"Orang lebih nyaman dibohongi hal indah daripada disadarkan kenyataan pahit. Makanya manipulasi selalu laku." — Tan Malaka
Di tengah gencarnya berbagai program peningkatan mutu pendidikan, publik terus disuguhi kabar-kabar yang menggambarkan dunia pendidikan sedang bergerak menuju kemajuan besar. Hampir setiap pekan muncul informasi mengenai pelatihan guru, seminar nasional, bimbingan teknis, lokakarya, penghargaan, sertifikasi, hingga berbagai deklarasi inovasi yang diklaim mampu membawa perubahan signifikan bagi kualitas pendidikan.
Foto-foto kegiatan beredar luas di media sosial. Sertifikat dan piagam penghargaan bertambah. Laporan kegiatan tersusun rapi. Berbagai institusi berlomba menunjukkan capaian terbaiknya kepada publik. Di atas kertas, semuanya tampak menjanjikan.
Namun di balik derasnya narasi keberhasilan tersebut, muncul pertanyaan yang semakin sering terdengar dari masyarakat: jika pendidikan benar-benar mengalami kemajuan luar biasa, mengapa kualitas hasilnya masih menjadi keluhan di berbagai daerah?
Pertanyaan itu bukan tanpa alasan. Berbagai survei, evaluasi pembelajaran, hingga pengalaman langsung masyarakat menunjukkan bahwa banyak persoalan mendasar pendidikan belum terselesaikan secara optimal. Kemampuan literasi dan numerasi peserta didik masih menjadi tantangan. Kesenjangan mutu antarwilayah masih terlihat. Bahkan tidak sedikit lulusan yang dinilai belum memiliki kompetensi sesuai kebutuhan zaman.
Fenomena ini memunculkan kegelisahan bahwa pendidikan sedang menghadapi kecenderungan baru, yakni lebih sibuk membangun citra keberhasilan daripada memastikan keberhasilan itu benar-benar terjadi.
Ketika Sertifikat Menjadi Ukuran Prestasi
Dalam beberapa tahun terakhir, budaya administratif di dunia pendidikan tampak semakin menguat. Prestasi sering kali diukur melalui jumlah pelatihan yang diikuti, banyaknya sertifikat yang dimiliki, atau penghargaan yang berhasil diraih.
Di berbagai kesempatan, guru dan tenaga kependidikan didorong mengikuti beragam kegiatan pengembangan diri. Secara prinsip, hal tersebut merupakan langkah positif. Namun persoalan muncul ketika ukuran keberhasilan berhenti pada partisipasi dan dokumen administrasi semata.
Tidak sedikit pihak yang mempertanyakan sejauh mana pelatihan-pelatihan tersebut benar-benar berdampak terhadap kualitas pembelajaran di kelas. Apakah metode mengajar berubah menjadi lebih efektif? Apakah kemampuan peserta didik meningkat secara nyata? Apakah lingkungan belajar menjadi lebih baik?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut sering kali sulit dijawab dengan data yang jelas.
Akibatnya, muncul kesan bahwa sertifikat lebih mudah terlihat dibanding perubahan nyata. Yang tercatat adalah jumlah peserta, bukan kualitas dampak. Yang dilaporkan adalah pelaksanaan kegiatan, bukan hasil yang dirasakan siswa.
Budaya Seremoni yang Kian Menguat
Selain budaya sertifikasi, dunia pendidikan juga dinilai semakin akrab dengan berbagai seremoni penghargaan. Berbagai institusi berlomba memperoleh predikat terbaik, penghargaan inovasi, maupun pengakuan tertentu yang kemudian dipublikasikan secara luas.
Penghargaan tentu bukan sesuatu yang salah. Dalam banyak kasus, penghargaan dapat menjadi bentuk apresiasi atas kerja keras dan inovasi yang dilakukan.
Namun masalah muncul ketika penghargaan lebih diposisikan sebagai tujuan utama dibandingkan sebagai konsekuensi dari kualitas yang memang terbukti.
Tidak sedikit masyarakat yang mulai mempertanyakan relevansi berbagai penghargaan tersebut dengan kondisi nyata pendidikan di lapangan. Ketika sekolah memperoleh banyak penghargaan tetapi kualitas belajar siswa tidak mengalami peningkatan yang berarti, maka publik wajar mempertanyakan makna dari penghargaan itu sendiri.
Di sinilah muncul paradoks yang mengkhawatirkan. Semakin banyak penghargaan dipamerkan, semakin besar pula rasa ingin tahu masyarakat mengenai dampak konkret yang dihasilkan.
Antara Laporan dan Kenyataan
Salah satu kritik yang sering muncul adalah kecenderungan menjadikan laporan sebagai ukuran utama keberhasilan.
Dalam sistem birokrasi modern, laporan memang memiliki fungsi penting sebagai bentuk pertanggungjawaban. Namun laporan seharusnya menjadi alat untuk menggambarkan realitas, bukan menggantikan realitas itu sendiri.
Ketika perhatian terlalu besar diberikan pada penyusunan dokumen, pengisian instrumen, dan pemenuhan indikator administratif, maka fokus terhadap substansi pendidikan berpotensi berkurang.
Akibatnya, energi yang seharusnya digunakan untuk memperbaiki proses belajar mengajar justru habis untuk memenuhi berbagai kebutuhan pelaporan.
Fenomena ini kemudian melahirkan apa yang oleh sebagian pengamat disebut sebagai “budaya kemasan”, yaitu kondisi ketika sesuatu terlihat sangat baik di atas kertas tetapi belum tentu memiliki dampak yang sama baiknya dalam praktik.
Masyarakat Membutuhkan Bukti, Bukan Klaim
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan tidak terletak pada banyaknya kegiatan yang diselenggarakan atau jumlah penghargaan yang diraih.
Masyarakat lebih membutuhkan bukti nyata bahwa peserta didik memiliki kemampuan yang lebih baik, guru mampu mengajar dengan lebih efektif, dan sekolah benar-benar menjadi tempat tumbuhnya kualitas sumber daya manusia.
Publik mungkin tidak akan membaca seluruh laporan kegiatan yang disusun dengan rapi. Mereka juga tidak selalu tertarik melihat deretan foto seremoni yang dipublikasikan. Namun masyarakat akan segera merasakan apabila kualitas pendidikan benar-benar meningkat.
Hasil pendidikan yang baik akan tampak dalam kemampuan berpikir siswa, kualitas karakter yang terbentuk, serta kesiapan generasi muda menghadapi tantangan masa depan.
Saatnya Kembali pada Substansi
Dunia pendidikan membutuhkan keberanian untuk melakukan refleksi. Keberhasilan sejati tidak selalu harus ditunjukkan melalui publikasi yang masif atau penghargaan yang berlimpah. Keberhasilan yang sesungguhnya justru terlihat ketika perubahan nyata terjadi di ruang-ruang kelas dan dirasakan langsung oleh peserta didik.
Jika pendidikan terus terjebak dalam perlombaan pencitraan, maka yang lahir bukan budaya mutu, melainkan budaya penampilan. Segala sesuatu tampak mengesankan dari luar, tetapi rapuh ketika diuji melalui hasil yang konkret.
Mungkin inilah pesan yang relevan dari kutipan Tan Malaka di awal tulisan. Ketika narasi keberhasilan lebih sibuk diproduksi daripada keberhasilan itu sendiri, maka yang berkembang bukan kemajuan yang nyata, melainkan ilusi kemajuan.
Dan pendidikan, sebagai fondasi masa depan bangsa, tentu tidak boleh dibangun di atas ilusi.
Penulis : AAT , Senin (15/6/2026).
