Warkop Jadi Ruang Demokrasi, Supriansa: Tempat Bebas Bertukar Gagasan di Tengah Perbedaan -->
  • Jelajahi

    Copyright © kabartujuhsatu.news
    Best Viral Premium Blogger Templates

     


    Daftar Blog Saya

    Warkop Jadi Ruang Demokrasi, Supriansa: Tempat Bebas Bertukar Gagasan di Tengah Perbedaan

    Kabartujuhsatu
    Sabtu, 21 Maret 2026, Maret 21, 2026 WIB Last Updated 2026-03-22T05:38:31Z
    masukkan script iklan disini


    Soppeng, Kabartujuhsatu.news,– Suasana hangat penuh keakraban terasa dalam pertemuan silaturahmi yang digelar di Warkop Camidu, Jalan Kesatria, Watansoppeng, Minggu (22/3/2026).


    Kegiatan ini menjadi momen berkumpulnya sejumlah tokoh penting daerah dalam rangka mempererat hubungan pasca perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah.


    Dalam suasana santai namun penuh makna tersebut, Dr. Supriansa, SH, MH menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya ruang-ruang informal seperti warung kopi (warkop) sebagai wadah diskusi yang sehat di tengah keberagaman pandangan.


    “Enaknya di warkop itu karena ada kebebasan untuk berpendapat dari sekian banyaknya perbedaan,” ujar Supriansa di hadapan para peserta yang hadir.


    Menurut anggota Komisi III DPR RI periode 2019–2024 itu, warkop tidak sekadar menjadi tempat berkumpul, tetapi juga berfungsi sebagai ruang demokrasi yang mampu menampung berbagai ide, gagasan, hingga kritik konstruktif demi kemajuan bersama.


    Pertemuan tersebut turut dihadiri oleh sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang, baik pemerintahan, politik, akademisi, hingga insan pers. Di antaranya Wakil Bupati Soppeng, Ir. Selle KS Dalle, Ketua Dewan Pendidikan Dr. Nurmal Idrus, SE, MM, Ketua Partai NasDem Soppeng Ade Irawan, kader Partai Golkar Askar Munir, SE serta jurnalis Eraberita.com, H.AM. Zulkarnaen, ST, MT.


    Kehadiran para tokoh ini mencerminkan keberagaman perspektif yang justru memperkaya jalannya diskusi.


    Obrolan yang mengalir santai berkembang ke berbagai isu strategis, mulai dari pembangunan daerah, dinamika politik lokal, hingga persoalan sosial kemasyarakatan.


    Supriansa menyebutkan bahwa tradisi berkumpul di kampung halaman saat hari raya sudah menjadi bagian dari dirinya sejak lama. Sebagai mantan aktivis 1998, ia terbiasa menjadikan momentum seperti ini untuk berdiskusi dan bertukar pikiran.


    Dalam kesempatan tersebut, Supriansa juga menegaskan bahwa warkop memiliki peran penting sebagai ruang inklusif yang terbuka bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang.


    “Di sini semua bisa bicara, semua bisa menyampaikan ide. Dari perbedaan itu justru lahir pemikiran-pemikiran besar yang bisa mendorong kemajuan daerah,” tambahnya.


    Hal senada juga tercermin dari kehadiran tokoh-tokoh yang memiliki rekam jejak panjang di bidangnya masing-masing. Ir. Selle KS Dalle, misalnya, dikenal sebagai mantan anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan sekaligus aktivis era reformasi 1998.


    Sementara itu, Dr. Nurmal Idrus merupakan akademisi di bidang ekonomi yang juga pernah menjabat sebagai Ketua KPU Makassar serta aktif sebagai konsultan politik dan pemerintahan.


    Pengalaman tersebut membuat diskusi semakin berbobot dan menyentuh berbagai aspek strategis.


    Diskusi juga tidak lepas dari dinamika politik lokal. Beberapa tokoh yang hadir memiliki pengalaman panjang dalam dunia organisasi dan politik, seperti Ade Irawan yang dikenal aktif memimpin organisasi kepemudaan serta pernah menjadi Ketua Tim Pemenangan dalam Pilkada yang berhasil mengantarkan pasangan kepala daerah terpilih.


    Selain itu, nama Andi Zulkarnaen juga turut menjadi perhatian dalam perbincangan. Ia memiliki rekam jejak sebagai mantan Sekretaris Partai Golkar Luwu Timur, pernah terlibat dalam tim media dan humas PT Inco, serta aktif di berbagai organisasi di Luwu Timur dan ex direktur PDAM Luti.m.


    Kini, Andi Zulkarnaen berdomisili di Kabupaten Soppeng dan menjabat sebagai Sekretaris Dewan Pendidikan serta anggota organisasi pers Jurnalis Online Indonesia (JOIN) Kabupaten Soppeng.


    Pertemuan ini tidak hanya menjadi ajang nostalgia dan silaturahmi, tetapi juga membuka ruang kolaborasi antar tokoh lintas sektor.


    Dalam suasana santai, diskusi yang terbangun justru lebih cair dan terbuka, memungkinkan lahirnya berbagai gagasan segar.


    Momentum Idul Fitri dimanfaatkan sebagai titik awal untuk memperkuat komunikasi dan sinergi demi pembangunan daerah yang lebih baik ke depan.


    Dengan semangat kebersamaan dan keterbukaan, warkop kembali membuktikan dirinya sebagai ruang sederhana yang memiliki peran besar dalam membangun budaya dialog dan demokrasi di tengah masyarakat.


    (Red)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini