Soppeng, Kabartujuhsatu.news, Taman Wisata Alam Lejja kembali mencatatkan lonjakan signifikan dalam jumlah kunjungan wisatawan pada momentum libur Lebaran tahun ini. Minggu (22/3/2026).
Namun, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, peningkatan ini tidak hanya mencerminkan tingginya minat masyarakat terhadap wisata alam, tetapi juga menjadi indikator transformasi sektor pariwisata menuju era digital yang lebih terintegrasi.
Berdasarkan data real-time yang dihimpun melalui sistem Dashboard Point of Sale (POS) berbasis cloud, jumlah pengunjung yang tercatat hingga pukul 17.00 WITA mencapai 4.334 orang.
Angka tersebut menjadi puncak kunjungan harian selama periode liburan, sekaligus menunjukkan efektivitas sistem pemantauan berbasis teknologi dalam mendukung pengelolaan destinasi wisata modern.
Tidak hanya dari sisi jumlah pengunjung, lonjakan juga terlihat pada pergerakan kendaraan yang masuk ke kawasan wisata.
Tercatat sebanyak 513 unit kendaraan roda dua dan 465 unit kendaraan roda empat terdeteksi melalui sistem sensor otomatis di pintu masuk, yang kini telah dilengkapi teknologi pemindaian digital untuk meningkatkan akurasi dan efisiensi pencatatan.
Manajer Taman Wisata Alam Lejja, Andi Zulqibral Yusari, mengungkapkan bahwa peningkatan kunjungan tahun ini tidak terlepas dari strategi digitalisasi yang mulai diimplementasikan secara bertahap sejak beberapa tahun terakhir.
“Melalui integrasi sistem POS, promosi digital, serta analisis data pengunjung secara real-time, kami dapat memahami pola kunjungan dan meningkatkan kualitas layanan secara lebih presisi,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pemanfaatan platform digital, termasuk media sosial berbasis algoritma rekomendasi, telah membuka peluang baru dalam menjangkau wisatawan dari berbagai daerah, bahkan lintas provinsi.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, daya tarik utama Lejja tetap bertumpu pada keunggulan alamnya.
Pemandian air panas alami yang mengandung mineral, berpadu dengan lanskap pegunungan yang sejuk, menjadi magnet utama bagi wisatawan yang mencari relaksasi sekaligus pengalaman autentik.
Namun kini, pengalaman tersebut diperkuat dengan sentuhan teknologi. Pengunjung dapat mengakses informasi lokasi, kepadatan area, hingga rekomendasi spot terbaik melalui sistem digital yang terintegrasi.
Hal ini menciptakan pengalaman wisata yang tidak hanya nyaman, tetapi juga lebih personal dan efisien.
Jika dibandingkan dengan periode libur Lebaran tahun sebelumnya yang mencatatkan sekitar 6.000 pengunjung selama masa liburan, tren tahun ini menunjukkan potensi peningkatan yang lebih merata dan berkelanjutan.
Dengan adanya sistem pengelolaan berbasis data, pihak pengelola optimistis dapat mengantisipasi lonjakan pengunjung di masa mendatang tanpa mengorbankan kenyamanan maupun kelestarian lingkungan.
Lejja tetap menjadi pilihan utama bagi wisata keluarga, terutama bagi mereka yang ingin menikmati liburan tanpa harus bepergian jauh ke luar daerah.
Akses yang semakin baik, fasilitas yang terus dikembangkan, serta integrasi teknologi menjadikan kawasan ini sebagai contoh bagaimana destinasi lokal mampu beradaptasi dengan tuntutan zaman.
Ke depan, Lejja diproyeksikan tidak hanya sebagai destinasi wisata alam, tetapi juga sebagai model pengembangan ekowisata berbasis teknologi di Sulawesi Selatan.
(Red)






