𝗣𝗮𝘀𝗵𝗮 𝗨𝗻𝗴𝘂, 𝗣𝗶𝗹𝗴𝘂𝗯 𝗦𝘂𝗹𝘀𝗲𝗹 𝗱𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗱𝗲𝗿𝗵𝗮𝗻𝗮: 𝗦𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗞𝗲𝗻𝗮𝗹 𝗦𝘂𝗹𝘀𝗲𝗹?

𝗣𝗮𝘀𝗵𝗮 𝗨𝗻𝗴𝘂, 𝗣𝗶𝗹𝗴𝘂𝗯 𝗦𝘂𝗹𝘀𝗲𝗹 𝗱𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗱𝗲𝗿𝗵𝗮𝗻𝗮: 𝗦𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗞𝗲𝗻𝗮𝗹 𝗦𝘂𝗹𝘀𝗲𝗹?


Isu politik Sulsel tiba-tiba punya nada baru. PAN Sulsel melempar nama Sigit Purnomo Syamsuddin Said alias Pasha Ungu sebagai salah satu kandidat calon Gubernur Sulsel periode 2031–2036.

Ini bukan sekadar wacana biasa. Sebab kalau selama ini Pasha dikenal lewat panggung musik dengan “Demi Waktu”, sekarang mungkin waktunya memang mulai bicara tentang politik.

Pasha memang bukan orang asing dengan Sulawesi. Lahir di Donggala, Sulawesi Tengah, ia memiliki darah Bugis dari ayahnya, Syamsuddin Said dan ibunya, Andi Bumbeng. Jadi secara darah, Pasha punya tiket masuk ke Sulsel. Tinggal satu persoalan: apakah masyarakat Sulsel juga mau membukakan pintunya?

Di sinilah tantangannya.

Popularitas Pasha jelas bukan kaleng-kaleng. Nama Pasha Ungu sudah punya penggemar lintas generasi. Tetapi Pilgub bukan konser musik. Di konser, cukup satu lagu “Demi Waktu” penonton bisa ikut bernyanyi. Di Pilgub, yang diperlukan bukan hanya suara penonton, tetapi suara pemilih.

Dan Pasha harus membuktikan dirinya di Sulsel.

Sebab calon yang mungkin muncul bukan nama-nama ringan. Ada Ilham Arief Sirajuddin, Munafri Arifuddin, Andi Amar Sulaiman, Andi Iwan Aras, Fatmawati Rusdi dan sejumlah nama lain. Mereka punya jaringan, pengalaman, basis politik dan rekam jejak yang sudah lebih lama berakar di Sulsel.

Pasha punya modal berbeda: popularitas dan kemampuan komunikasi publik.

Tetapi popularitas adalah pintu masuk, bukan tiket kemenangan.

Kalau PAN benar-benar serius mengusung Pasha, jangan hanya melempar namanya ke publik lalu menunggu publik heboh. Pasha harus lebih sering hadir di Sulsel. Datang bukan sekadar menghadiri acara, tetapi membangun jaringan, menyerap aspirasi, turun ke masyarakat dan memperlihatkan bahwa ia bukan hanya tahu lirik lagu “Cinta Dalam Hati”, tetapi juga tahu denyut politik dan persoalan masyarakat Sulsel.

Bahkan, kalau PAN ingin membuat eksperimen politik yang lebih berani, ada satu langkah yang cukup menarik: mendapuk Pasha sebagai Ketua PAN Sulsel, yang saat ini lowong.

Kalau itu terjadi, panggungnya lengkap.

Pasha tidak lagi sekadar artis yang ingin menjadi gubernur, tetapi menjadi politisi yang sedang membangun rumah politiknya sendiri di Sulsel.

Tentu saja, politik Sulsel bukan panggung Ungu. Di sini tidak ada konser yang selesai setelah dua jam. Tepuk tangan bisa datang hari ini, tetapi besok bisa berubah menjadi pertanyaan: “Mana buktinya?”

Maka, kalau Pasha memang serius, sekaranglah waktunya membuktikan bahwa ia bukan sekadar Pasha Ungu yang terkenal, tetapi Pasha yang punya warna untuk Sulsel.

Karena dalam politik, yang paling berbahaya bukan calon yang kurang terkenal.

Yang paling berbahaya adalah calon yang terlalu cepat terkenal sebelum sempat dikenal.

(NurmalIdrus) 

Lebih baru Lebih lama
Premium By Raushan Design With Shroff Templates