Madina, Kabartujuhsatu.news, Pilkada Mandailing Natal (Madina) 2029 memang masih jauh. Namun, suhu politik di daerah itu perlahan mulai menunjukkan tanda-tanda peningkatan. Sejumlah nama mulai kembali disebut-sebut, dan salah satu yang mencuri perhatian adalah Safaruddin Haji alias Akong. Selasa (15/9/2026).
Nama Akong bukan pendatang baru dalam percaturan politik Madina. Ia pernah tampil sebagai calon Bupati Madina pada Pilkada 2015 dengan membawa slogan “Bupati Rakyat”.
Kini, setelah hampir satu dekade berlalu, nama tersebut kembali muncul dalam percakapan publik.
Momentum syukuran Hari Lahir ke-51 Safaruddin Haji di Resto Rumah Daun, Panyabungan, baru-baru ini, menjadi salah satu pemicu menguatnya kembali pembicaraan tersebut.
Acara yang sejatinya merupakan syukuran itu turut dihadiri puluhan mantan tim sukses Pilkada 2015 dan sejumlah pendukung yang tergabung dalam tim “Ulang Ra Rundut Be”.
Pertemuan tersebut kemudian memunculkan pertanyaan di tengah publik: sekadar reuni dan silaturahmi, atau mulai menjadi titik awal pengaktifan kembali jejaring politik Akong?
Safaruddin Haji juga belum menyatakan secara terbuka bahwa dirinya akan maju kembali sebagai calon Bupati Madina pada 2029. Begitu pula belum ada kepastian mengenai partai politik yang akan menjadi kendaraan politiknya.
Namun, kemunculan kembali orang-orang yang pernah berada di lingkaran perjuangannya pada 2015 membuat nama Akong kembali memperoleh ruang dalam percakapan politik lokal.
Safaruddin Haji merupakan putra almarhum pengusaha H. Ismail Hakim Lubis atau yang dikenal dengan sebutan Oji Atas.
Dalam perjalanan politiknya, Akong dikenal sebagai figur yang relatif cair dalam berinteraksi dengan berbagai kelompok masyarakat. Jejaringnya disebut tidak hanya berada di kalangan politik, tetapi juga bersentuhan dengan aktivis, insan pers, kalangan pesantren dan masyarakat akar rumput.
Karakter komunikasi yang terbuka dan kedekatan dengan berbagai lapisan masyarakat menjadi salah satu alasan mengapa namanya masih bertahan dalam ingatan politik sebagian masyarakat Madina.
Kini, munculnya kembali sejumlah mantan pendukung lama membuat spekulasi tentang arah politik Akong semakin terbuka.
Jika pertemuan tersebut berhenti sebatas silaturahmi, maka persoalan selesai.
Namun, jika berkembang menjadi konsolidasi yang lebih terstruktur, peta politik Madina menuju 2029 tentu akan semakin menarik untuk dicermati.
Sebab, politik tidak hanya berbicara soal deklarasi. Jaringan, komunikasi, basis sosial dan kemampuan membangun kembali mesin politik juga menjadi bagian penting dalam perjalanan menuju sebuah kontestasi.
Slogan “Bupati Rakyat” yang pernah digunakan Akong pada Pilkada 2015 juga kembali mendapat perhatian.
Slogan tersebut menjadi bagian dari identitas politik Akong ketika pertama kali tampil dalam kontestasi Pilkada Madina.
Kini, ketika namanya kembali diperbincangkan, publik pun mulai menghubungkan kembali slogan tersebut dengan kemungkinan arah politiknya ke depan.
Tetapi sekali lagi, semua itu masih berada dalam wilayah spekulasi politik.
Belum ada deklarasi. Belum ada kepastian kendaraan partai. Belum ada keputusan resmi dari Safaruddin Haji mengenai Pilkada 2029.
Pilkada Madina 2029 masih panjang. Konfigurasi politik dapat berubah berkali-kali sebelum tahapan resmi dimulai.
Figur baru masih mungkin bermunculan. Tokoh lama bisa kembali tampil. Koalisi partai dapat berubah. Bahkan nama-nama yang hari ini ramai dibicarakan belum tentu semuanya berujung pada pencalonan.
Namun, satu hal mulai terlihat.
Nama “Akong” kembali mengkristal dalam percakapan politik Madina.
Jika jejaring lama benar-benar kembali bergerak dan komunikasi politik terus berkembang, maka kemunculan Safaruddin Haji bukan lagi sekadar nostalgia Pilkada 2015, tetapi menjadi bagian dari dinamika awal menuju pertarungan politik 2029.
Panggungnya memang belum dibuka.
Tetapi percakapan politiknya sudah mulai terdengar.
Dan nama “Akong” kembali masuk dalam radar bursa Cabup Madina.
(Magrifatulloh)
