu kembali ditegaskan setelah Bupati membuka kegiatan Review Hasil Survei Investigasi dan Desain (SID) Optimasi Lahan Non Rawa Tahun 2026 di Ruang Pertemuan Gabungan Dinas, Watansoppeng, Jumat (22/5/2026).
Kegiatan tersebut menjadi perhatian besar karena menyangkut masa depan ribuan hektare lahan pertanian yang diproyeksikan mampu meningkatkan produktivitas petani secara signifikan. Tak tanggung-tanggung, program optimasi lahan non rawa tahun 2026 direncanakan menjangkau luas 6.256 hektare di tujuh kecamatan, ditambah pengembangan sekitar 1.500 hektare di Kecamatan Liliriaja.
Dalam sambutannya, Suwardi Haseng menegaskan bahwa sektor pertanian masih menjadi kekuatan utama perekonomian masyarakat Soppeng. Karena itu, pemerintah daerah terus mendorong penguatan sarana pendukung mulai dari pengolahan lahan, penyediaan air irigasi hingga infrastruktur penunjang pascapanen.
“Program ini bukan sekadar pembangunan biasa, tetapi bagian dari upaya besar meningkatkan produktivitas petani dan mendukung swasembada pangan nasional,” ujar Suwardi.
Review SID tersebut merupakan tindak lanjut dari pembahasan sebelumnya yang menghadirkan tim LPPM Universitas Hasanuddin sebagai penyusun desain teknis optimasi lahan non rawa tahun 2026. Dalam pemaparannya, tim SID mengungkap sejumlah data mengejutkan terkait potensi pertanian di Kabupaten Soppeng.
Dari hasil survei lapangan, luas usulan awal program tercatat 6.256,51 hektare. Namun setelah dilakukan delineasi dan verifikasi teknis, luas potensi pengembangan justru meningkat menjadi 8.315,58 hektare atau bertambah sekitar 2.057 hektare.
Tak hanya itu, hasil SID juga menunjukkan adanya sekitar 533 titik sumur bor yang tersebar di delapan kecamatan. Temuan ini dinilai menjadi peluang besar untuk mempercepat program prioritas daerah “Listrik Masuk Sawah” yang selama ini didorong pemerintah kabupaten.
Menariknya lagi, sekitar 84 persen pekerjaan optimasi lahan tahun 2026 nantinya akan difokuskan pada pembangunan pompa dan sumur bor berbasis energi listrik. Sistem tersebut diproyeksikan mampu meningkatkan ketersediaan air bagi petani sekaligus mendukung peningkatan indeks pertanaman.
Mayoritas lokasi hasil survei bahkan diarahkan menuju pola tanam IP 200 atau dua kali panen dalam setahun. Dari total lokasi yang disurvei, sebanyak 140 lokasi atau sekitar 85,4 persen dinilai berpotensi mencapai target tersebut.
Data SID juga mencatat sebanyak delapan kecamatan, 45 desa, dan 164 kelompok tani telah masuk dalam proses survei dan verifikasi. Infrastruktur yang paling banyak direkomendasikan berupa pompa air serta jaringan irigasi air tanah (JIAT) pada 132 lokasi.
Meski demikian, review SID juga menemukan sejumlah catatan penting. Salah satunya adanya tujuh indikasi kelompok tani ganda yang masih perlu diverifikasi lebih lanjut sebelum penetapan lokasi final program dilakukan.
Selain itu, terdapat 21 lokasi yang hingga kini belum memiliki sumber air memadai dan 24 lokasi lainnya masih berada pada indeks pertanaman IP 100 sehingga membutuhkan peningkatan dukungan irigasi.
Pemerintah daerah pun menegaskan akan mempercepat penetapan lokasi dan penganggaran program tahun 2026 agar pelaksanaan di lapangan bisa berjalan maksimal. Monitoring dan evaluasi pascakonstruksi juga akan dilakukan secara berkala untuk memastikan manfaat program benar-benar dirasakan petani.
“Kita berharap seluruh proses review ini menghasilkan program yang tepat sasaran, efektif, dan mampu meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan,” tambah Suwardi.
Kegiatan review tersebut turut dihadiri unsur pemerintah daerah, tim pengawas, penyuluh pertanian, hingga tim LPPM Universitas Hasanuddin. Pelaksanaan kegiatan difasilitasi Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Soppeng bekerja sama dengan LPPM Unhas.
Dengan potensi ribuan hektare lahan yang siap dioptimalkan serta dukungan ratusan sumur bor, Kabupaten Soppeng kini bersiap menjadi salah satu daerah pertanian paling produktif di Sulawesi Selatan.
(Red)
