Pelukis Keturunan Tionghoa di Balik Wajah Resmi Sultan Hasanuddin

Pelukis Keturunan Tionghoa di Balik Wajah Resmi Sultan Hasanuddin


Makassar, Kabartujuhsatu.news,– Tidak banyak yang mengetahui bahwa wajah resmi Sultan Hasanuddin yang selama ini dikenal masyarakat Indonesia yang terpampang di buku pelajaran, monumen, hingga berbagai media edukas, itu merupakan hasil karya seorang pelukis keturunan Tionghoa yang bermukim di Makassar, Tjiang Tjong Tjoan.

Keberadaan lukisan tersebut bermula pada awal 1950-an ketika pemerintah membutuhkan representasi visual Sultan Hasanuddin untuk melengkapi persyaratan administrasi pengusulan gelar Pahlawan Nasional. Karena Sultan Hasanuddin hidup pada abad ke-17, tidak ada foto maupun potret asli yang dapat dijadikan acuan.

Dalam proses itu, dibuatlah sebuah rekonstruksi wajah Sultan Hasanuddin. Berdasarkan berbagai catatan sejarah, sketsa awal disusun dengan mempertimbangkan deskripsi fisik, karakter, busana Kerajaan Gowa, serta masukan dari sejumlah tokoh sejarah dan budayawan. Sketsa tersebut kemudian disempurnakan dan dilukis di atas kanvas oleh Tjiang Tjong Tjoan, yang saat itu bekerja di Jawatan Penerangan Provinsi Sulawesi Selatan.

Lukisan tersebut selanjutnya menjadi representasi resmi Sultan Hasanuddin dan digunakan secara luas dalam berbagai publikasi pemerintah, buku pelajaran, hingga menjadi acuan bagi pembuatan patung dan ilustrasi tokoh yang dijuluki "Ayam Jantan dari Timur" itu.

Sultan Hasanuddin sendiri merupakan Raja Gowa ke-16 yang dikenal karena perlawanannya terhadap VOC Belanda pada abad ke-17. Atas jasa-jasanya dalam mempertahankan kedaulatan Nusantara, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia.

Kisah di balik lahirnya potret resmi Sultan Hasanuddin juga menjadi bukti bahwa pelestarian sejarah Indonesia merupakan hasil kontribusi berbagai kalangan. Tjiang Tjong Tjoan, sebagai seniman keturunan Tionghoa yang menetap di Makassar, meninggalkan warisan penting berupa karya yang hingga kini menjadi wajah paling dikenal dari salah satu pahlawan terbesar Indonesia.

Meski demikian, para sejarawan mengingatkan bahwa lukisan tersebut bukanlah potret autentik yang dibuat semasa Sultan Hasanuddin hidup, melainkan sebuah rekonstruksi artistik berdasarkan data sejarah yang tersedia. Karena tidak ada dokumentasi visual asli dari abad ke-17, lukisan itu dipandang sebagai representasi historis yang kemudian diterima secara resmi sebagai wajah Sultan Hasanuddin.

Dikutip dari berbagai sumber (25/7/2026) 


Lebih baru Lebih lama
Premium By Raushan Design With Shroff Templates