Makassar, Kabartujuhsatu.news, Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menegaskan pentingnya menjaga keberagaman, toleransi, dan moderasi beragama sebagai fondasi utama dalam merawat harmoni sosial di Kota Makassar.
Penegasan tersebut disampaikan Munafri saat menghadiri kegiatan buka puasa bersama dalam rangka Festival Cap Go Meh Zou-Zou Makassar 2026 yang digelar oleh Dewan Pimpinan Daerah Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) Sulawesi Selatan, di Jalan Sulawesi, Selasa (3/3/2026).
Dalam sambutannya, Munafri menyampaikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya Festival Cap Go Meh yang tahun ini bertepatan dengan bulan suci Ramadan.
Menurutnya, momentum tersebut bukan sekadar agenda perayaan budaya dan keagamaan, melainkan simbol nyata harmonisasi masyarakat Kota Makassar.
Ia menilai, penyelenggaraan Cap Go Meh yang dipadukan dengan buka puasa bersama menjadi bukti bahwa Makassar adalah kota yang menjunjung tinggi nilai toleransi dan kebersamaan lintas suku serta agama.
“Kegiatan ini bukan hanya peringatan yang dilaksanakan oleh saudara-saudara Tionghoa, tetapi menjadi bentuk nyata harmonisasi dan kebersamaan yang dibangun di Kota Makassar,” ujarnya.
Munafri yang akrab disapa Appi menegaskan bahwa Festival Cap Go Meh 2026 menjadi representasi kuat bahwa Makassar merupakan kota inklusif.
"Kota ini, kata dia, memberi ruang bagi seluruh elemen masyarakat untuk hidup berdampingan tanpa memandang latar belakang suku, agama, maupun ras.
Ia menekankan bahwa kebebasan dalam menjalankan keyakinan dan budaya harus terus dirawat sebagai bagian dari identitas kota metropolitan di Indonesia Timur tersebut.
“Makassar adalah kota yang sangat toleran, tidak membeda-bedakan dari mana asalnya, apa agamanya, dan apa warna kulitnya. Semua punya ruang yang sama untuk tumbuh dan berkembang,” tuturnya.
Perayaan Cap Go Meh yang bertepatan dengan Ramadan tahun ini dinilai memiliki makna khusus. Kehadiran masyarakat lintas agama, tokoh adat, tokoh pemuda, hingga unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) menunjukkan kuatnya komitmen bersama dalam menjaga persatuan.
Munafri menilai kolaborasi seperti ini harus menjadi budaya sehari-hari, bukan hanya terlihat saat perayaan besar.
“Momentum seperti ini memberikan isyarat bahwa seluruh elemen masyarakat di Makassar bisa tumbuh bersama, membangun bersama, dan berkolaborasi dalam suasana saling menghormati,” katanya.
Selain aspek sosial dan budaya, Munafri juga menyoroti dampak ekonomi dari penyelenggaraan Festival Cap Go Meh 2026. Ia menyebut kegiatan tersebut turut memberikan ruang partisipasi bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Stan-stan UMKM yang hadir di sekitar lokasi acara, menurutnya, menjadi bagian penting dalam menciptakan perputaran ekonomi masyarakat.
“Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada masyarakat, khususnya pelaku UMKM, untuk berpartisipasi. Setiap penyelenggaraan acara seperti ini tentu menciptakan perputaran ekonomi,” ungkapnya.
Menurut Munafri, kolaborasi antara kegiatan budaya, keagamaan, dan pemberdayaan ekonomi lokal harus terus diperkuat sebagai strategi pembangunan kota yang berkelanjutan.
Mengakhiri sambutannya, Munafri berharap nilai-nilai kebersamaan yang tercermin dalam Festival Cap Go Meh Makassar 2026 tidak berhenti pada seremoni tahunan semata. Ia ingin semangat toleransi dan moderasi terus hidup dalam keseharian masyarakat.
“Atas nama Pemerintah Kota Makassar, saya mengucapkan selamat atas dibukanya Festival Cap Go Meh Makassar 2026. Semoga membawa berkah dan semakin memperkuat persaudaraan kita,” tutupnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri tokoh lintas agama, perwakilan Kementerian Agama wilayah Sulawesi Selatan, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), tokoh pemuda, Forkopimda, serta jajaran SKPD pendamping.
(Red)



