Anggaran Terbatas, Kreativitas Tak Terbatas, Taman Literasi SDN 210 Sanrangeng Tembus 6 Besar Soppeng

Anggaran Terbatas, Kreativitas Tak Terbatas, Taman Literasi SDN 210 Sanrangeng Tembus 6 Besar Soppeng


Soppeng, Kabartujuhsatu.news, Keterbatasan anggaran ternyata bukan alasan untuk berhenti berinovasi. SD Negeri 210 Sanrangeng, Kecamatan Liliriaja, Kabupaten Soppeng, justru membuktikan bahwa kreativitas pendidikan bisa tumbuh dari ruang sederhana dan semangat gotong royong.

Di tengah keterbatasan fasilitas dan anggaran, keluarga besar SDN 210 Sanrangeng menyulap lingkungan sekolah menjadi ruang belajar yang hidup melalui Taman Literasi dan Numerasi.

Bukan taman yang dibangun dengan biaya besar, melainkan hasil kolaborasi guru, tenaga kependidikan serta orang tua/wali murid yang menyumbangkan tenaga, pikiran dan kemampuan masing-masing.

Salah satu ruang yang dimanfaatkan adalah lorong di antara bangunan kelas. Lorong tersebut disulap menjadi Lorong Literasi dan Numerasi yang dilengkapi berbagai media pembelajaran.

Ruang sederhana itu kemudian tidak hanya menjadi tempat membaca. Peserta didik dapat belajar mengenal abjad dan Aksara Lontara, bermain numerasi, melakukan aktivitas pengukuran hingga memainkan permainan tradisional Kadendeng yang dikolaborasikan dengan pembelajaran PJOK.

Koordinator Taman Literasi dan Numerasi SDN 210 Sanrangeng, Aswan, mengatakan, keberadaan taman tersebut berangkat dari satu persoalan sederhana: keterbatasan anggaran tidak boleh mematikan kreativitas sekolah.

“Kami tidak memiliki anggaran yang besar untuk membangun taman ini. Tetapi kami memiliki kebersamaan. Guru, tenaga kependidikan, dan orang tua saling membantu sesuai kemampuan masing-masing. Dari keterbatasan itulah kami mencoba berkreasi dan memanfaatkan apa yang kami miliki,” ujar Aswan. Senin (7/9/2026).

Menurutnya, taman literasi dan numerasi tersebut tidak dibuat semata-mata untuk mempercantik lingkungan sekolah, apalagi hanya untuk kepentingan penilaian.

Taman itu dirancang agar benar-benar menjadi bagian dari proses pembelajaran siswa.

“Kami ingin anak-anak merasakan bahwa belajar tidak harus selalu di dalam kelas. Membaca, berhitung, bermain, berdiskusi, dan berkarya bisa dilakukan melalui lingkungan sekolah,” tambahnya.

Semangat tersebut mendapat dukungan dari Kepala SDN 210 Sanrangeng, Hj. Muliyati. Ia mengapresiasi keterlibatan seluruh warga sekolah dan orang tua dalam mewujudkan taman tersebut.

“Ini adalah hasil kerja bersama. Saya sangat mengapresiasi guru, tenaga kependidikan dan orang tua yang dengan sukarela memberikan waktu, tenaga, dan dukungannya. Dengan keterbatasan yang ada, kita tetap bisa menghadirkan sesuatu yang bermanfaat bagi anak-anak,” ungkap Hj. Muliyati.

Kerja keras itu pun mulai membuahkan hasil.

SDN 210 Sanrangeng berhasil menembus enam besar penilaian Taman Literasi dan Numerasi tingkat Kabupaten Soppeng.

Capaian tersebut semakin bermakna setelah tim penilai dari Dinas Pendidikan Kabupaten Soppeng turun langsung ke sekolah untuk melihat kondisi sekaligus pemanfaatan taman.

Bagi SDN 210 Sanrangeng, masuk enam besar bukan sekadar soal mengejar predikat juara. Ada pesan yang jauh lebih penting: sekolah dengan anggaran terbatas pun tetap bisa melahirkan inovasi jika memiliki kemauan dan kebersamaan.

Lorong yang sebelumnya hanya menjadi jalur penghubung antarkelas kini berubah menjadi ruang belajar. Permainan tradisional menjadi media pembelajaran. Lingkungan sekolah menjadi laboratorium sederhana bagi peserta didik.

Dan dari sana, SDN 210 Sanrangeng menunjukkan bahwa kualitas pendidikan tidak selalu ditentukan oleh seberapa besar anggaran yang tersedia, tetapi juga oleh seberapa kreatif sekolah memanfaatkan apa yang dimilikinya.

Anggaran boleh terbatas. Fasilitas boleh sederhana. Tetapi kreativitas dan semangat gotong royong tidak boleh ikut terbatas.

(Red)

Lebih baru Lebih lama
Premium By Raushan Design With Shroff Templates