Andi Yusran : Kritik Tanpa Fakta adalah Hoaks, Pujian Tanpa Kebenaran Juga Hoaks!

Andi Yusran : Kritik Tanpa Fakta adalah Hoaks, Pujian Tanpa Kebenaran Juga Hoaks!


Soppeng, Kabartujuhsatu.news, Pernyataan Andi Yusran kali ini bukan sekadar komentar biasa. Ia seperti melempar batu ke tengah kolam yang tenang, memunculkan riak diskusi yang menyentuh banyak kalangan.

“Kritik dan pujian nilainya sama. Ketika kritikan tidak sesuai fakta jadinya hoaks, begitupun pujian jika tidak mengandung kebenaran itu juga hoaks. Publik sudah pintar membedakan mana yang hoaks dan mana yang fakta.”

Kalimat itu seolah menjadi peringatan bagi dua kelompok yang selama ini sering mendominasi ruang publik.

Kelompok pertama, mereka yang merasa paling kritis tetapi miskin data.
Kelompok kedua, mereka yang merasa paling loyal tetapi kehilangan objektivitas.

Yang satu sibuk mencari-cari kesalahan, Yang satu sibuk menutupi kekurangan.

Padahal keduanya berpotensi menyesatkan masyarakat jika tidak berpijak pada fakta.

Andi Yusran mengingatkan bahwa kritik adalah instrumen demokrasi yang sehat. Namun ketika kritik dibangun dari asumsi, rumor, atau sentimen pribadi, maka substansinya berubah.
Bukan lagi kritik.

Melainkan opini yang dipaksakan menjadi kebenaran. Fenomena ini semakin sering terlihat ketika seseorang lebih dahulu menyimpulkan, lalu baru mencari pembenaran.
Akibatnya, fakta tidak lagi menjadi dasar berpikir, tetapi hanya menjadi pelengkap narasi yang sudah dibuat sebelumnya.

Yang menarik, Andi Yusran tidak hanya menyoroti para pengkritik. Ia juga mengingatkan para "penabuh genderang pujian" yang setiap hari menggambarkan segala sesuatu seolah sempurna.

Menurut sejumlah pengamat, sebuah organisasi, lembaga, bahkan pemerintahan bisa kehilangan kemampuan memperbaiki diri jika terlalu lama hanya mendengar pujian.
Karena pujian yang tidak jujur sering kali membuat masalah terlihat kecil, padahal sebenarnya sedang membesar.

"Kalau kritik tanpa fakta bisa membuat orang jatuh, maka pujian tanpa kebenaran bisa membuat orang terlena."

Inilah bagian yang paling menarik dari pernyataan Andi Yusran. Ia menegaskan bahwa masyarakat hari ini jauh lebih cerdas dibanding yang dibayangkan banyak orang.

Publik tidak lagi hanya membaca judul.
Publik mulai memeriksa isi. Publik tidak lagi hanya mendengar klaim. Publik mulai mencari bukti. Publik tidak lagi mudah percaya pada narasi yang dibangun untuk menggiring opini.

Karena itu, siapa pun yang masih mengandalkan propaganda, sensasi, atau pencitraan berlebihan sesungguhnya sedang berhadapan dengan masyarakat yang sudah jauh lebih kritis.

Pernyataan Andi Yusran juga dapat dimaknai sebagai ajakan untuk mengakhiri budaya "asal bunyi".
Asal mengkritik agar terlihat berani.
Asal memuji agar terlihat dekat.
Asal berkomentar agar terlihat eksis.
Padahal kualitas sebuah pendapat tidak diukur dari seberapa keras disampaikan, melainkan seberapa kuat fakta yang menopangnya.

Di tengah maraknya pertarungan opini, pesan Andi Yusran terasa tajam sekaligus edukatif: "Jika kritik tidak sesuai fakta, itu hoaks. Jika pujian tidak sesuai kenyataan, itu juga hoaks."

Kalimat tersebut bukan hanya kritik terhadap individu tertentu, tetapi juga cermin bagi semua pihak.

Karena pada akhirnya, masyarakat tidak membutuhkan lebih banyak pendukung atau penentang.

Masyarakat membutuhkan lebih banyak orang yang berani berpihak pada fakta.

Sebab dalam era keterbukaan informasi saat ini, yang paling berbahaya bukanlah kritik yang keras atau pujian yang tinggi.

Yang paling berbahaya adalah ketika kebohongan dibungkus seolah-olah sebagai kebenaran, lalu dijual kepada publik yang sebenarnya sudah semakin cerdas membacanya.

(Red)

Lebih baru Lebih lama
Premium By Raushan Design With Shroff Templates