Soppeng, Kabartujuhsatu.news,— Di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat Kabupaten Soppeng kini semakin banyak mengetahui perkembangan daerah melalui pemberitaan media sosial. Mulai dari persoalan birokrasi, pendidikan, infrastruktur, pelayanan publik, hingga dinamika politik lokal, hampir semuanya cepat menyebar dan menjadi bahan diskusi masyarakat. Jum'at (29/5/2026).
Fenomena ini memunculkan dorongan kuat dari publik agar para jurnalis tetap menjalankan fungsi kontrol sosial secara aktif, kritis, namun tetap berpegang pada etika dan fakta.
“Sekarang masyarakat Soppeng lebih cepat tahu keadaan daerah lewat media sosial. Karena itu jurnalis jangan takut menjalankan tugasnya. Masyarakat mendukung kerja-kerja pemberitaan yang jujur dan berimbang,” ujar seorang tokoh masyarakat.
Dalam gaya khas diskusi masyarakat Bugis Soppeng, banyak warga mulai menyampaikan bahwa media hari ini bukan sekadar tempat membaca berita, tetapi telah menjadi ruang kontrol sosial rakyat terhadap jalannya pemerintahan.
“Naia wartawané, ajjo melo madeceng-deceng gambarna. Tugasna memang mabbicara iyae rilalenna masyarakat,” celetuk seorang warga di warung kopi.
(Artinya: wartawan jangan hanya mau ambil gambar bagusnya saja. Tugasnya memang menyampaikan apa yang terjadi di tengah masyarakat.)
Masyarakat menilai keberanian jurnalis sangat penting agar berbagai persoalan daerah tidak hanya berhenti menjadi bisik-bisik lorong atau percakapan tertutup.
“Kalau bukan media yang bicara, kadang persoalan hanya jadi cerita di belakang meja. Begitu viral baru banyak yang bergerak,” ujar warga lainnya.
Namun di sisi lain, publik juga mengingatkan agar media tetap mengedepankan prinsip edukatif dan tidak berubah menjadi ruang fitnah atau provokasi yang merusak persatuan masyarakat.
“Media harus tajam, tapi jangan kehilangan adat dan etika. Orang Bugis itu dikenal tegas, tapi tetap punya sipakatau dan sipakalebbi,” kata seorang pemerhati sosial.
Nilai budaya Bugis seperti sipakatau (saling memanusiakan), sipakalebbi (saling menghargai), dan sipakainge (saling mengingatkan) disebut menjadi fondasi penting dalam menjaga iklim informasi yang sehat di Kabupaten Soppeng.
Meski begitu, masyarakat juga berharap jurnalis tidak melemah karena tekanan atau opini tertentu.
“Jangan sampai wartawan takut menulis karena tekanan kekuasaan atau kedekatan. Justru rakyat menunggu keberanian media menyampaikan fakta,” ujar seorang tokoh pemuda.
Di tengah perkembangan media sosial yang begitu cepat, publik Soppeng kini semakin aktif membaca, membandingkan, dan menilai informasi. Karena itu, masyarakat berharap media lokal tetap menjadi garda terdepan dalam menghadirkan informasi yang tajam, mendidik, dan berpihak pada kepentingan publik.
“Ayo jurnalis, laksanakan tugasmu. Rakyat Soppeng mendukung kerja media yang jujur, berani, dan tetap menjunjung etika.
(Red)
