Bona Fide (18): The Multiplier Effect -->
  • Jelajahi

    Copyright © kabartujuhsatu.news
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Daftar Blog Saya

    Bona Fide (18): The Multiplier Effect

    Kabartujuhsatu
    Sabtu, 07 Maret 2026, Maret 07, 2026 WIB Last Updated 2026-03-08T03:08:38Z
    masukkan script iklan disini

    Oleh :

    Hamdan Juhannis

    Rektor UIN Alauddin


    Saya tertarik pada ulasan salah satu penceramah di kampus saya saat  kultum duhur. Ustadnya mengulas tentang esensi sedekah. Dia memang dikenal sebagai salah satu penceramah kaliber dari ratusan penceramah yang ada di kampus saya. Saat mengulas topik ceramahnya, dia menceritakan sebuah kasus menarik yang dalam istilah ekonomi, memiliki  "multiplier effect" (effect berganda). Ulasannya seperti di bawah ini.


    Seorang jamaah menyimak ceramah seorang ustad tentang keutamaan sedekah. Ustad itu meyakinkan bahwa bila seseorang bersedakah, maka yakinlah harta yang disedekahkan akan dilipatgandakan. Ustad itu meyakinkan jamaah bahwa itu adalah janji Allah. Ustad itu mengutip ayat yang bebicara pengandaian sedekah ibarat satu benih yang menghasilkan tujuh tangkai, dan setiap tangkai menghasilkan seratus tangkai. Jadinya 700 kali lipat. 


    Setelah ceramah, anggota jamaah itu termenung dan sangat yakin dengan janji Allah pasti akan dipenuhiNya. Dia mengaitkan situasinya saat ini, bahwa dia ingin merenovasi rumahnya yang membutuhkan biaya 300 juta. 


    Sementara dia hanya memiliki 75 juta. Jangankan tujuh ratus kali, tujuh kali lipat saja sudah lebih dari cukup untuk merenovasi rumahnya. Singkatnya, dia putuskan sedekahkan uangnya kepada yang membutuhkan sebanyak 75 juta itu. 


    Tidak lama setelah anggota jamaah itu bersedekah, rumahnya terbakar habis, ludes. Dia sangat bersedih dan mendatangi Ustad untuk menyampaikan protes. Bahwa yang dialami bukan berlipat ganda hartanya, tetapi rumahnya justeru terbakar habis. Lalu Ustadnya menimpali dan menyabarkannya bahwa pemenuhan janji Allah bukan sesuai dengan skenario dirinya, atau keinginan manusia, tetapi meyakini bahwa Allah punya skenario sendiri. 


    Dengan penuh kesedihan, dia pergi menyewa kamar kos bersama keluarganya. Untuk bertahan hidup, dia membuka usaha jual nasi dan ayam penyet. Tidak berselang lama, jualannya berkembang, dan dia terus membuka cabang, dan saat ini sudah lebih dari 35 cabang yang didirikan. Menurut Ustad penceramah, usahanya sudah sampai merambah ke Malaysia. 


    Ustad pernah menanyakan penghasilannya, satu cabang minimal keuntungannya 500 ribu perhari. Jadi perhari rata-rata dia mendapatkan 17 jutaan (500 ribux35 hari), dan perbulan bisa meraup keuntungan sebanyak 500an juta, jauh melebihi ekspektasinya ketika dia memutuskan menyedekahkan uangnya sebanyak 75 juta. 


    Dari  contoh ini, Ustad penceramah memastikan bahwa jangan pernah ragu dengan janji Allah, bahwa Allah akan memenuhi dengan cara yang tidak pernah disangka-sangka atau dari kalkulasi manusia. Jadi ternyata sedekah itu adalah perilaku ekonomi yang bisa melahirkan efek berganda yang tak terkira, mulai dari membuka lapangan kerja, sampai pada meningkatnya kesejahteraan banyak orang, khususnya pemicu utamanya.


    Pada akhir kultumnya, Ustad menyampaikan pertanyaan menggelitik bahwa apakah bersedekah dengan mengharapkan pamrih kepada Allah itu dikategorkan ikhlas. Ustad membuat pertanyaan analogis, bahwa apakah kita shalat karena ingin masuk surga atau takut dimasukkan ke dalam nerakanya Allah. Ustad mengunci bahwa itu dikategorikan ikhlas selama pamrihnya kepada Allah, bukan ke yang lain. Jadi ngomong-ngomong, berapa mau disedekahkan ke saya ini?

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini