Wisuda 116 UIN Alauddin Makassar, IPK 4,00 hingga Kisah Haru di Balik Prestasi 3 Wisudawan Terbaik -->
  • Jelajahi

    Copyright © kabartujuhsatu.news
    Best Viral Premium Blogger Templates

     


    Daftar Blog Saya

    Wisuda 116 UIN Alauddin Makassar, IPK 4,00 hingga Kisah Haru di Balik Prestasi 3 Wisudawan Terbaik

    Kabartujuhsatu
    Kamis, 12 Februari 2026, Februari 12, 2026 WIB Last Updated 2026-02-19T08:05:44Z
    masukkan script iklan disini


    Makassar, Kabartujuhsatu.news, Wisuda Angkatan 116 UIN Alauddin Makassar yang digelar pada Kamis, 12 Februari 2026 menjadi momentum istimewa bagi tiga lulusan terbaik universitas.


    Ketangguhan menghadapi ujian hidup, konsistensi akademik, dan disiplin belajar mengantarkan mereka meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) nyaris sempurna.


    Tiga nama yang dinobatkan sebagai wisudawan terbaik universitas adalah Sitti Nurannisa Arman (Terbaik I), Nur Islah Kurnila, S.Pd. (Terbaik II), dan Muhammad Fajar Alamsyah (Terbaik III).


    Ketiganya tampil sebagai representasi mahasiswa unggul dengan latar belakang perjuangan yang berbeda namun memiliki benang merah yang sama: ketekunan.



    IPK 4,00 dalam 3 Tahun 4 Bulan: Kisah Sitti Nurannisa Arman. 


    Predikat Wisudawan Terbaik I diraih oleh Sitti Nurannisa Arman dari Jurusan Hukum Keluarga Islam. Mahasiswi asal Bombana ini mencatatkan IPK sempurna 4,00 dan menyelesaikan studi dalam waktu 3 tahun 4 bulan 8 hari.


    Capaian tersebut bukan diraih secara instan. Nisa sapaan akrabnya mengaku konsistensi adalah kunci utama keberhasilannya.


    Ia menerapkan metode belajar dengan membuat rangkuman materi setiap selesai perkuliahan untuk memastikan pemahaman mendalam terhadap setiap topik.


    “Alhamdulillah, rasanya seperti menuai apa yang telah ditanam. Semua proses panjang, perjuangan, pengorbanan, serta ketekunan selama kuliah akhirnya terbayar,” ungkapnya penuh syukur.


    Selain disiplin akademik, Nisa juga mendapat dukungan beasiswa “Berani Berprestasi” dari Pemerintah Daerah Bombana. Dukungan tersebut membantunya fokus pada studi tanpa harus terbebani persoalan finansial.


    Ke depan, Nisa berencana mencari pengalaman kerja terlebih dahulu sebelum melanjutkan studi magister (S2).


    Ia ingin membantu perekonomian keluarga sebelum kembali melanjutkan pendidikan melalui jalur beasiswa.


    Konsistensi Nyaris Tanpa Cela: IPK 3,99 Nur Islah Kurnila


    Wisudawan Terbaik II diraih oleh Nur Islah Kurnila, S.Pd., dari Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Lulusan asal Bulukumba ini membukukan IPK 3,99 dengan predikat cumlaude.


    Sepanjang masa studi, Islah dikenal sebagai mahasiswa yang konsisten mempertahankan nilai akademik tinggi. Tidak hanya unggul dalam teori, ia juga aktif dalam berbagai kegiatan akademik yang menunjang kompetensi keguruan.


    IPK 3,99 menjadi bukti bahwa stabilitas performa akademik dari semester ke semester merupakan fondasi utama untuk mencapai prestasi tertinggi. Baginya, menjaga ritme belajar jauh lebih penting daripada hanya mengejar nilai sesaat.



    Ujian Berat dan Keteguhan Hati: Perjuangan Muhammad Fajar Alamsyah. 


    Sementara itu, Wisudawan Terbaik III diraih oleh Muhammad Fajar Alamsyah dari Jurusan Manajemen Dakwah dengan IPK 3,97. Ia menyelesaikan studi dalam 3 tahun 3 bulan 24 hari.


    Di balik prestasinya, tersimpan kisah duka mendalam. Sang ayah wafat tepat sehari sebelum keberangkatannya menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Lombok Tengah. Fajar sempat menunda keberangkatan selama tujuh hari untuk masa berkabung.


    Namun setelah itu, ia memutuskan tetap berangkat mengabdi.


    “Walaupun sempat menunda karena ayah meninggal, itu tidak menghalangi saya untuk tetap mengabdi dan bermakna bagi masyarakat,” tuturnya.


    Fajar dikenal aktif sebagai ketua tingkat, anggota Paduan Suara Mahasiswa, serta relawan di sekolah mimpi. Di tengah padatnya aktivitas organisasi, ia memanfaatkan waktu tengah malam atau menjelang subuh untuk belajar.


    Keteguhan mental dan manajemen waktu yang disiplin menjadi kunci keberhasilannya.


    Ketiganya sepakat bahwa kesuksesan bukan hanya tentang kecerdasan intelektual, melainkan juga ketahanan mental dan kemampuan bekerja sama.


    Fajar menekankan pentingnya kerendahan hati dan kolaborasi dalam proses akademik.


    “Jangan pernah pelit ilmu dan selalu tolong-menolong,” pesannya.


    Sementara Nisa mengingatkan pentingnya menjaga semangat hingga garis akhir.


    “Tetaplah semangat dan selesaikan apa yang menjadi tanggung jawabmu. Ingatlah ada orang tua dan keluarga yang menunggu dengan penuh harapan. Nikmati prosesnya, karena momen ini hanya sekali dan akan menjadi kenangan berharga,” ujarnya.


    Kini, Fajar bertekad melanjutkan studi S2 dan bercita-cita menjadi dosen. Sementara Nisa menyiapkan langkah strategis menuju jenjang magister melalui jalur beasiswa.


    (Red) 

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini