Polres Soppeng menegaskan komitmen profesionalisme dan integritas personel melalui pengarahan Kapolres kepada Sat Lantas, Reskrim, Intelkam, dan Narkoba guna menjaga kepercayaan publik terhadap Polri.
Soppeng, Sulawesi Selatan, Kabartujuhsatu.news, Pagi itu, suasana di Aula Tantya Sudhirajati Mapolres Soppeng terasa lebih hening dari biasanya. Deretan kursi terisi rapi oleh personel Sat Lantas, Sat Reskrim, Sat Intelkam, dan Sat Narkoba.
Seragam cokelat Satlantas dan seragam harian satuan lainnya yang dikenakan bukan sekadar simbol kewenangan, tetapi juga amanah besar yang harus dijaga.
Tepat pukul 09.00 WITA, Rabu (25/2/2026), Kapolres Soppeng AKBP Aditya Pradana, S.I.K., M.I.K., memasuki ruangan didampingi Wakapolres Kompol Sudarmin.
Pengarahan yang digelar bukan sekadar agenda rutin, melainkan penguatan komitmen moral bagi personel yang setiap hari bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Di tengah dinamika tugas kepolisian yang semakin kompleks, Kapolres mengingatkan bahwa profesionalisme dan integritas bukan hanya tuntutan organisasi, tetapi juga kebutuhan masyarakat yang mendambakan pelayanan yang adil dan transparan.
Dalam arahannya, Kapolres menekankan bahwa Budaya Polri harus dipahami sebagai pedoman hidup dalam bertugas. Nilai-nilai Pancasila, Tri Brata, dan Catur Prasetya bukan sekadar teks yang dihafalkan, tetapi prinsip yang harus diimplementasikan dalam setiap tindakan.
“Budaya Polri harus kita pahami bukan sekadar slogan, tetapi benar-benar menjadi pedoman dalam bertugas. Disiplin, tanggung jawab, integritas, dan profesionalisme itu harus melekat dalam diri setiap personel,” tegasnya.
Pernyataan itu seolah menjadi pengingat bahwa di balik setiap keputusan dan tindakan aparat kepolisian, ada kepercayaan publik yang dipertaruhkan. Satu kesalahan kecil dapat mencoreng nama baik institusi secara keseluruhan.
Personel dari Sat Lantas, misalnya, setiap hari berhadapan dengan pengguna jalan dengan berbagai karakter.
Sementara Sat Reskrim dan Sat Narkoba bergulat dengan kasus-kasus yang menuntut ketelitian dan integritas tinggi.
Di sisi lain, Sat Intelkam menjalankan fungsi deteksi dini yang membutuhkan profesionalisme tanpa kompromi.
Kapolres menyadari bahwa tekanan tugas di lapangan tidaklah ringan. Namun justru di situlah pentingnya karakter dan pengendalian diri.
Ia mengingatkan bahwa setiap anggota harus mampu menjadi teladan, baik di lingkungan kerja maupun di tengah masyarakat. Disiplin dan tanggung jawab bukan hanya kewajiban formal, melainkan fondasi dalam membangun citra kepolisian yang dipercaya.
Dalam kesempatan tersebut, Kapolres juga menegaskan pentingnya pengawasan dan pengendalian (waskat) secara konsisten. Fungsi pengawasan internal dinilai sebagai instrumen penting dalam menjaga integritas institusi.
“Pengawasan internal adalah kunci untuk menjaga integritas institusi dan kepercayaan publik. Semua personel harus memahami bahwa setiap tindakan akan dicatat dan dievaluasi,” ujarnya.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya preventif untuk mencegah pelanggaran sekaligus memperkuat budaya kerja yang transparan dan akuntabel.
Bagi Polres Soppeng, menjaga marwah institusi bukan sekadar tanggung jawab pimpinan, tetapi kewajiban kolektif seluruh personel. Setiap anggota memegang peran penting dalam membangun wajah Polri di mata masyarakat.
Pengarahan tersebut menjadi refleksi bahwa reformasi kultural di tubuh kepolisian tidak cukup hanya dengan aturan, tetapi harus dimulai dari kesadaran individu.
Dengan mengedepankan profesionalisme dan integritas, Polres Soppeng berharap pelayanan kepada masyarakat semakin optimal dan kepercayaan publik terhadap Polri terus menguat.
Di akhir arahannya, Kapolres mengajak seluruh personel untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan publik, menjaga nama baik institusi, serta memastikan setiap tindakan selaras dengan nilai luhur Polri.
Di balik seragam dan pangkat yang dikenakan, ada tanggung jawab besar yang harus dijaga, bukan hanya kepada institusi, tetapi juga kepada masyarakat yang dilayani.
(Red)



