Jakarta, Kabartujuhsatu.news, Persidangan dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook kembali menjadi sorotan publik. Namun kali ini, perhatian masyarakat tidak hanya tertuju pada jalannya sidang dan materi perkara yang dibahas di ruang pengadilan. Sebuah momen tak terduga justru mencuri perhatian, pelukan hangat antara Rocky Gerung dan mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim.
Momen singkat itu langsung memicu berbagai reaksi di media sosial. Banyak warganet mempertanyakan makna di balik pertemuan tersebut. Ada yang menganggapnya sebagai bentuk empati antar sahabat, sementara sebagian lainnya menilai kehadiran Rocky memiliki pesan yang lebih besar di tengah proses hukum yang sedang berjalan.
Rocky diketahui hadir langsung untuk mengikuti persidangan kasus pengadaan Chromebook periode 2019–2022 yang belakangan menjadi perhatian nasional.
Rocky menegaskan bahwa kehadirannya bukan untuk memberikan dukungan politik kepada siapa pun.
Menurut Rocky, ia datang untuk melihat bagaimana proses hukum dibangun dari sisi penalaran hukum atau legal reasoning.
Ia mengaku tertarik mengamati apakah fakta-fakta yang disampaikan di persidangan benar-benar dapat dirangkai menjadi alat bukti yang kuat.
Pernyataan Rocky kemudian memancing perhatian setelah ia menyinggung kinerja jaksa dalam membangun konstruksi perkara.
"Saya kira jaksa pintar, tapi dia kelelahan menghubungkan fakta jadi bukti," ujarnya Senin (11/5/2026).
Komentar itu dengan cepat menyebar dan memunculkan diskusi baru di berbagai platform media sosial. Sebagian menilai Rocky sedang menyampaikan kritik akademis terhadap proses hukum. Namun sebagian lain menganggap pernyataan tersebut berpotensi memengaruhi persepsi publik mengenai perkara yang masih berlangsung.
Di sisi lain, kasus Chromebook sendiri sudah lama menjadi bahan perbincangan karena nilai proyek yang sangat besar. Program digitalisasi pendidikan tersebut sebelumnya dirancang sebagai upaya mempercepat transformasi teknologi di dunia pendidikan Indonesia.
Namun dalam proses penyelidikan, muncul dugaan adanya kerugian negara dengan nilai fantastis. Tuduhan tersebut menjadi salah satu alasan perkara ini terus mendapat perhatian publik.
Dalam sidang terbaru, Nadiem juga memberikan penjelasan terkait posisinya dalam proses pengadaan. Ia menyatakan bahwa dirinya tidak secara langsung menentukan spesifikasi teknis perangkat yang dibeli.
Menurutnya, keputusan terkait aspek teknis berada pada tingkat pelaksana dan pejabat terkait di bawah struktur kementerian.
Meski demikian, perdebatan publik tampaknya kini mulai bergeser. Jika sebelumnya fokus utama berada pada dugaan penyimpangan proyek, kini perhatian juga mengarah pada fenomena lain: bagaimana tokoh publik ikut membentuk narasi dan opini selama proses hukum berlangsung.
Muncul pertanyaan yang terus bergulir di ruang publik, apakah komentar para tokoh hanya sebatas pandangan pribadi, atau tanpa disadari dapat memengaruhi cara masyarakat melihat sebuah perkara?
Sementara sidang masih berjalan, satu hal terlihat jelas, kasus ini tidak lagi hanya berbicara soal Chromebook dan angka kerugian negara, tetapi juga tentang pertarungan narasi di ruang publik yang semakin memanas dari hari ke hari.
Publik pun kini menunggu perkembangan berikutnya. Akankah fakta-fakta baru terungkap di persidangan, atau justru kontroversi di luar ruang sidang yang kembali menjadi sorotan utama? Waktu yang akan menjawab.
(Red)
